studi kasus pneumonia

PERTANYAAN

  1. Deskripsikan masalah kesehatan?
  2. Identifikasi perilaku-perilaku penyebab permasalahan kesehatan?
  3. Lakukan prioritas perilaku penyebab permasalahan kesehatan tersebut untuk diintervensi?
  4. Intervensi keberadaan kasus dengan faktor penguat, pemungkin, dan pencetus?

JAWABAN

1. Kusta atau Lepra adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen. Penyakit ini menyerang kulit dan saraf tepi.

Menurut artikel permasalahan kusta ini, satu-satunya sumber penularan kusta adalah manusia. Meskipun begitu kusta dapat hidup pada armadillo, simpanse, dan telapak kaki tikus. Kuman kusta masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan atas, seperti: sekret hidung dan kontak kulit yang luka.

Terdapat tanda-tanda jika orang terkena penyakit kusta, diantaranya:

  • Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia. Tapi berbeda dengan panu, putih-putih di kulit ini jika disentuh, bahkan digores/ditusuk samapai berdarah, tak terasa apapun alias mati rasa.
  • Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak.
  • Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus serta  peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.
  • Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit
  • Alis rambut rontok
  • Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa)
  • Pada wajah akan menyebabkan kelumpuhan otot kelopak mata
  • Jika menyerang tangan dan kaki, akan menyebabkan mati rasa, kelumpuhan otot

Penyakit Kusta dalam artikel terdapat 2 jenis/tipe, yaitu

  • Tipe Basah (multiple baciller)

Tipe ini dapat menularkan kepada orang lain.

Tanda-tanda:

–         Bercak keputihan atau kemerahan tersebar merata di seluruh badan.

–         Dengan atau tanpa penebalan pada bercak

–         Pada permukaan bercak, sering kurang  rasa bila disentuh dengan kapas.

–         Tanda-tanda permulaan sering berupa penebalan kulit kemerahan pada cuping telinga dan muka.

Pengobatan: 12-18 bulan.

  • Tipe Kering  (pauci baciller)

Tipe ini tidak menular tetapi dapat menimbulkan cacat bila tidak segera diobati.

Tanda-tanda:

–         Bercak putih seperti panu

–         Bila bercak disentuh dengan kapas masih terasa.

Pengobatan: 6-9 bulan.

Akibat dari hal-hal tersebut diatas timbullah berbagai masalah antara lain:

1. Masalah terhadap diri penderita kusta

Pada umumnya penderita kusta merasa rendah diri, merasa tekan batin, takut terhadap penyakitnya dan terjadinya kecacatan, takut mengahadapi keluarga dan masyarakat karena sikap penerimaan mereka yang kurang wajar. Segan berobat karena malu, apatis, karena kecacatan tidak dapat mandiri sehingga beban bagi orang lain (jadi pengemis, gelandangan dsb).

2. Masalah Terhadap Keluarga.

Keluarga menjadi panik, berubah mencari pertolongan termasuk dukun dan pengobatan tradisional, keluarga merasa takut diasingkan oleh masyarat disekitarnya, berusaha menyembunyikan penderita agar tidak diketahui masyarakat disekitarnya, dan mengasingkan penderita dari keluarga karena takut ketularan.

3. Masalah Terhadap Masyarakat.

Pada umumnya masyarakat mengenal penyakit kusta dari tradisi kebudayaan dan agama, sehingga pendapat tentang kusta merupakan penyakit yang sangat menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, kutukan Tuhan, najis dan menyebabkan kecacatan. Sebagai akibat kurangnya pengetahuan/informasi tentang penyakit kusta, maka penderita sulit untuk diterima di tengah-tengah masyarakat, masyarakat menjauhi keluarga dari penderita, merasa takut dan menyingkirkannya. Masyarakat mendorong agar penderita dan keluarganya diasingkan.

