DIMENSI SOSIAL DALAM LINGKUNGAN PESANTREN SERTA PANDANGAN ISLAM TERHADAP WANITA : studi kasus film “Perempuan Berkalung Sorban”

2.1 KONSEP KELUARGA DAN MASYARAKAT SERTA PANDANGAN ISLAM TERHADAP WANITA

Islam memandang manusia sebenarnya berasal dari satu diri yang kemudian berkembang biak menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa. Pernyataan ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam

Q.S. An-Nisaa’, ayat 1 :

Artinya : ”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Q.S. Al-Hujaraat, ayat 13 :

Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Sebagaimana penjelasan ayat-ayat di atas, jelaslah bahwa manusia saling menghormati dan tidak boleh membeda-bedakan sesamanya dengan alasan apapun, seperti ras, suku, bangsa, dan sebagainya. Justru dengan adanya perbedaan itu, seharusnya membuat manusia untuk saling mengenal, saling berhubungan, saling menolong, dan saling berlomba melakukan dan menciptakan kebaikan. Allah SWT memandang manusia bertingkat tinggi atau rendah serta hina atau mulia sesuai dengan tinggi rendahnya tingkat takwa masing-masing individu.

Menurut Islam atribut inti manusia adalah kepribadian. Dari pribadi-pribadi itu tersusunlah kelompok-kelompok manusia mulai dari unit terkecil (keluarga), komunitas, selanjutnya masyarakat yang terikat dalam kesamaan bangsa, bahasa, negara, maupun persaudaraan-persaudaraan seagama.

Untuk menciptakan suatu masyarakat yang damai sejahtera yang diridhai Allah SWT, hendaklah dimulai dari pembinaan dan pembangunan keluarga. Keluarga merupakan unit paling kecil, sederhana, dan asasi dari masyarakat yang anggota-anggotanya terikat secara lahir dan batin serta terikat secara hukum karena pertalian darah dan pernikahan. Ikatan itu menetapkan kedudukan tertentu pada masing-masing anggota keluarga, ada hak dan kewajiban, tanggung jawab bersama, saling mengharapkan, dan saling mengasihi. Suatu keluarga biasanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anak. Ini merupakan keluarga inti. Keluarga yang lebih besar bisa juga terdiri dari kakek, nenek, keponakan, paman dan bibi, baik dari pihak ayah maupun ibu. Konsep pembinaan keluarga telah disebutkan dalam Al-Quran surat Ar-Ruum, ayat 21 :

Artinya : ”dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama dari pernikahan adalah menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah antara suami, istri, dan anak-anaknya serta keluarga lainnya. Sebuah keluarga yang dicita-citakan dan diidam-idamkan oleh umat manusia secara keseluruhan.

Istilah community atau kamunitas dapat diterjemahkan sebagai masyarakat setempat. Dalam ilmu sosiologi, kriteria yang utama bagi adanya suatu komunitas atau masyarakat setempat adalah adanya social relationship antara anggota suatu kelompok. Dari kriteria tersebut dapat dikatakan bahwa komunitas menunjuk pada sebagian masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah dengan batas-batas tertentu dimana faktor utama yang menjadi dasar adalah interaksi yang lebih besar di antara para anggotanya, dibandingkan dengan penduduk di luar batas wilayahnya. Dengan demikian, komunitas merupakan suatu kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial yang tertentu.  Dasar-dasar daripada komunitas adalah lokalitas dan perasaan semasyarakat setempat tersebut.

