Dua sisi investasi sosial Perusahaan Rokok Djarum dan HM Sampoerna

Dua sisi investasi sosial Perusahaan Rokok Djarum dan HM Sampoerna

Agung Supriyadi

Pada tahun 2001 sebuah perusahaan rokok asal Amerika Serikat terbesar di dunia, Philip Morris, beriklan dengan cara menonjolkan jumlah dana yang dikeluarkannya untuk kegiatan sosial. Sekilas, kegiatan sosial perusahaan itu nampak terpuji. Akan tetapi,muncul kesan bahwa yang perusahaan itu lakukan memilki maksud tersembunyi karena iklannya kerap muncul di media. Sepertinya, iklan itu dijadikan sarana promosi produk Philip Morris ke masyarakat luas. “Investasi sosial” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan Philip Morris.

Menurut Giddens (1998), investasi sosial adalah investasi pada sumber daya manusia untuk memajukan kesejahteraan agar setiap individu dan kelompok dapat berkontribusi dalam kesejahteraan. Investasi sosial atau corporate social responsibility dapat memiliki dua fungsi yaitu sebagai sarana untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat dan sebagai media promosi yang menjanjikan.

Philip Morris sadar bahwa investasi sosial merupakan hal yang sangat menjanjikan bagi mereka karena keterbatasan ruang promosi bagi perusahaan rokok. Perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia pun menyadari hal ini. Mereka , khususnya dua perusahaan besar di Indonesia yaitu Djarum dan HM Sampoerna, secara gencar mempromosikan investasi sosialnya berharap penjualan produk mereka di Indonesia mengalami peningkatan. Dua perusahaan rokok tersebut tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu bahwa investasi sosial yang mereka lakukan memiliki dua sisi, satu sisi investasi sosial itu menjanjikan bagi mereka, di sisi lain justru merugikan kesehatan masyarakat Indonesia.

Perusahaan-perusahaan rokok terbesar di Indonesia

Indonesia adalah pasar yang menjanjikan bagi produsen rokok. Menurut WHO tahun 2008, terdapat lebih dari 60 juta perokok aktif di Indonesia dengan total konsumen rokok mencapai 141 juta orang. Dengan jumlah yang besar itu, Indonesia menduduki peringkat ketiga di asia setelah Cina dan India dalam hal jumlah perokok serta peringkat keempat di dunia. Selain itu, Indonesia juga merupakan produsen rokok per tahun terbesar kelima di dunia dengan angka mencapai  199 miliar rokok.

Hal tersebut diperparah dengan sikap Pemerintah Indonesia yang tidak atau belum meratifikasi konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang telah diratifikasi di 192 negara di dunia. Jangan lupakan juga tarif cukai rokok di Indonesia yang hanya 37 % membuat harga rokok relatif terjangkau dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lain. Sebagai contoh, harga sebungkus Rokok Marlboro di Indonesia tahun 2007 adalah $ 0.9 bandingkan harganya di Singapura yang  sebesar $ 7.47, di Malaysia sebesar $ 2.18 dan di Thailand $ 1.79.

Fakta-fakta diataslah yang mendorong banyaknya industri rokok yang muncul di Indonesia. Menurut harian pagi padang ekspres tahun 2009, dari banyaknya perusahaan rokok yang muncul di Indonesia terdapat tiga perusahaan rokok besar yang menguasai pasar rokok sebanyak 76 %. Ketiga perusahaan itu ialah Gudang Garam,HM Sampoerna dan Djarum. Tahun 2003, Gudang Garam menempati peringkat pertama (32%), diikuti Djarum (25%) dan HM Sampoerna (19%). Setelah akuisisi Sampoerna oleh Philip Morris pada pertengahan 2005, kuartal pertama tahun 2007 pangsa pasar Sampoerna Phillip Morris menduduki peringkat pertama (24,2%), mengalahkan Gudang Garam (23,6%), dan Djarum (20,4%).

Promosi Rokok

Promosi dalam suatu perusahaan tentunya diperlukan guna mengenalkan produk dari perusahaan itu ke masyarakat  dan meningkatkan angka penjualan produk tersebut. Pada umumnya, promosi dapat  berupa iklan pada media elektronik ataupun non elektronik ataupun kegiatan-kegiatan sosial sebagai sebuah investasi yang dapat mendukung bisnis mereka kelak.

