Bid’ah dalam Agama dan Perbedaan Mazhab dalam Agama

Bid’ah dalam Agama dan Perbedaan Mazhab dalam Agama

Oleh : Ferdhy M Kautsar, NPM : 0806336072

Judul Buku   : Ensiklopedi Islam

Pengarang     : Dewan redaksi ensiklopedi islam

Penerbit        : PT Ichtiar Baru van Hoeve

Bid’ah dalam Agama

Secara umum, bidah berarti “segala sesuatu yang diada-adakan dalam bentuk yang belum ada contohnya.”

Silihat dari segi usul fikih, bidah dapat dibedakan atas dua jenis. Pertama, bidah meliputi segala sesuatu yang diada-adakan dalam soal ibadah saja. Bidah dalam pengertian ini adalah urusan yang sengaja diada-adakan dalam agama, yang dipandang mrnyamai syariat sendiri, dan mengerjakannya secara berlebih-lebihan dalam soal ibadah kepada Allah SWT. Kedua, bidah meliputi segala urusan yang sengaja diada-adakan menurut agama, baik yang berkaitan dengan urusan ibadah maupun dengan urusan adat. Perbutan-perbuatan itu seakan-akan urusan agama, yang dipandang menyamai syariat sendiri, sehingga mengerjakannya sama dengan mengerjakan agama itu sendiri.

Dari segi fikih, bid’ah juga dapat dibedakan jadi dua jenis. Pertama, bidah adalah perbuatan tercela yang diada-adakan serta bertentangan dengan Al-qur’an, sunnah Rasullullah SAW, atau ijmak. Inilah bidah yang sama sekali tidak dizinjkan oleh agama, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik secara tegas maupun secara isyarat saja. Urusan-urusan keduniaan tidak termasuk ke dalam pengertian ini. Kedua, bidah meliputi segala yang diada-adakan sesudah Nabi Muhammad SAW, baik berupa kebaikan maupun kejahatan, baik mengenai ibadah maupun mengenai adat, yaitu yang berkaitan dengan urusan keduniaan.

Dilihat secara umum, sebenarnya bidah ada dua macam, yaitu bid’ah hasanah (yang baik), dan bid’ah qabihah atau sayyiah (yang jelek). Bid’ah hasanah dibagi lagi menjadi bid’ah wajibah (yang wajib), bid’ah mandubah (yang sunah atau yang disukai Allah SWT), dan bid’ah mubahah (yang dibolehkan) sedangkan bid’ah qabihah dibagi menjadi bid’ah makruhah (yang makruh atau yang tidak disenangi Allah SWT) dan bid’ah muharramah (yang diharamkan)

Bid’ah wajibah adalah pekerjaan yang masuk kedalam kaidah-kaidah wajib, dan masuk kedalam kehendak dalil agama. Misalnya, mengumpulkan dan membukukan Al-qur’an dalam satu mushaf (lembaran naskah Al-Qur’an yang bertulis tangan). Demikian juga membukukan ilmu, mempelajarinya dangan jalan memahami Al-Qur’an, dan menetapkan kaidah-kaidah yang digunakan sebagai alat untuk menggali hukum dari dalilnya. Hal ini dianggap bidah karena tidak ada dalam praktek pada masa Rosullullah SAW. Bid’ah mandubah adalah pekerjaan yang diwujudkan oleh kaidah-kaidah nadb (sunat) dan dalil-dalilnya. Misalnya, mengerjakan tarawih berjemaah tiap malam bulan puasa, dan dipimpin oleh imam tertentu. Perbuatan ini tidak pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar RA, dan permulaan Umar RA. Setelah melihat jemaah masjid sholat sendiri-sendiri. Atau berkelompok, maka Umar RA menyuruh seseorang untuk mengimami aholat tarawih tersebut. Bid’ah mubahah adalah pekerjaan yang diterima oleh dalil. Misalnya, makan diatas meja, dan menggunakan pengeras suara untuk adzan.