Sebagai agama yang besar, Islam telah membentuk masyarakat yang kuat dalam tatanan yang penting dan teratur yang disebut dengan masyarakat Islam. Agama Islam menjadikan orang-orang yang menganutnya menjadi sebuah masyarakat Islam yang sangat erat. Pengertian dari masyarakat Islam itu sendiri adalah masyarakat yang seluruh atau sebagian besar anggotanya merupakan orang-orang muslim dan berpedoman pada akidah dan hukum Islam. Masyarakat Islam dibentuk dan dibina berlandaskan azas dan prinsip dasar etika kemuliaan manusia. Semua anggota masyarakat diarahkan untuk melaksanakan kebaikan sehingga meraih kemuliaan lahir dan batin, di dunia dan akhirat, seperti halnya dalam Q.S. Al-Anfaal, ayat 4 :

Artinya : ”Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”

Karakteristik dari masyarakat Islam, antara lain masyarakat Islam merupakan :

1.  Masyarakat yang terbuka.

2. Masyarakat yang terpadu dan ini mengindikasikan masyarakat yang seimbang. Q.S. Ar-Rahmaan, ayat 7-9 :

Artinya : ”dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.”

3. Masyarakat yang dinamis, progresif, dandiperintahkan untuk mewujudkan shibghah Allah SWT dan keagungan serta kemuliaan-Nya.

Q.S. Al-Baqarah, ayat 138 :

Artinya : “Shibghah Allah. dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan hanya kepada-Nya-lah Kami menyembah.”

4.   Masyarakat yang demokratis, baik secara spiritual, sosial, ekonomi, maupun politik.

5.   Masyarakat yang berkeadilan, yang membentuk semua aspek dari keadilan sosial. Q.S. Al-Maidah, ayat 8 :

Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

6.   Masyarakat yang berwawasan ilmiah, terpelajar, menekankan pada IPTEK. Q.S. Al-Mujadilah, ayat 11 :

Artinya : ”Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

7.   Masyarakat yang disiplin, baik disiplin dalam bidang ibadah maupun muamalah. Q.S. An-Nisaa’, ayat 103 :

Artinya : ”Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

8.   Masyarakat yang melaksanakan prinsip-prinsip kehidupan dan kemasyarakatan dengan tujuan yang jelas dan perencanaan yang sempurna.

9.   Masyarakat yang membentuk persaudaraan yang tangguh dan menekankan kasih sayang antara sesama. Q.S. Al-Hujurat, ayat 10 :

Artinya : ”orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

10. Masyarakat yang sederhana dan berkesinambungan.

Dengan demikian masyarakat Islam merupakan masyarakat yang sejahtera secara total dan terpadu, baik lahir maupun batin.

Dalam laporan tugas mandiri ini akan dibahas suatu masalah tentang bagaimana pandangan Islam terhadap wanita yang dilihat dari segi konsep keluarga dan masyarakat pada umumnya

Wanita adalah sosok yang kerap kali menjadi perbincangan yang tiada habisnya. Sesuatu yang menyangkut wanita akan terus mendapat perhatian untuk dibicarakan. Di satu sisi ada yang begitu memuja wanita dan segala sesuatu yang dilakukannya adalah untuk wanita. Namun, di sisi lain ada yang berpendapat bahwa wanita adalah masyarakat kelas dua. Wanita  tidak berhak untuk berpendapat bahkan mengurus dirinya sendiri. Semuanya diatur oleh laki-laki. Seperti halnya pada permasalahan yang ada dalam fenomena kasus film ”Perempuan Berkalung Sorban” yang mengkritisi kehidupan wanita dalam perspektif agama Islam.

Dalam film ini diceritakan bahwa wanita adalah mahluk nomor dua, hak wanita dibatasi oleh aturan yang memaksa mereka harus (selalu) tunduk pada keinginan lelaki. Lelaki menjadi raja diraja, sedangkan wanita tidak lebih sekedar budaknya. Seolah-olah Islam menjustifikasi penindasan terhadap kaum wanita. Bagaimana Islam memandang wanita? Apakah benar Islam membelenggu peran wanita? Atau justru Islam yang menginspirasikan munculnya gerakan feminisme dan menyuarakan persamaan hak antar laki-laki dan perempuan?

Sebelum munculnya Islam, dunia merendahkan wanita dan meminggirkannya. Mereka dilempar dalam jurang yang dalam, sehingga tampaknya tak ada harapan terhadap keselamatannya. Islam dengan berani tampil membantah membantah ketidakadilan ini dan menegaskan bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan laki-laki dan wanita yang mana mereka saling melengkapi satu sama lain.