2. Perilaku-perilaku penyebab kusta dibagi manjadi 2, yaitu:

  • Penyebab Perilaku

Penderita kusta kebanyakan berasal dari keluarga miskin yang belum memahami pentingnya arti kebersihan lingkungan bagi kehidupan manusia. Faktor kemiskinan mendorong seseorang berpotensi terserang penyakit kusta. Umumnya mereka tinggal di daerah terisolir sehingga sulit terdeteksi oleh petugas kesehatan. Kesadaran sosial yang mana umumnya negara-negara endemis kusta adalah Negara dengan tingkat sosial ekonomi rendah

  • Penyebab Non Perilaku

– Usia : Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa

– Jenis kelamin : Laki-laki lebih banyak dijangkiti

– Ras : Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti

– Lingkungan : Fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat

– Teknologi : Fasilitas dan pelayanan medis yang kurang memadai

4. Agung penderita kusta, dalam setahun belakangan merasakan lemas dan mulai tidak bertenaga. Dia mengira dirinya sekedar capek. Bobotnya mulai susut, kemudian terungkap bahwa ia mengidap penyakit kusta. Beruntungnya penyakit capat terdeteksi dan belum berdampak pada penampilan fisiknya.

FAKTOR PENCETUS

.

Faktor-faktor yang mendorong untuk berperilaku sebagai alasan atau motivasi berperilaku

.

Kecenderungan “personal”yang membawa individu atau kelompok dalam pengalaman belajar

.

Contoh : pengetahuan,sikap,keyakinan,norma, sosial demografi

FAKTOR PEMUNGKIN

.

Faktor-faktor pendorong yang membuat motivasi atau alasan berperilaku menjadi kenyataan

.

Keahlian atau sumber daya untuk melaksanakan perilaku sehat

.

Contoh : keahlian petugas, sumber daya masyarakat, aksesibilitas pelayanan (biaya, jarak, transport}

FAKTOR PENGUAT

.

Faktor-faktor yang muncul dari perilaku yang menyediakan ganjaran, insentif, sanksi dan hukuman sehingga perilaku tetap ada

Penguat positif = perilaku sehat tetap bertahan

.

Penguat negative = perilaku sehat menjadi berkurang

.

Sumber-sumber penguat tergantungpada jenis program.

Misal : dalam tatanan rumah sakit, faktor penguat dapat berasal dari dokter, perawat dan keluarga  dll)

II.3. Penyebaran Penyakit Kusta

Penyakit ini diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang kemudian

menyebar keseluruh dunia lewat perpindahan penduduk ini disebabkan karena

perang, penjajahan, perdagangan antar benua dan pulau-pulau.

Berdasarkan pemeriksaan kerangka-kerangka manusia di Skandinavia

diketahui bahwa penderita kusta ini dirawat di Leprosaria secara isolasi ketat.

Penyakit ini masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke IV-V yang diduga

dibawa oleh orang-orang India yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan

agamanya dan berdagang.

II.4. Penyebab Penyakit Kusta

Penyakit kusta disebabkan oleh kuman yang dimakan sebagai

microbakterium, dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk

spora, berbentuk batang yang tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan

terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan

sebagai basil “tahan asam”. Selain banyak membentuk safrifit, terdapat juga

golongan organism patogen (misalnya Microbacterium tubercolose, mycrobakterium

leprae) yang menyebabkan penyakit menahun dengan menimbulkan lesi jenis

granuloma infeksion.

©2003 Digitized by USU digital library 3

II.5. Epidemiologi Penyakit Kusta

Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda

tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni

selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta

adalah:

a. Melalui sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah

mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.

b. Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun,

keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya

kontak yang lama dan berulang-ulang.

Klinis ternyata kontak lama dan berulang-ulang ini bukanlah merupakan

faktor yng penting. Banyak hal-hal yang tidak dapat di terangkan mengenai

penularan ini sesuai dengan hukum-hukum penularan seperti halnya penyakit-penyaki

terinfeksi lainnya.

Menurut Cocrane (1959), terlalu sedikit orang yang tertular penyakit kusta

secara kontak kulit dengan kasus-kasus lepra terbuka.