Bid’ah makruhah adalah pekerjaan yang masuk ke dalam kaidah dan dalil makruh. Misalnya, menentukan hari utama dengan suatu macam ibadah, menambah-nambah amalan sunat yang telah ada batasnya. Bid’ah muharramah adalah pekerjaan yang masuk ke dalam kaidah dan dalil haram. Misalnya, perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang agama, seperti mengangkat orang yang tidak ahli untuk mengendalikan urusan-urusan penting atas dasar keturunan dengan mengabaikan keahlian.

Berkaitan dengan bidah ini, Rasullulah SAW pernah memperingatkan bahwa “barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan (urusan agama) tanpa ada dasa dariku (Nabi), maka amalannya itu sia-sia(ditolak)”. Peringatan itu terkandung dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari san Muslim. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Muslim ditegaskan bahwa “setiap bidah itu dianggap sesat, dan setiap yang sesat itu nerakalah yang pantas bagi pelakunya”. Menurut imam Nawawi, yang dimaksud oleh kata-kata “setiap bidah itu sesat” adalah pekerjaan-pekerjaan yang yang tergolong kedalam bid’ah sayyiah, yaitu bid’ah muharramah, dan bid’ah makruhah. Perbuatan-perbutan yang dilakukan sesuai dengan tuntutan agama Islam disebut al-Amal as-Sunni. Sedangkan perbuatan-perbuatan yang pelaksannanya tidak menurut tuntutan agama disebut al-Amal al-Bid’i

Al Allamah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa`di rahimahullah memaparkan tentang bid`ah : “Bid`ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama itu adalah apa yang datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al Qur’an dan As Sunnah itulah agama dan apa yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah. Ini merupakan defenisi yang mencakup dalam penjabaran arti bid`ah. Sementara bid`ah itu dari sisi keadaannya terbagi dua :

Pertama : Bid`ah I’tiqad (bid`ah yang bersangkutan dengan keyakinan)
Bid`ah ini juga diistilahkan bid`ah qauliyah (bid`ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi patokannya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dalam kitab sunan : “Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan”. Para shahabat bertanya : “Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?.
Beliau menjawab : “Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku”.
Yang selamat dari perbuatan bid`ah ini hanyalah ahlus sunnah wal jama`ah yang mereka itu berpegang dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang dipegangi oleh para shahabat radliallahu anhum dalam perkara ushul (pokok) secara keseluruhannya, pokok-pokok tauhid , masalah kerasulan (kenabian), takdir, masalah-masalah iman dan selainnya.

Sementara yang selain mereka dari kelompok sempalan (yang menyempal/keluar dari jalan yang benar) seperti Khawarij, Mu`tazilah, Jahmiyah, Qadariyah, Rafidhah, Murji`ah dan pecahan dari kelompok-kelompok ini , semuanya merupakan ahlul bid`ah dalam perkara i`tiqad. Dan hukum yang dijatuhkan kepada mereka berbeda-beda, sesuai dengan jauh dekatnya mereka dari pokok-pokok agama, sesuai dengan keyakinan atau penafsiran mereka, dan sesuai dengan selamat tidaknya ahlus sunnah dari kejelekan pendapat dan perbuatan mereka. Dan perincian dalam permasalahan ini sangatlah panjang untuk dibawakan di sini.

Kedua : Bid`ah Amaliyah (bid`ah yang bersangkutan dengan amalan ibadah)
Bid`ah amaliyah adalah penetapan satu ibadah dalam agama ini padahal ibadah tersebut tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan perlu diketahui bahwasanya setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh Penetap syariat (yakni Allah ta`ala) baik perintah itu wajib ataupun mustahab (sunnah) maka itu adalah bid`ah amaliyah dan masuk dalam sabda nabi shallallahu alaihi wasallam : “Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak”. Karena itulah termasuk kaidah yang dipegangi oleh para imam termasuk Imam Ahmad rahimahullah dan selain beliau menyatakan : “Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak boleh dikerjakan)” . Yakni tidak boleh menetapkan/mensyariatkan satu ibadah kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka menyatakan pula : “Muamalah dan adat (kebiasaan) itu pada asalnya dibolehkan (tidak dilarang)” . Oleh karena itu tidak boleh mengharamkan sesuatu dari muamalah dan adat tersebut kecuali apa yang Allah ta`ala dan rasul-Nya haramkan. Sehingga termasuk dari kebodohan bila mengklaim sebagian adat yang bukan ibadah sebagai bid`ah yang tidak boleh dikerjakan, padahal perkaranya sebaliknya (yakni adat bisa dilakukan) maka yang menghukumi adat itu dengan larangan dan pengharaman dia adalah ahlu bid`ah (mubtadi). Dengan demikian, tidak boleh mengharamkan satu adat kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan adat itu sendiri terbagi tiga :

