MULTIKULTURALISME DI INDONESIA DAN NEGARA LAIN

MULTIKULTURALISME DI INDONESIA DAN NEGARA LAIN

JUDUL: ILMU BUDAYA DASAR,SUATU PENGANTAR

PENGARANG: DR.M.MUNANDAR SOELAEMAN

KOTA DAN NAMA PENERBIT: BANDUNG,REFIKA ADITAMA

Multikulturalisme berasal dari kata multi yang artinya banyak dan kultur(budaya) yang menurut Koentjaraningrat berarti  hasil cipta,rasa dan karsa manusia.  Jadi,multukulturalisme adalah suatu paham yang menghendaki  berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern melebur menjadi satu tanpa menghilangkan cirri khas kebudayaan itu.

v     MULTIKULTURALISME DI INDONESIA

Begitu kayanya bangsa kita dengan suku, adat-istiadat, budaya, bahasa, dan khasanah yang lain ini, apakah benar-benar menjadi sebuah kekuatan bangsa ataukah justru berbalik menjadi faktor pemicu timbulnya disintegrasi bangsa..

Hal ini disadari betul oleh para founding father kita, sehingga mereka merumuskan konsep multikulturalisme ini dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Sebuah konsep yang mengandung makna yang luar biasa. Baik makna secara eksplisit maupun implisit. Secara eksplisit, semboyan ini mampu mengangkat dan menunjukkan akan keanekaragaman bangsa kita. Bangsa yang multikultural dan beragam, akan tetapi bersatu dalam kesatuan yang kokoh. Selain itu, secara implisit “Bhineka Tunggal Ika” juga mampu memberikan semacam dorongan moral dan spiritual kepada bangsa indonesia, khusunya pada masa-masa pasca kemerdekaan untuk senantiasa bersatu  melawan ketidakadilan para penjajah. Walaupun berasal dari suku, agama dan bahasa yang berbeda.

Kemudian munculnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928 merupakan suatu kesadaran akan perlunya mewujudkan perbedaan ini yang sekaligus dimaksudkan untuk membina persatuan dan kesatuan dalam menghadapi penjajah Belanda. Yang kemudian dikenal sebagi cikal bakal munculnya wawasan kebangsaan Indonesia. Multikulturalisme ini juga tetap dijunjung tinggi pada waktu persiapan kemerdekaan, sebagaimana dapat dilihat, antara lain dalam sidang-sidang BPUPKI. Betapa para pendiri republik ini sangat menghargai pluralisme, perbedaan (multikulturalisme). Baik dalam konteks sosial maupun politik. Bahkan pencoretan “tujuh kata” dalam Piagam Jakarta, pun dapat dipahami dalam konteks menghargai sebuah multikulturalisme dalam arti luas.

Kemudian sebuah ideologi yang diharapkan mampu menjadi jalan tengah sekaligus jembatan yang menjembatani terjadinya perbedaan dalam negara Indonesia, yaitu Pancasila. Melalui Pancasila seharusnya bisa ditemukan sesuatu sintesis harmonis antara pluralitas agama, multikultural, kemajemukan etnis budaya, serta ideologi sosial politik, agar terhindar dari segala bentuk konflik yang hanya akan menjatuhkan martabat kemanusiaan itu.

v     MULTIKULTURALISME DI NEGARA LAIN

Secara umum multikulturalisme di dunia dibagi atas multikulturalisme timur dan multikulturalisme barat. Pembagian ini disebabkan oleh terjadi polarisasi antara Negara-negara sosialis di timur dengan Negara liberal di barat.

Di timur,kebanyakan Negara-negara menganut paham sosialis yang berisi keadilan dan persamaan dalam segala hal,termasuk budaya,sehimgga yang terjadi cenderung kearah monokulturalisme,paham yang menghendaki kesatuan budaya,bukan multikulturalisme.

Di barat,kebijakan tentang multikulturalisme tercermin dalam kebijakan resmi di negara berbahasa-Inggris (English-speaking countries), yang dimulai di Kanada pada tahun 1971.Kebijakan ini kemudian diadopsi oleh sebagian besar anggota Uni Eropa, sebagai kebijakan resmi, dan sebagai konsensus sosial di antara elit. Lebih mudahnya proses multikulturalisme di barat daripada di timur disebabkan karena barat menganut liberalisme yang membebaskan semua warganya untuk mengembangkan budayanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s