Q.S. Ali-Imran, ayat 195 :

Artinya : ”Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain]. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”

Tidak salah bahwa gerakan feminisme muncul ketika wanita mulai tertindas, terampas hak asasi, dan terpojokkan dari tatanan masyarakat yang “male dominated“. Islam adalah pendukung gerakan feminisme karena gerakan ini menuntut kesetaraan dan pemberian hak asasi kepada wanita yang sekian lama hanya menjadi subordinasi laki-laki dan objek eksploitasi. Seperti halnya pada zaman jahiliyah dimana kaum wanita tertindas dalam kezhaliman dan Islam mampu membebaskan mereka dari ketertindasan. Hal ini terbukti dengan turunnya Q.S. An-Nahl, ayat 58-59 :

Artinya : ”dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah. ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”

Di antara 114 surat yang terkandung di dalamnya terdapat satu surat yang didedikasikan untuk wanita secara khusus memuat dengan lengkap hak asasi dan aturan-aturan yang mengatur bagaimana seharusnya wanita berlaku di dalam pernikahan, keluarga dan sektor kehidupan. Surat ini dikenal dengan surat An-Nisaa’ dan tidak satupun surat secara khusus ditujukan kepada kaum laki-laki. Dalam salah satu ayat-Nya, dijelaskan bahwa laki-laki diciptakan dengan segala kelebihannya yang melebihi wanita agar setiap laki-laki (suami) melindungi wanita (istri), justru bukan berlaku kasar atau kejam kepada wanita (istri).

Artinya : “kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh

karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.”

Dalam Islam tidak pernah dibayangkan adanya pengurangan hak wanita atau penzhaliman wanita demi kepentingan laki-laki karena Islam adalah syariat yang diturunkan untuk laki-laki dan wanita. Akan tetapi, ada beberapa pemikiran keliru tentang wanita yang menyusup masuk ke dalam benak sekelompok umat Islam sehingga mereka senantiasa memiliki persepsi negatif terhadap watak dan peran wanita. Salah satu contohnya adalah perlarangan wanita keluar rumah untuk menuntut ilmu dan mendalami agama dengan alasan ada orang tua dan suami yang yang berhak dan berkewajiban mendidik serta memberikan pelajaran. Akibatnya mereka menghambat wanita dari pancaran ilmu pengetahuan dan memaksanya hidup dalam kegelapan dan kebodohan. Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan bahwa mencari ilmu ialah kewajiban setiap Muslim (baik pria pula wanita). Nabi Muhammad saw berkata, ”Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (Diriwayatkan dalam Al-Bayhaqi dan Ibn-Majah).

Dari pernyataan di atas jelaslah bahwa sebenarnya Islam dan aturan yang dibawanya ingin memberikan hak dan kemerdekaan perempuan, mendorong perempuan untuk maju, berkarya, dan mendapat perlindungan.

2.2 PRANATA SOSIAL KEAGAMAAN DALAM LINGKUNGAN PESANTREN

Kehidupan manusia memiliki beragam sendi dan nilai-nilai. Manusia dalam menjalankan kehidupannya, dapat menjadi makhluk individu dan menjadi makhluk sosial. Makhluk individu berarti manusia berbeda antara satu dengan yang lain, memiliki perbedaan pandang dan perbedaan yang lain karena setiap manusia itu pasti berbeda. Tetapi menurut pandangan islam,  pada dasarnya, manusia berasal dari satu diri. Hal ini terdapat dalam surat An-Nisa ayat 1:

“Wahai manusia!Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbikkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah)  hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