Tak seperti perusahaan-perusahaan lain yang dapat mempromosikan produknya melalui media dan investasi sosial, perusahaan rokok menggantungkan promosi produknya hanya dalam investasi sosial. Hal ini dikarenakan pemerintah melalui desakan dari berbagai praktisi kesehatan telah membuat beberapa peraturan pemerintah dan undang-undang untuk membatasi ruang gerak promosi rokok. Seperti Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2000 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan pasal 18. Pasal ini berisi lima hal: Pertama, iklan rokok dilarang menyarankan atau merangsang orang untuk merokok. Kedua, menggambarkan atau menyarankan bahwa merokok memberikan manfaat bagi kesehatan. Ketiga, memajang orang sedang menghisap rokok. Keempat, mencantumkan nama produk yang bersangkutan adalah rokok (menampilkan batang dan bungkus rokok). Kelima, iklan rokok harus mencantumkan peringatan bahaya merokok bagi kesehatan, yaitu “ Merokok dapat menyebabkan kanker, jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. Jika ada perusahaan rokok yang melanggar aturan tersebut maka akan dikenakan denda sebesar Rp. 100.000.000,00 atau hukuman pidana selama lima tahun seperti tercantum pada pasal 37 undang-undang ini.

Penulis telah memberitahukan sebelumnya bahwa terdapat tiga perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Namun, hanya dua perusahaan rokok yang bergerak secara aktif dalam investasi sosial. Mereka adalah Djarum dan HM Sampoerna.

Investasi Sosial Djarum

Akhir-akhir ini penulis sering melihat iklan-iklan beasiswa dari Djarum di televisi dan di media cetak. Jika bukan karena komitmen penulis sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, pasti penulis akan ikut serta dalam beasiswa tersebut. Betapa tidak, uang yang menggiurkan dan fasilitas lain cukup membuat “iman” mahasiswa manapun tergoda.

Beasiswa Djarum adalah sebuah program beasiswa dan program pengembangan karakter dari Djarum yang didirikan pada tahun 1984. Misi dari kegiatan ini adalah berperan aktif memajukan pendidikan melalui pembudayaan dan pemberdayaan mahasiswa berprestasi tinggi, dalam berbagai pelatihan soft skills untuk membentuk manusia Indonesia yang disiplin, mandiri dan berwawasan masa depan serta menjadi pemimpin yang cakap intelektual, emosional dan spiritual. Beasiswa Djarum telah diterima oleh 5886 orang mahasiswa terpilih dari 71 perguruan tinggi di 23 propinsi. Berikut gambar grafik jumlah mahasiswa penerima Beasiswa Djarum atau disebut Beswan Djarum selama 18 tahun.

Selama 12 bulan dalam satu tahun penuh para Beswan Djarum akan menerima beasiswa dari Djarum. Sebelum 2009, Beasiswa Djarum  berjumlah Rp. 500.000,00 per bulan sementara setelah 2009, Beasiswa Djarum berjumlah Rp. 600.000,00 per bulan. JIka dihitung, berarti mahasiswa mendapatkan dana Rp. 7.200.000,00 per tahun. Dana ini lebih dari cukup untuk mebiayai uang semester (BOP) penulis  dan biaya hidup penulis di Depok selama dua semester.

Selain memberikan uang, Djarum juga memberikan pelatihan-pelatihan soft skill serta berbagai macam kegiatan. Soft skill yang didapatkan Beswan Djarum adalah outbound, leadership training, practical skills dan entrepreneurship. Sedangkan kegiatan yang dapat mereka ikuti adalah Factory Visit ke Pabrik Djarum, Forum Rektor yang mempertemukan rektor perguruan tinggi di seluruh tanah air, Lomba Karya Tulis khusus Beswan Djarum, serta pelatihan jurnalistik.

Djarum juga mendukung kegiatan donor darah yang dilaksanakan Beswan Djarum IPB melalui suatu kegiatan bernama “GLOBE” dengan tema “Give Your Blood To Care People Beside You. Kegiatan ini menghasilkan lebih dari 150 kantong darah dalam kurun waktu kurang dari 6 jam. Melalui acara ini, Djarum melakukan promosi kepada para peserta untk mengikuti Beasiswa Djarum dengan cara memutarkan film selama tentang Beasiswa Djarum serta dialog antara peserta dengan Beswan Djarum dan rombongan dari Djarum.