Pertama : yang membantu mewujudkan perkara kebaikan dan ketaatan maka adat seperti ini termasuk amalan qurbah (yang mendekatkan diri kepada Allah).
Kedua : yang membantu/mengantarkan kepada perbuatan dosa dan permusuhan maka adat seperti ini termasuk perkara yang diharamkan.

Ketiga : adat yang tidak masuk dalam bagian pertama dan kedua (yakni tidak masuk dalam amalan qurbah dan tidak pula masuk dalam perkara yang diharamkan) maka adat seperti ini mubah (boleh dikerjakan). Wallahu a`lam.

Perbedaan mazhab dalam agama

Kedudukan hukum shalat pun jelas terdapat dalam Al-Qur’an bahwa shalat itu wajib, tidak ad perbedaan pendapat, sedang shalat jamaah tidak demikian, kedudukan hukumnya tidak tercantum dalam Al-qur’an. Ia hanya dipahami dari praktek Nabi Muhammad SAW dan ucapan-ucapan beliau tentang keutamaan shalat jamaah itu. Dalam hal ini kita jumpai dua ketetepan: ketetapan shalat adalah ketetapan syari’ah, sedang hukum shalat jamma’ah adalah ketetapan fiqih. Demikian pula tentang ketetapan fakir dan miskin sebagai mustahiq zakat, jelas dalam Al-qur’an (sebagai ketetapan syari’ah), perbedaan pengertian fakir dan miskin di antara para ulama adalah ketetapan fiqih. Begitulah kita akan menemukan beribu macam persoalan lainnya yang merupakan persoalan fiqih yang merupakan, terutama dalam bidang mu’amalah seperti dalam bidang kebudayaan, seni, sosial, ekonomi, lingkungan hidup, dan lain-lain.

Ketentuan-ketentuan fiqih adalah sesungguhnya hasil dari berbagai cara pemikiran deduktif, sedangkan yang paling utama di antaranya ialah “Qiyas” (deduksi dengan menggunakan analogi). Para sarjana ilmu fiqih (fuqaha) besar di masa lalu telah merumuskan hukum- hukum berdasarkan studi mereka yang mendalam terhadap Al-qur’an dan hadist-hadist Nabi. Kesungguhan dan hasil yang mereka capai sudah tidak bisa disangsikan lagi manfaatnya bagi muslimin dan muslimat, terutama bagi mereka yang mengikuti paham mereka. Meskipun demikian hasil studi serupa itu sudah barang tentu sering sangat subjektif. Sifat-sifat subjektif pemikiran mereka ditentukan oleh sistem pendekatan dari tiap sarjana fiqih pribad, serta diwarnai cara penafsirannya tentang sumber-sumber hukum Islam, dan bisa juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial, dan tingkat intelektuak pada masa hidupnya. Karena lingkungan itu dalam banyak hal, jauh berbeda dengan lingkungan sosial dan intelektualitas kita sekarang maka sebagian dari konklusi-konklusi “deduktif” itu akan terdapat perbedaan dangan kesimpulan-kesimpulan yang mungkin kita tarik pada masa ini, dan mungkin juga di masa akan datang.

Medan ijtihad memang sengaja dibuka oleh Al-qur’an, mengingat syari’ah Islam yang universal dan abadi itu. Tidaklah semua masalah hidup manusia dikemukakan secara terperinci, terutama masalah yang menghendaki perubahan dan pengembangan yang terikat oleh tempat dan situasi.

