Kenapa saya memilih FKM?

Kenapa saya memilih FKM?
Saya menjadi tertawa sendiri sekaligus terharu ketika saya mengingat kembali proses bagaimana saya memilh Fakultas Kesehatan Masyarakat sebagai pilihan pertama saya ketika Ujian Masuk Bersama (UMB) tahun 2008. Saya pernah menyampaikan kisah ini kepada teman-teman satu angkatan saya, hampir semuanya tertawa dan bertepuk tangan ketika saya selesai menceritakan kisah saya. Berikut adalah kisah saya.
Saat itu saya kelas 3 SMA dan mengikuti bimbingan belajar di Nurul Fikri (NF). Pada mulanya ,saya tidak begitu antusias mengikuti bimbingan belajar di NF karena selain menyita waktu, tempatnya pun sangat jauh dari rumah saya dan membutuhkan 45 menit untuk sampai ke sana. Satu-satunya alasan saya dapat bertahan di NF : orang tua . Orang tua saya beralasan jika saya tidak masuk maka uang yang telah mereka bayar ke bimbel itu akan menjadi sia-sia. Sangat matrealistis sepertinya,tapi tak apalah. Dalam benak hati saya saya takut dikutuk menjadi batu atau menjadi makhluk lain seperti dalam Majalah Hidayah apabila saya tidak menuruti kemauan mereka.
Anyway, saya tetap belajar di NF dengan keterpaksaan. Hasil keterpaksaan itu ialah nilai-nilai try out yang sangat jelek yaitu sekitar 400. Dengan nilai itu, untuk masuk UNSYIAH Aceh saja susah apalagi untuk masuk IPB yang menjadi PTN idaman saya saat itu.
Alhamdulillah,pertolongan akhirnya datang ketika saya merasa bosan di NF. Pertolongan itu bukan seperti pertolongan Allah yang diberikan kepada pasukan Badar yang berjumlah 313 orang ketika melawan pasukan kafir, bukan juga seperti pertolongan Allah berupa burung Ababil yang menghujamkan batu kepada pasukan Raja Abraham. Bukan,bukan itu.
Pertolongan itu berupa seorang wanita, mungkin lebih tepat disebut akhwat, yang memakai jilbab panjang dengan pakaian yang sesuai syariat Islam. Kedengarannya tak istimewa memang, tetapi akwat itu penuh dengan pesona baik dari cara mengajarnya ataupun dalam penampilannya. Tanpa bermaksud mendeskriditkan akhwat itu, sampai-sampai ada teman saya yang menjuluki dia tombo ngantuk (obat mengantuk) karena pelajaran kimia yang sejatinya adalah pelajaran yang penuh dengan atom-atom, reaksi yang meledak-ledak , serta sangat rawan membuat kepala dan otak kita berguncang dibuat sangat menarik oleh sang tombo ngantuk.
Pernah suatu saat saya melihat dia memakai jaket yang bertuliskan “Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia”. Saya langsung menghakimi bahwa dia adalah salah satu mahasiswi FKM UI. Di situlah awal saya mengetahui bahwa ada sebuah fakultas yang bernama Fakultas Kesehatan Masyarakat. Jujur,saya baru mengetahui adanya fakultas itu dari jaket sang tombo ngantuk. Saya juga sedikit tertarik untuk masuk fakultas yang sama dengan dia.
Minggu demi minggu saya lalui dengan mengikuti bimbel di NF, kali ini saya mencoba mengubah persepsi saya tentang konsep keterpaksaan karena orang tua yang menjadi alasan saya ikut bimbel menjadi keterpaksaan karena ingin meraih masa depan yang lebih cemerlang dan ingin membahagiakan seorang ayah yang berkerja sebagai satpam serta seorang ibu yang membuka warung sambil menyusui bayi 1 tahun demi pendidikan saya.
Nilai-nilai try out saya pun semakin tinggi sampai akhirnya menyentuh angka 700 di beberapa try out menjelang UMB. Nilai itu membuat saya senang sekaligus bingung menentukan pilihan antara Teknik metalurgi atau kesehatan masyarakat. Jika saya menjadikan teknik metalurgi yang passing grade-nya 712, saya takut tidak bisa diterima di sisi lain jika saya diterima maka saya akan masuk salah satu jurusan favorit saya di UI. Jika saya menjadikan kesehatan masyarakat yang passing grade-nya 670, kemungkinan besar saya dapat masuk, namun saya saat itu merasa FKM UI tidak bonafit dan tidak memiliki prospek kerja yang jelas.
“Bingung!!!” adalah satu kata yang paling banyak melintas di pikiran saya waktu itu. Saya tak boleh mengambil keputusan yang salah saat itu karena pilihan ini sangat besar pengaruhnya pada masa depan saya. Akhirnya, saya memutuskan agar Allah saja yang memutuskannya. “Salat istikharah mungkin pilihan yang tepat” saya berbisik dalam hati saat itu. Pada akhir salat istikharah, saya tak lupa berdoa agar Allah memilih pilihan yang tepat.
Pertolongan Allah pun datang (lagi). Kali ini bukan seperti pertolongan Allah kepada Ibrahim yang tak mempan di bakar bukan juga seperti Musa yang mampu membelah Laut Merah. Bukan,bukan itu.
Allah memberikan pertolongan itu saat pagi hari di jalan yang biasa saya lalui untuk berangkat sekolah. Di jalan itu saya melihat seseorang laki-laki bersepeda motor menggunakan jaket bertuliskan faculty of public health. Kebetulan yang sangat aneh dan menginspirasi. Saya dengan mantap memutuskan untuk menjadikan FKM UI sebagai pilihan saya.
Saya bahagia di fakultas ini. Namun, saya masih mempunyai satu pertanyaan : dimanaka sang tombo ngantuk? Saya tak dapat menemukan dia di fakultas ini, mungkinkah dia telah lulus? wallahu alam..

9 thoughts on “Kenapa saya memilih FKM?

  1. jadi inget waktu aq keterima di FKM UNMUL… ada yang tau gk UNMUL thu di mana??? di kaltim kawan kawan sekalian,,, kebetulan aq nie angkatan baru angkatan 2010
    hehehe awalnya gk ada niat msuk FKM tp krn pilihan utama sy kmaren Analas kesehatan yang pesertanya ribuan org tp yg di terima cm 40 org! akhrnya lari ke unmul ambil kesmas… tp jauh hari sebelum tes aq jg punya pengalaman yang aq anggap sbg “tanda” dari Allah kl aq ni bakal masuk Fkm… wkt jalan jalan keliling kota samarinda aq sering di hadang mobil PUsKESmas gk cuma satu kali tapi 4 ato 3 kali ternya ta bener aq lulus di sana meskipun lewat jalur lokal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s