Tak ketinggalan pula, Djarum memberikan bantuan pendidikan khusus untuk dua institusi pendidikan. Kedua institusi pendidikan itu ialah Universitas Paramadina dan SMA Taruna Magelang. Nilai nominal dari bantuan dan distribusi bantuan pendidikan tersebut diberikan kepada masing-masing institusi.

Investasi Sosial HM Sampoerna

Berbeda dengan Djarum, Sampoerna memiliki sebuah yayasan khusus untuk investasi sosial mereka, khususnya di bidang pendidikan. Yayasan yang berdri tahun 2001 ini bernama Putera Sampoerna Foundation (SF). Selain beasiswa, SF juga memiliki program yang menarik diantaranya yaitu United Schools Program (USP) serta Teacher Education Program.

Beasiswa yang ditawarkan SF terbagi atas beasiswa untuk mahasiswa, siswa SMA, Siswa SMP bahkan Siswa SD. Beasiswa ini telah diberikan kepada 32.000 pelajar yang memilki kemampuan bagus dalam bidang akademik namun tak memiliki ekonomi yang memadai. Para peserta yang tertarik akan beasiswa ini harus menempuh proses seleksi yang ketat.

United School Program adalah suatu proyek antara Sampoerna Foundation, Menteri Pendidikan serta sekolah yang mendukung program ini. Tercatat 17 sekolah dan 5 madarasah dari berbagai macam propinsi telah bergabung dalam USP. Program ini memberikan sekolah yang bersangkutan berbagai macam fasilitas dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah itu. USP telah menorehkan prestasi dengan meningkatkan rangking salah satu sekolalah USP, SMA 4 Denpasar, dari peringkat 41 ke peringkat 8 di level nasional.

Teacher Education Program (TEP) adalah sebuah program 1 tahun intensif yang didesain untuk melengkapi peserta dengan pengetahuan yang dibutuhkan dan skill untuk menjadi seorang guru profesional. Program ini sesuai dengan standar yang dibutuhkan untuk menjadi guru sebuah sekolah nasional atau sekolah bertaraf internasional. Sebanyak 8000 guru telah diberikan latihan di sini.

Selain program-program tersebut, terdapat program yang bernama Sampoerna School of Business Management ITB. Program ini adalah proyek kerjasama antara Sampoerna dan Institut Tekhnologi Bandung. Program ini juga mendapat mitra internasional yang bonafit seperti European Foundation for Management Development (EFMD) dan the Association to Advance Collegiate Schools of Business (AACSB).

SF juga mengadakan program sosial untuk anak remaja. Program ini bertujuan memberikan pendidikan bagi para siswa yang putus sekolah. SF mengajak khalayak ramai untuk berpartisipasi memberikan donasi bersama SF kepada para remaja tersebut.

Cukup Menjanjikan

Kita telah mengetahui bersama bahwa telah banyak yang kedua perusahaan itu lakukan sebagai investasi sosial. Tak hanya kuantitas yang mereka telah buat, tetapi juga kualitas dengan adanya prestasi-prestasi pada sasaran program yang mereka buat. Prospek ke depan dengan adanya investasi sosial ini pun cukup menjanjikan.

Sebagai suatu sarana promosi, investasi sosial dapat menjadikan perusahaan lebih mudah diterima dalam masyarakat. Rokok, sebagai sebuah benda yang berbahaya bagi kesehatan, tidak akan mungkin dapat terjual tanpa adanya investasi ini. Hal ini dikarenakan perusahaan rokok dapat membuat pencitraan sebagai “malaikat penolong sosial” yang mengalihkan perhatian kebanyakan masyarakat dari sisi lain perusahaan rokok sebagai “ pencetak racun 10 cm “ yang jelas-jelas sangat berbahaya bagi kesehatan.

Investasi sosial juga merupakan satu faktor yang meningkatkan angka keuntungan kedua perusahaan rokok itu. Tercatat laba bersih HM Sampoerna meningkat dari 1,57 trilyun pada tahun 2005, tahun yang sama ketika HM Sampoerna membuka program USP, menjadi 3,18 trilyun pada kuarta ketiga tahun 2008. Hal yang sama juga terjadi pada Djarum yang mencetak laba sebesar 2,08 trilyun pada tahun 2008, jumlah ini sama besar dengan omzet semua perusahaan rekaman di Indonesia dikali dua.