Aliran-aliran dalam lapangan fiqih ini antara lain sebagai berikut :

1. Hanafiyah

Mazhab yang mengikuti Imam Abu Hanifah (wafat 150 H= 767 M) seorang rasionalis yang mendasarkan ajaran-ajarannya mengenai keputusan agama atas Al-qur’an dan As-sunnah. Beliau tidak mengarang kitab sendiri, murid-murid beliaulah yang menyebarkan paham-paham beliau yang bebas itu dan mendirikan mazhab Hanafiyah. Para pengikut Hanafiyah sekarang banyak terdapat di Turki, Afganistan, Asia Tengah, India, dan Mesir.

2. Malikiyah

Mazhab yang mengikuti Imam Malik bin Anas (wafat 179 H= 795 M). Mazhab yang didirikan pada abad kedua setelah Hijrah Nabi Muhammad ini menunjukan kecenderungan paa ucapan dan praktek Nabi Muhammad SAW pada masa 10 tahun di Madinah. Para pengikut Malikiyah banyak terdapat di Afrika Utara, beberapa bagian di Mesir dan Sudan.

3. Syafi’yah

Mazhab yang mengikuti Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’ie (wafat 204 H=819 M), seorang murid Imam hanafi yang pandai. Beliau adalah ahli hukum yang sistematik, yang mengambil pendirian jalan tengah antara legalisme ekstrem dan tradisionalisme. Mazhab yang didirikan pada abad ke-3 H tersebut dewasa ini unggul di Arabia Selatan, India Selatan, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

4. Hamabaliyah

Mazhab yang mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H= 855 M)/. Mazhab yang juga lahir pada abad ke-3 ini lebih menitik beratkan kepada hadits dan tidak menyukai menggunakan akal dalam menetukan masalah agama. Pengikut Hanabaliyah ini sekarang banyak di Arabia Tengah, Suriah, dan beberapa bagian Afrika.

Disamping empat mazhab fiqih yang besar ini, masih ada beberapa mazhab lainnya, seperti Tsauriyah (pengikut Imam Abu Abdullah At-Tsauri, wafat 161 H) dan Auza’iyah (pengikut Abu Umar Abdurrahman Al-Dimasyqi, wafat 104 H)

Perbandingan dalil hukum Islam menurut 4 Mazhab yaitu sebagai berikut:

1. Mazhab Hanafi

a. Al-qur’an

Telah sepakat mazhab yang empat bahwa Al-qur’an dalil hukum yang pertama dan utama, meski begitu mereka kadang-kadang berlainan pendapat tentang tafsirnya dan hukum yang di simpulkan darinya.

b. Al hadis

Hadis yang diterima Hanafi, ialah hadist yang masyhur yang diwariskan oleh dua, atau tiga orang. Hadist yang diriwayatkan seorang saja, tiada diterima oleh Hanafi. Oleh sebab itu ditolaknya hadis ahad dan dipergunakannya qiyas.

2. Mazhab Maliki

a. Al-Qur’an

sama dengan mazhab-mazhab yang lain, hanya kadang-kadang berlainan pendapat tentang tafsirnya atau konklusi hukumnya.

b. Al Hadis

Maliki menerima Hadits Ahad dan Atsar (perkataan) sahabat yang sah (shahih), meskipun tidak masyhur tetapi perbuatan penduduk Madinah dan ijma ulamanya lebih kuat dan didahulukan dari hadis Ahad.

3. Mazhab Syafi’i

a. Al-qur’an

Sama dengan mazhab-mazhab yang lain, hanya kadang-kadang berbeda penafsiran dan istimbath hukumnya.

b. Al Hadis

Syafi’i menerima hadis yang shahih atau hasan (baik), meskipun tidak masyhur, dan hadits itu lebih kuat dan didahulukan dari qiyas dan ijma ulama.

4. Mazhab Hanbali

a. Al-qur’an

sama dengan mazhab-mazhab yang lain.

b. Al Hadis

Hadits yang diterimanya ialah hadits yang Shahih, Hasan atau Dhaif (lemah) termasuk juga fatwa-fatwa sahabat. Yang demikian itu lebih kuat dan didahulukan.

Surat Al-Ankabut ayat 45

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s