Pneumonia

2.1 Definisi Pnemonia

Pneumonia adalah peradangan pada paru-paru yang disebabkan infeksi oleh bakteri, virus dan organisme lainnya. Kadang – kadang didefinisikan dengan distribusi sebagai lobar ( saat hal itu terjadi di suatu cuping dalam paru-paru ) atau bronchopneumonia . Tetapi kategori-kategori ini tidak terlalu berguna bagi dokter untuk menentukan penyebab dan pengobatannya. Organisme-organisme yang menyebabkan pneumonia biasanya memasuki paru-paru saat kita menghirup udara. Kadang-kadang bakteri merugikan yang  normalnya ada di mulut, lalu menyebar ke paru-paru. Hal itu, biasanya terjadi jika adanya penyumbatan yang refleks yang tiba-tiba. Pneumonia bisa terjadi karena infeksi yang menyebar ke paru-paru melalui aliran darah dari organ tubuh lainnya.

2.2 Jenis-Jenis Pneumonia

Jenis pneumonia antara lain pneumonia lobaris, bronchopneumonia, pneumonia aspirasi dan pneumonia intertitialis (http://www.infeksi.com/articles.php?Ing=in&pg=48 )

1. Pneumonia Lobaris

Penyakit pneumonia dimana seluruh lobus ( biasanya 1 lobus ) terkena infeksi  secara diffuse. Penyebabnya adalah streptococcus pneumonia. Lesinya yaitu bakteri yang dihasilkannya menyebar merata ke seluruh lobus.

2. Bronchopneumonia

Pada Bronchopneumonia terdapat kelompok-kelompok infeksi pada seluruh jaringan pulmo dengan “multiple focl infection” yang terdistibusi berdasarkan tempat dimana gerombolan bakteri dan debrisnya tersangkut di bronchus. Penyebab utamanya adalah obstruksi bronchus oleh mucus dan aspirasi isi lambung lalu bakteri terperangkap disana kemudian memperbanyak diri lalu terjadi infeksi pada pulmo.

  1. Pneumonia aspirasi

Merupakan subtipe dari bronchopneumonia. Mekanisme infreksi terjadi saat partikel-partikel udara membawa bakteri masuk ke paru-paru. Banyak terjadi pada pasien-pasien post operasi dan pasien-pasien dengan kondisi yang lemah.

  1. Pneumonia intertitialis

Reaksi inflamasi melibatkan dinding alveoli dengan eksudat yang relatif sedikit dan sel-sel lekosit poli-morfo-nuklear dalam jumlah yang relatif sedikit. Pneumonia intertitialis biasanya ada kaitannya dengan infeksi saluran pernapasan atas. Penyebabnya adalah virus ( influenza A dan B, respiratory syncytial virus dan rhino virus ) dan mycoplasma pneumonia.

2.3 Penyebab Pneumonia

2.3.1 Pneumonia Karena Bakteri

“ Pneumonia bakterial sering diistilahkan dengan pneumonia akibat kuman. Pneumonia jenis itu bisa menyerang siapa saja, dari bayi hingga mereka yang telah lanjut usia. Para peminum alkohol, pasien yang terkebelakang mental, pasien pascaoperasi, orang yang menderita penyakit pernapasan lain atau infeksi virus adalah yang mempunyai sistem kekebalan tubuh rendah dan menjadi sangat rentan terhadap penyakit itu.

Sebenarnya bakteri pneumonia itu ada dan hidup normal pada tenggorokan yang sehat. Pada saat pertahanan tubuh menurun, misalnya karena penyakit, usia lanjut, dan malnutrisi, bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan merusak paru-paru.

Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan dari lobus paru-paru, atau pun seluruh lobus, bahkan sebagian besar dari lima lobus paru-paru (tiga di paru-paru kanan, dan dua di paru-paru kiri) menjadi terisi cairan. Dari jaringan paru-paru, infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Bakteri Pneumokokus adalah kuman yang paling umum sebagai penyebab pneumonia bakteri tersebut.

Pneumonia karena bakteri biasanya didahului dengan infeksi saluran napas yang ringan satu minggu sebelumnya. Misalnya, karena infeksi virus (flu). Infeksi virus pada saluran pernapasan dapat mengakibatkan pneumonia disebabkan mukus (cairan/lendir) yang mengandung pneumokokus dapat terisap masuk ke dalam paru-paru.

Pada orang normal tubuh akan mengadakan perlawanan, dan biasanya menang, tetapi tidak pada orang-orang tua atau mereka yang daya tahan tubuhnya menurun. Karena mekanisme itu, biasanya infeksi paru-paru (pneumonia) jenis itu didahului dengan infeksi saluran napas bagian atas satu minggu sebelumnya, kemudian gejala timbul mendadak seperti panas yang tinggi (mencapai 40 derajat Celsius) disertai menggigil dengan gemeretak gigi bahkan bisa sampai muntah. Terdapat juga nyeri pleura (lapisan yang membungkus jaringan paru-paru) yang hebat dan diperberat dengan batuk dan pernapasan yang terganggu.

Jenis batuk biasanya produktif mengeluarkan lendir yang berwarna hijau atau merah tua. Penderita akan mengeluarkan keringat banyak, nadi dan pernapasan meningkat. Karena kekurangan oksigen, bibir dan kuku membiru. Kesadaran pasien menjadi menurun.

2.3.2 Pneumonia karena virus

Penyebab utama pneumonia virus adalah virus influenza (bedakan dengan bakteri hemofilus influenza yang bukan penyebab penyakit influenza, tetapi bisa menyebabkan pneumonia juga).