Menurut Ress (1975) dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan

perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal yakni jumlah atau

keganasan Mocrobakterillm Leprae dan daya tahan tubuh penderita. Disamping itu

faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah :

– Usia : Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa

– Jenis kelamin : Laki-laki lebih banyak dijangkiti

– Ras : Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti

– Kesadaran sosial :Umumnya negara-negara endemis kusta adalah negara

dengan tingkat sosial ekonomi rendah

– Lingkungan : Fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat

II.6. Tanda-tanda Penyakit Kusta

Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau

tipe dari penyakit tersebut. Di dalam tulisan ini hanya akan disajikan tanda-tanda

secara umum tidak terlampau mendetail, agar dikenal oleh masyarakat awam, yaitu:

Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia

Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin

melebar dan banyak.

Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis

magnus seryta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit

menjadi tipis dan mengkilat.

Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yarig tersebar pada kulit

Alis rambut rontok

Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa)

Gejala-gejala umum pada lepra, reaksi :

Panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil.

Anoreksia.

Nausea, kadang-kadang disertai vomitus.

Cephalgia.

Kadang-kadang disertai iritasi, Orchitis dan Pleuritis.

Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia, Nepritis dan hepatospleenomegali.

Neuritis.

II.7. Diagnosa Penyakit Kusta

Menyatakan (mendiagnosa seseorang menderita penyakit kusta menimbulkan

berbagai masalah baik bagi penderita, keluarga atapun masyarakat disekitarnya).

Bila ada keraguan-raguan sedikit saja pada diagnosa, penderita harus berada

dibawah pengamatan hingga timbul gejala-gejala yang jelas, yang mendukung

bahwa penyakit itu benar-benar kusta. Diagnosa kusta dan kelasifikasi harus dilihat

secara menyeluruh dari segi :

a. Klinis

b. Bakteriologis

c. Immunologis

d. Hispatologis

Namun untuk diagnosa kusta di lapangan cukup dengan ananese dan

pemeriksaan klinis. Bila ada keraguan dan fasilitas memungkinkan sebaiknya

dilakukan pemeriksaan bakteriologis.

Kerokan dengan pisau skalpel dari kulit, selaput lendir hidung bawah atau dari

biopsi kuping telinga, dibuat sediaan mikrokopis pada gelas alas dan diwarnai

dengan teknis Ziehl Neelsen. Biopsi kulit atau saraf yang menebal memberikan

gambaran histologis yang khas. Tes-tes serologik bukan treponema untuk sifilis

sering menghasilkan positif palsu pada lepra.

II.8. Bentuk-bentuk Penyakit Kusta

Penyakit kusta terdapat dalam bermacam-macam bentuk, yakni bentuk

leproma mempunyai kelainan kulit yang tersebar secara simetris pada tubuh. Untuk

ini menular karena kelainan kulitnya mengandung banyak kuman. Bentuk tuber

koloid mempunyai kelainan pada jaringan syaraf, yang mengakibatkan cacat pada.

tubuh. Bentuk ini tidak menular karena kelainan kulitnya mengandung sedikit

kuman. Diantara bentuk leproma dan tuber koloid ada bentuk peralihan yang bersifat

tidak stabil dan mudah berubah-ubah.

II.9. Pengobatan Penyakit Kusta

Pengobatan penyakit kusta dilakukan dengan Dapson sejak tahun 1952 di

Indonesia, memperhatikan hasil yang cukup memuaskan, hanya saja pengobatan

mono terapi ini sering mengakibatkan timbul masalah resistensi, hal ini disebabkan

oleh karena :

Dosis rendah pengobatan yang tidak teratur dan terputus akibat dari lepra

reaksi

Waktu makan obat sangat lama sehingga membosankan, akibatnya penderita

makan obat tidak teratur

Selain penggunaan Dapson (DDS), pengobatan penderita kusta dapat

menggunakan Lamprine (B663), Rifanficin, Prednison, Sulfat Feros dan vitamin A

(untuk menyehatkan kulit yarlg bersisik).