Cukup Merugikan

Pada tahun 2007, Djarum dan HM Sampoerna memilki kapasitas produksi yang besar. HM Sampoerna menghasilkan rokok sebanyak 29,9 miliar batang. Sementara Djarum menghasilkan 19,9 Miliar batang.

Dengan produksi rokok yang besar itu, kesehatan masyarakat Indonesia sangat dirugikan. Itu berarti terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas perokok kedua merek tersebut di Indonesia. Bersamaan dengan peningkatan tersebut tentu akan muncul peningkatan-peningkatan penyakit yang diakibatkan oleh rokok. Merokok membawa berbagai dampak negatif yang sangat serius terhadap kesehatan. Menurut WHO, kebiasaan merokok menyebabkan terjadinya sekitar 80%-90% kematian akibat kanker paru di negara yang kebiasaan merokok para penduduknya telah meluas. Selain itu, terjadi pula 75% kematian akibat bronkitis, 40% akibat kanker kandung kemih, 25% akibat penyakit jantung iskemik, dan 18% kematian pada penyakit stroke. Asap rokok juga merupakan penyebab serangan jantung. (Koran Tempo, 2009)

Kerugian terhadap investasi sosial ini paling terasa dialami oleh generasi muda. Generasi muda dari mahasiswa hingga siswa SD,sepert pada Sampoerna Foundation, kini tak terlepas dari target perusahaan rokok sebagai calon perokok masa depan. Tercatat dalam Data Komnas Anak menyebutkan iklan rokok dianggap berperan dalam peningkatan jumlah perokok muda hingga 17, 2 persen. Sementara usia perokok pemula yang awalnya dari 16 tahun kini ditemukan anak usia balita yang sudah mengenal rokok.Selain itu penelitian Dampak Keterpajanan Iklan Rokok dan Kegiatan yang Disponsori Industri Rokok terhadap Aspek Kognitif, Afektif dan Perilaku Merokok Pada Remaja yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka bersama Komisi Nasional Perlindungan Anak membuktikan bahwa iklan,promosi, sponsor rokok dapat menimbulkan keinginan remaja untuk mulai merokok, Mendorong perokok remaja untuk terus merokok serta mendorong remaja yang telah behenti merokok kembali merokok.

Solusi

Memang masalah rokok merupakan masalah yang cukup rumit. Penulis sebagai mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat tidak setuju dengan adanya rokok begitupula dengan adanya investasi sosial rokok. Namun, ada beberapa “mitos” yang dipercayai oleh Masyarakat Indonesia. Mitos ini berkaitan dengan adanya anggapan yang muncul apabila investasi sosial rokok dilarang.(Komnas Perlindungan Anak)

Mitos pertama adalah rokok adalah produk legal, sama halnya dengan produk legal lainnya, maka rokok dapat diiklankan dan dipromosikan termasuk dalam investasi sosial. Berbeda dengan produk legal lainnya, rokok mengandung 4000 bahan kimia, 69 diantaranya bersifat karsinogenik. Lebih dari 70.000 artikel ilmiah membuktikan bahwa konsumsi tembakau menyebabkan penyakit dan kematian. Konsumsi tembakau membunuh 1 orang setiap 10 detik (WHO 2002, The Tobacco Atlas). Di Indonesia konsumsi tembakau membunuh 427.498 jiwa pada tahun 2001(Soewarta Kosen). Sama halnya dengan minuman keras yang berdampak buruk bagi kesehatan, minuman keras tidak diiklankan dan tidak dipromosikan. Maka, layakkah rokok yang menyebabkan konsumennya sakit dan mati diiklankan dan dipromosikan serta dijadikan suatu investasi sosial.

Mitos kedua adalah Larangan iklan, promosi dan sponsor rokok akan mengakibatkan kerugian pada industri media karena banyak iklan dari investasi sosial rokok. Hasil Riset AC Nielsen 2007 menunjukkan belanja iklan tertinggi dipegang sektor telekomunikasi. Sedangkan belanja iklan rokok hanya menempati urutan ketiga setelah iklan sepeda motor. Oleh karena itu, larangan iklan rokok tidak akan mengakibatkan turunnya pendapatan industri media karena masih banyak iklan produk lainnya yang lebih besar belanja iklannya. Hal ini terbukti di negara-negara lain yang telah memberlakukan larangan iklan rokok. Hongkong memberlakukan larangan iklan rokok pada tahun 1990 dan pendapatan iklan di dua stasiun televisi terbesar meningkat lebih dari 500% pada tahun 1996. Thailand memberlakukan larangan iklan rokok pada tahun 1992 dan rata-rata keuntungan iklan meningkat sampai 42% antara tahun 1993 dan 1995.