Kekerapan penyakit itu pada setiap golongan usia berbeda, bergantung pada virus penyebabnya. Respiratory syncytial virus (RSV) terbanyak pada anak balita. Sebaliknya virus varicella yang menyerang paru-paru hanya bisa diderita oleh orang dewasa. Virus influenza tipe A sendiri bisa menyerang kedua kelompok usia, namun orang dewasa lebih sering terserang virus tersebut.

Konsentrasi penduduk, terutama mereka yang tinggal di asrama lebih memungkinkan penyebaran pneumonia secara cepat, apalagi kalau hubungan dengan dunia luar terbatas seperti pada tempat latihan angkatan bersenjata.

Infeksi oleh virus influenza dapat menjadi berat dan kadang-kadang berakibat fatal. Penyakit itu sering ditemukan pada penderita penyakit jantung, paru-paru, atau mereka yang sedang hamil.

Gejala awal dari pneumonia akibat virus sama seperti gejala influenza, yaitu demam, batuk kering, sakit kepala, nyeri otot, dan kelemahan. Dalam 12 hingga 36 jam penderita menjadi sesak, batuk lebih parah, dan berlendir sedikit. Terdapat panas tinggi disertai membirunya bibir.

Tipe pneumonia itu bisa ditumpangi dengan infeksi pneumonia karena bakteri. Hal itu yang disebut dengan superinfeksi bakterial. Salah satu tanda terjadi superinfeksi bakterial adalah keluarnya lendir yang kental dan berwarna hijau atau merah tua. “

2.4 Pengobatan

Pengobatan yang dilakukan terhadap penyakit pneumonia dilakukan berdasarkan kondisi dari penderitanya. Penderita pneumonia yang berusia muda bisa segera sembuh. Hal-hal yang mempermudah penyembuhan adalah sistem pertahanan tubuh relatif baik, infeksinya belum menyebar, dan tidak menderita penyakit lain terutama penyakit kronis.

Pada penderita yang muda dan “sehat”, pengobatan awal dengan antibiotik bisa mempercepat pemulihan. Untuk pneumonia karena virus, meskipun saat ini sudah tersedia preparat (obat) antivirus, belum luas digunakan berhubung harganya yang relatif mahal. Untuk itu, pengobatan pada pneumonia karena virus biasanya hanya bersifat supportive semata (tidak membunuh virusnya). Diharapkan kekebalan tubuh bisa terbentuk untuk menangkal virusnya. .

Masalah menjadi pelik jika penyakit itu menyerang bayi, orang tua, atau mereka yang memiliki penyakit kronis. Faktor sistem pertahanan tubuh yang menurun membuat sukar untuk cepat sembuh. Belum lagi metabolisme tubuh yang sudah berbeda membuat pengaturan dosis obat tidak seaman pada orang muda atau sehat.

“Pemberian imunisasi Hib (untuk memberikan kekebalan terhadap Haemophilus influenzae) saat balita adalah langkah awal untuk menciptakan kekebalan terhadap penyakit ini, Antibiotik yang dapat diberikan pada penderita adalah  vaksin pneumokokus konjugat heptavalen. Beberapa studi menunjukan vaksin pneumokokus konjugat heptavalen memberikan efektivitas sangat tinggi dalam mencegah penyakit pneumokokus invasif (bakteriemia, meningitis, dan pneumonia), serta menurunkan angka kejadian otitis media akut dan prevalensi kolonisasi di nasofaring. Di samping itu, timbul juga efek herd immunity, yaitu anak yang tidak divaksinasi akan terproteksi akibat anak-anak lain diimuniasi. Studi klinis pada 37.000 bayi di California Utara menunjukan vaksin pneumokokus memiliki tingkat keampuhan: 97 persen efektif dalam mencegah serotype spesifik dari bakteri pneumokokus pada bayi yang telah divaksinasi penuh, 89 persen efektif dalam mencegah semua kasus infeksi invasif akibat pneumokokus dari “berbagai serotype pada anak yang telah mendapat satu kali atau lebih dosis vaksinasi. Studi lain pada 2003 memperlihatkan penurunan jumlah bayi penderita infeksi invasif akibat pneumokokus sebanyak 78 persen setelah divaksinasi saat berusia 2 tahun.”[1]

Penurunan suhu tubuh (demam) bukan berarti boleh menghentikan pengobatan antibiotika. Antibiotika harus dihentikan sesuai petunjuk dokter, atau pneumonia bisa terjadi lagi (kambuh). Kondisi kekambuhan lebih parah dari sakit pertama dan memerlukan penanganan yang lebih serius lagi.

Selain antibiotik, pasien juga diberikan pengobatan supportive, seperti diet yang mendukung penyembuhan dan pemulihan termasuk pembentukan sistem kekebalan tubuh serta oksigen untuk meningkatkan kadar oksigen dalam darah. Pada beberapa pasien, obat untuk mengurangi nyeri dada dan mengurangi batuk keras juga diperlukan.

Pada penderita kencing manis, diet pun tidak bisa sembarangan. Begitu juga pada penderita payah ginjal ataupun liver. Orang muda yang relatif sehat bisa sembuh dari pneumonia dalam seminggu. Untuk mereka yang separo baya, diperlukan beberapa minggu untuk memulihkan kekuatan, tenaga, dan perasaan sehat.


[1] http://www.suarapembaruan.com

Iklan

5 thoughts on “Pneumonia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s