Setelah penderita menyelesaikan pengobatan MDT sesuai dengan peraturan

maka ia akan menyatakan RFT (Relasif From Treatment), yang berarti tidak perlu

lagi makan obat MDT dan dianggap sudah sembuh.

Sebelum penderita dinyatakan RFT, petugas kesehatan harus :

1. Mengisi dan menggambarkan dengan jelas pada lembaran tambahan RFT secara

teliti.

* Semua bercak masih nampak.

* Kulit yang hilang atau kurang rasa terutama ditelapak kaki dan tangan.

* Semua syaraf yang masih tebal.

* Semua cacat yang masih ada.

2. Mengambil skin semar (sesudah skin semarnya diambil maka penderita langsung

dinyatakan RFT tidak perlu menunggu hasil skin semar).

3. Mencatat data tingkat cacat dan hasil pemeriksaan skin semar dibuku register.

Pada waktu menyatakan RFT kepada penderita, petugas harus memberi

penjelasan tentang arti dan maksud RFT, yaitu :

Pengobatan telah selesai.

Penderita harus memelihara tangan dan kaki dengan baik agar janga sampai

luka.

Bila ada tanda-tanda baru, penderita harus segera datang untuk periksaan

ulang.

II.10. Pencegahan Penularan Penyakit Kusta

Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Dari hasil penelitian

dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh bentuknya, lebih besar

kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan dengan yang tidak utuh. Jadi

faktor pengobatan adalah amat penting dimana kusta dapat dihancurkan, sehingga

penularan dapat dicegah. Disini letak salah satu peranan penyuluhan kesehatan

kepada penderita untuk menganjurkan kepada penderita untuk berobat secara

teratur.

Pengobatan kepada penderita kusta adalah merupakan salah satu cara

pemutusan mata rantai penularan. Kuman kusta diluar tubuh manusia dapat hidup

24-48 jam dan ada yang berpendapat sampai 7 hari, ini tergantung dari suhu dan

cuaca diluar tubuh manusia tersebut. Makin panas cuaca makin cepatlah kuman

kusta mati. Jadi dalam hal ini pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan

hindarkan terjadinya tempat-tempat yang lembab.

Ada beberapa obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta. Tetapi kita

tidak dapat menyembuhkan kasus-kasus kusta kecuali masyarakat mengetahui ada

obat penyembuh kusta, dan mereka datang ke Puskesmas untuk diobati. Dengan

demikian penting sekali agar petugas kusta memberikan penyuluhan kusta kepada

setiap orang, materi penyuluhan kusta kepada setiap orang, materi penyuluhan

berisikan pengajaran bahwa :

a. Ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta

b. Sekurang-kurangnya 80 % dari semua orang tidak mungkin terkena kusta

c. Enam dari tujuh kasus kusta tidaklah menular pada orang lain

d. Kasus-kasus menular tidak akan menular setelah diobati kira-kira 6 bulan secara

teratur

e. Diagnosa dan pengobatan dini dapat mencegah sebagian besar cacat fisik

III. MASALAH-MASALAH YANG DITIMBULKAN AKIBAT PENYAKIT KUSTA

Seseorang yang merasakan dirinya menderita penyakit kusta akan

mengalami trauma psikis. Sebagai akibat dari trauma psikis ini, si penderita antara

lain sebagai berikut :

a. Dengan segera mencari pertolongan pengobatan.

b. Mengulur-ulur waktu karena ketidaktahuan atau malu bahwa ia atau keluarganya

menderita penyakit kusta.

c. Menyembunyikan (mengasingkan) diri dari masyarakat sekelilingnya, termasuk

keluarganya.

d. Oleh karena berbagai masalah, pada akhirnya si penderita bersifat masa bodoh

terhadap penyakitnya.