Makhluk sosial berarti manusia membutuhkan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan untuk hidup.  Dalam hubungan antara sesama manusia, dibutuhkan suatu sistem norma atau peraturan yang mengatur hubungan tersebut agar berjalan dengan baik dan dapat terpenuhinya kebutuhan manusia tersebut. Oleh karena itu, lahirlah sebuah kepemahaman yang dinamakan Pranata Sosial.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Pranata Sosial? Pranata Sosial  adalah Sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga atau masyarakat untuk berinteraksi menurut pola-pola resmi demi pemuasan dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat. Pranata sosial disebut juga institusi, namun berbeda dengan institute. Pranata sosial adalah suatu sistem, sedangkan institute adalah lembaga yang menjalankan sistem tersebut. Dalam pranata sosial, pasti terdapat lembaga-lembaga yang menjalankan pranata tersebut, salah satu diantaranya yaitu lembaga keagamaan. Fungsi dari lembaga Keagamaan

a.         bantuan terhadap pencarian identitas moral.

b.         memberikan penafsiran-penafsiran untuk menjelaskan keadaan lingkungan fisik dan sosial seseorang

c.         peningkatan kadar keramahan, kohesi sosial, solidaritas kelompok

Dalam kehidupan kemasyarakatan, lembaga keagamaan sebagai wadah menjalankan pranata sosial sangat berpengaruh dalam pembentukan jati diri seorang manusia. Pranata Sosial keagamaan juga mengatur sistem hubungan antarmanusia di lihat dari sudut pandang keagamaan.

Salah satu bentuk dari lembaga keagamaan, khususnya agama islam, adalah Pesantren. Pesantren sebagai suatu lembaga keagamaan yang merupakan suatu wadah yang berkaitan dengan pranata sosial untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al- Hadits.  Pesantren merupakan tempat pembinaan dimana terdapat pengajaran mengenai agama islam secara lebih mendalam dibandingkan dengan sekolah umum.

Pada pranata sosial islam, di sana diajarkan bagaimana cara membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Pertama-tama, semua orang harus mengetahui tentang pengertian keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang anggota-anggotanya terikat secara lahir dan batin dan terikat secara hukum karena pertalian darah serta pernikahan. Islam mengajarkan bahwa setiap manusia harus membangun keluarga yang sakinah. Konsep pembinaan keluarga sakinah dapat dilihat pada Al-Quran surat Ar-Rum ayat 21:

Artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan

untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Pengertian sakinah adalah ketenangan. Artinya, ketika dalam suatu rumah tangga terjadi gejolak tertentu, maka akan dihadapi dengan ketenangan karena keyakinan bahwa segala sesuatu pasti mempunyai jalan keluar dan Allah selalu memberikan rahmat bagi setiap umat-Nya. Pengertian mawaddah adalah kelapangan dada dan terhindarnya jiwa seseorang dari kehendak yang buruk. Mawaddah bisa dikatakan sebagai cinta sejati. Cinta sejati yang tidak akan tergoyahkan oleh apapun karena ia memiliki pondasi yang kokoh. Cinta sejati dengan kelapangan dada yang tidak akan bisa hilang karena tidak tersentuh oleh kehendak-kehendak buruk yang dapat merusak sebuah keluarga. Rahmah berarti kasih sayang. Setiap anggota keluarga berupaya memberikan kasih sayang yang terbaik untuk anggota keluarga lain agar terpenuhinya kebutuhan hidup dan membuat keluarga menjadi indah. Dengan kata lain, keluarga sakinah mawaddah dan rahmah memiliki pengertian keluarga yang memiliki ketenangan, tidak gegabah dan gelisah ketika terkena gejolak tertentu, mempunyai kelapangan dada untuk menghindari sifat-sifat negatif yang dapat merusak hubungan sesama anggota keluarga dan memiliki kasih sayang yang besar diantara anggota keluarga sehingga keluarga tersebut senantiasa berada di jalan kebaikan untuk mengharap ridho Allah SWT.