Mitos terakhir adalah tidak semua jenis iklan rokok perlu dilarang terutama yang berkaitan dengan investasi sosial rokok. Larangan iklan rokok hanya akan efektif jika menyangkup semua jenis dan bentuk iklan, promosi dan  rokok. Ketika satu jenis iklan rokok dilarang, maka industri rokok akan segera beralih secara maksimal ke jenis iklan lainnya yang tidak dilarang. Seperti balon, jika ditekan pada salah satu sisi, akan menggelembung di sisi lainnya.Contohnya, Vietnam, Filipina dan Malaysia. Ketiga negara ini melarang iklan rokok di luar ruang, di televisi dan radio, media cetak, serta melarang promosi rokok dan sponsor rokok. Tetapi tidak melarang iklan rokok di tempat penjualan, seperti di toko-toko, warung kelontongan dan kaki lima. Industri rokok memanfaatkan celah ini dan akibatnya iklan rokok di tempat penjualan rokok melejit pesat.

Pelarangan promosi rokok juga harus diterapkan pada investasi sosial yang tak dipublikasikan melalui media namun kegiatan itu menggunakan nama perusahaan rokok tersebut. Hal ini diterapkan untuk menghindari rasa “hutang budi” terhadap target program kedua perusahaan rokok itu ( Djarum dan HM Sampoerna). Dengan adanya hutang budi, target program dapat merasa harus membayar terhadap kebaikan perusahaan rokok tersebut dengan cara membantu mereka untuk dapat terus berkembang dan menyakitkan masyarakat Indonesia.

Ada suatu analogi dari seorang blogger:“PT Acme Sejahtera membuang limbah sembarangan. Selain itu PT Acme Sejahtera juga menyumbangkan Rp 2 milyar untuk korban bencana alam. Karena menyumbang korban bencana alam adalah tindakan yang baik, maka membuang limbah sembarangan adalah tindakan yang baik.” (Priyadi)

Tentunya itu adalah kesimpulan yang salah. Tindakan kegiatan sosial haruslah ditinjau secara terpisah dari tindakan membuang limbah sembarangan. Dalam hal ini kegiatan sosial adalah hal yang terpuji dan membuang limbah sembarangan adalah tindakan tak terpuji.

Begitupula dengan investasi sosial yang harusnya dapat menjadi sebuah tindakan terpuji dan produksi rokok yang justru merugikan. Jika memang kedua perusahaan rokok tulus melakukan investasi sosial sudah selayaknya mereka menghilangkan embel-embel nama mereka dari investasi sosial serta mendirikan sebuah lembaga independen.

Daftar Pustaka

Amrie, Ahmad Faisal. “ Perspektif Anak Blora.” dalam www.anakblora.blogspot.com. (01 Juli 2009)

Ari, Gunawan R. “ Industri Rokok di Indonesia.” dalam www.colonartis.blogspot.com. (01 Juli 2009)

Budiman, Amen dan Onghokham. 1987. Rokok kretek lintasan sejarah dan artinya bagi pembangunan bangsa dan negara. Kudus: PT. Djarum Kudus.

DTC-82.  “Laba Sampoerna Naik 41.6 %” www.suaramerdeka.com. (03 Juli 2009)

Isna, Nilna R. “ Rokok dalam angka-angka.” dalam www.nilna.wordpress.com. (01 Juli 2009)

Priyadi, Imam Nurcahyo. “ Kesalahan Logika Kegiatan Sosial.” dalam http://www.priyadi.net.  (01 Juli 2009)

Perkins, Daniel, Lucy Nelms dan Paul Smyth. 2004. Beyond Neoliberalism: The Investment State? Australia : Centre for Public Policy University of Melbourne.

Tak bernama. “ Laba Sampoerna Naik Tipis; Efisiensi Menurun.” dalam www.vibiznews.com (03 Juli 2009)

Tak Bernama. “Program Beasiswa Djarum.” www.beswandjarum.com. (01 Juli 2009)

Tak bernama. “ What is USP?” www.sampoernafoundation.org. (01 Juli 2009)

Tim Liputan 6 SCTV. “Iklan Rokok Meningkatkan Jumlah Perokok Pemula.” www.berita.liputan6.com. (03 Juli 2009)

Triyono, Heru. “Rokok Versus Jantung,” Koran Tempo. 6 Januari 2009.