Sebagai akibat dari hal-hal tersebut diatas timbullah berbagai masalah antara

lain:

1. Masalah terhadap diri penderita kusta

Pada umumnya penderita kusta merasa rendah diri, merasa tekan batin, takut

terhadap penyakitnya dan terjadinya kecacatan, takut mengahadapi keluarga dan

masyarakat karena sikap penerimaan mereka yang kurang wajar. Segan berobat

karena malu, apatis, karena kecacatan tidak dapat mandiri sehingga beban bagi

orang lain (jadi pengemis, gelandangan dsb).

2. Masalah Terhadap Keluarga.

Keluarga menjadi panik, berubah mencari pertolongan termasuk dukun dan

pengobatan tradisional, keluarga merasa takut diasingkan oleh masyarat

disekitarnya, berusaha menyembunyikan penderita agar tidak diketahui

masyarakat disekitarnya, dan mengasingkan penderita dari keluarga karena takut

ketularan.

3. Masalah Terhadap Masyarakat.

Pada umumnya masyarakat mengenal penyakit kusta dari tradisi kebudayaan dan

agama, sehingga pendapat tentang kusta merupakan penyakit yang sangat

menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, kutukan Tuhan, najis dan

menyebabkan kecacatan. Sebagai akibat kurangnya pengetahuan/informasi

tentang penyakit kusta, maka penderita sulit untuk diterima di tengah-terigah

masyarakat, masyarakat menjauhi keluarga dari perideita, merasa takut dan

menyingkirkannya. Masyarakat mendorong agar penderita dan keluarganya

diasingkan.

IV. PENANGGULANGAN PENYAKIT KUSTA

Penanggulangan penyakit kusta telah banyak diderigar dimana-mana dengan

maksud mengembalikan penderita kusta menjadi manusia yang berguna, mandiri,

produktif dan percaya diri.

Metode penanggulangan ini terdiri dari : metode pemberantasan dan

pengobatan, metode rehabilitasi yang terdiri dari rehabilitasi medis, rehabilitasi

sosial, rehabilitasi karya dan metode pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir

dari rehabilitasi, dimana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada

kelompok tersendiri. Ketiga metode tersebut merupakan suatu sistem yang saling

berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

V. PENUTUP

Dengan megetahui penyebab, penyebaran penyakit, dan pengobatannya

maka tidaklah perlu timbul lepraphobia. Hal ini dapat dilihat dengan penting peranan

penyuluhan kesehatan kepada penderita dan keluarga serta masyarakat dimana

dengan penyuluhan ini diharapkan penderita dapat berobat secara teratur, dan tidak

perlu dijauhi oleh keluarga malahan keluarga sebagai pendukung proses

penyembuhan serta masyarakat tidak perlu mempunyai rasa takut yang berlebihan.

Penderita kusta sebagai manusia yang juga mendapat perlakuan secara

manusia, jadi keluarga dan masyarakat tidak perlu mendorong untuk mengasingkan

penderita kusta tersebut.

Pencegahan yang dapat dilakukan:

1. Mencegah kontak dengan kulit penderita

2. Melakukan vaksinasi

3. Meningkatkan sistem imun dengan melakukan hidup sehat

4. Meningkatkan kebersihan

5. Diagnosis dan pengobatan yang segera

Obat- obat yang dapat digunakan untuk penyakit kusta:

1. Rifampicin : dapat membunuh bakteri kusta dengan menghambat perkembangbiakan bakteri. Dosis 600mg.

2. Diaminodiphenylsulfone : mencegah resistansi bakteri terhadap obat (Dapsone) (dikombinasikan dengan obat lain)

3. Clofazimine (CLF) : menghambat pertumbuhan dan menekan efek bakteri yang perlahan pada Mycobacterium Leprae denganberikatan pada DNA bakteri

4. Ofloxacin : Synthetic Fluoroquinolone, beraksi menyerupai penghambat bacterial DNA gyrase

5. Minocycline : Semisynthetic Tetracycline, menghambat sintesis protein pada bakteri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s