Wijaya,dimaz. “Mitos dan Fakta seputar Iklan, Promosi, sponsor rokok.” www.dimaz-wijaya.web.ugm.ac.id. (03 Juli 2009)

Iklan

13 thoughts on “Dua sisi investasi sosial Perusahaan Rokok Djarum dan HM Sampoerna

  1. apakah anda yang akan memberikan pekerjaan kpd para buruh rokok, bila mreka di phk ?????

    tahukah anda bahwa indo adalah pasar rokok yang sangat besar dan potensial dan menjadi rebutan asing!!!
    dengan menggulirkan isue sperti yang anda tulis asing akan lebih mudah masuk dengan hancurnya perusahaan rokok lokal!!!!!

    lebih baik kita jadi pemain dari pada jadi penonton…

    dan merokok adalah keputusan individu seperti halnya ham !!!!!!!!!!!!!!!!!

  2. Memang sulit untuk ” menutup perusahaan rokok ” karena perusahaan tersebut adalah pendapatan terbesar bagi pemerintah…saya punya ide…agar masyarakat indonesia tidak merokok…harga untuk lokal dibuat semahal-mahalnya akan tetapi untuk ekspor dibuat harga semurah mungkin jadi yg sakit orang luar aja…hehehehehe…

    • lagi-lagi tugas pemerintah dan masyarakat, bisa saja distop, caranya alihkan tenaga kerja untuk tanam jagung, kedelai, beras ketan,buka sawah baru bertahap dan pasti, gunakan uang nganggur dari cadangan devisa,dst…….

  3. Siapa yang bilang perusahaan rokok adalah pendapatan terbesar pemerintah? Tolong baca fakta-fakta
    Siapa bilang asing mau menghancurkan perusahaan rokok lokal? Asing mau menghancurkan anak dan remaja kita koq. Makanya mereka beli sahamnya disini karena Ada 70 juta sudah perokok, termasuk anak dan remaja. Dan mereka terus secara gencar diiming-imingi, dibujuk untuk merokok melalui berbagai iklan, sponsor, promosi yang dengan gaya remaja. Ingat kata2 baliho “Mau eksis? Jangan lebai”…dll? Khas remaja khan? Industri rokok masuk ke ranah2 yang didominasi remaja: pendidikan, olah raga, kesenian, dll. Hebat ya…pemerintah kita diem aja. Masyarakat kebanyakan pun diem aja.
    Kata2 “zat adiktif” pada undang-undang kesehatan berhasil ditiadakan karena lobi industri rokok, pada 1990an, dan berhasil. Eh tahun 2009 UU Kesehatan, kata “zat adiktif” juga dicoba “dicuri”. baik banget ya industri rokok kita?
    Nggak usah pusing dengan petani tembakau. Ada banyak cara untuk membantu mereka: lah wong sebagian anak2nya udah nggak mau juga jadi petani tembakau (maunya jadi ahli IT gitu loh); lah wong pendapatan petani tembakau hanya ke-5 dibanding petani tebu (ya beralih ke tebu aja, jadi lebih kaya loh); lah wong cengkeh bisa dijadikan parfum dan kosmetik; apa lagi? Ayo pada kreatif dong ikut mikirin petani…jangan jadi penonton doang dan bilang prihatin, tapi nggak tau mau kasih ide apa….lebai ah.

  4. tulisannya sangat rapi dan menarik. tertarik untuk memberikan pemikirannya yang anti rokok bersama anak-anak Indonesia lainnya mas? Saya selaku wakil ketua dari Jaringan Anak Indonesia Bebas Rokok bersama dengan KOMNAS Perlindungan Anak mengajak mas agung untuk saling berdiskusi dan bertukar pikiran, memberikan bukti nyata, agar anak-anak terhindar perusakan haknya oleh asap rokok. kalau tertarik bisa dibalas via email ya, mas. thanks

    • Sangat tertarik mba..tapi saya sekarang sedang fokus menyusun tugas akhir di FKM UI..mungkin sebagai gantinya mba Nadya dapat menghubungi BEM FKM UI yang juga sangat concern pada isu rokok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s