Dalam kasus pernikahan dini antara Syekh Puji dengan wanita berusia belasan tahun yang bernama ulfa memberikan dampak buruk bagi kearifan sebuah pesantren karena jika masyarakat awam melihat bahwa seorang kyai pesantren menikahi anak di bawah umur maka akan terdeskripsi bahwa pesantren mengajarkan sesuatu yang tidak wajar bagi santri-santrinya. Tentu saja bagi seseorang yang menikah di usia sangat dini seperti ulfa, sangat jarang yang telah memiliki pemahaman mengenai keluarga sakinah mawaddah dan rahmah.

Sebenarnya poligami dibolehkan dalam agama islam asalkan dengan syarat utama bahwa sang suami dapat berlaku adil terhadap isteri-isterinya. Pesan untuk seorang suami bagi isterinya dapat dilihat dalam hadits Nabi Muhammad SAW berikut ini:

“Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sedangkan orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik budi pekertinya terhadap para isteri.” (HR. at-Tirmidzi, III/466, No.1162)

Pesantren sebagai sarana pendidikan islam mengajarkan hubungan dengan Allah SWT dan juga hubungan antarsesama. Fungsi dari pesantren sendiri adalah dapat membentuk pribadi-pribadi muslim yang memiliki budi pekerti yang tinggi dan bisa memfungsikan islam sebagai Rahmatan lil’alamin. Pesantren dapat membawa individu-individu untuk diarahkan dalam pembentukan masyarakat islami. Masyarakat islami dibentuk berdasarkan ajaran dan tata nilai islam, yang memiliki arti bahwa prinsip-prinsip dasar yang membentuk dan membina masyarakat itu adalah nilai-nilai luhur ajaran agama tersebut. Masyarakat islami adalah masyarakat yang dibentuk berdasarkan etika Ketuhanan Yang Maha Esa yang bertopang pada:

  1. menaati perintah Allah SWT yang dicerminkan dengan kasih sayang terhadap sesame anggota masyarakat
  2. bersyukur terhadap rahmat dan nikmat Allah SWT segala puji bagi-Nya semata, yang dicerminkan dengan upaya mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan umat material dan spiritusl yang berlandaskan kaidah-kaidah moral yang mulia
  3. rasa takut dengan Allah SWT, dicerminkan dengan menjauhi segala yang dilarang dan selalu merasa diawasi oleh-Nya

Karakteristik masyarakat islami adalah:

  1. Masyarakat islami adalah masyarakat yang terbuka
  2. Masyarakat islami adalah masyarakat yang terpadu
  3. Masyarakat islami adalah masyarakat yang dinamis dan progressif
  4. Masyarakat islami adalah masyarakat demokratis
  5. Masyarakat islami adalah masyarakat yang berkeadilan
  6. Masyarakat islami adalah masyarakat yang berwawasan ilmiah dan terpelajar
  7. Masyarakat islami adalah masyarakat yang disiplin
  8. Masyarakat islami memiliki kegiatan keumatan yang jelas dan perencanaan yang sempurna
  9. Masyarakat islami membentuk persaudaraan yang tangguh
  10. Masyarakat islami adalah masyarakat yang sederhana

Pembentukan masyarakat islami ini memiliki makna bahwa masyarakat islami merupakan misi Al-Quran untuk diwujudkan dan diusahakan setiap muslim sehingga tercapainya suatu kesejahteraan.

Jika menilik dari ciri-ciri masyarakat islami diatas, tegaslah bahwa pada kasus film “Perempuan Berkalung Sorban” mengenai pesantren yang tidak bersahabat dengan perempuan adalah tidak benar karena pesantren sendiri adalah suatu lembaga keagamaan yang mengaplikasikan ajaran-ajaran Al-Quran dan Al-Hadits sehingga tidak mungkin kehidupan di pesantren seperti penggambaran di film tersebut, jika memang ada, maka pesantren tersebut telah menyimpang dari ajaran islam, karena ajaran islam sendiri memerintahkan kita untuk menghormati perempuan.

islami memiliki karakteristik dinamis, artinya dia tidak mungkin tidak mengikuti perkembangan dunia luar atau bahasa lainnya “ketinggalan zaman” dengan tetap mempertahankan nilai-nilai dasar islam.

Dalam film tersebut juga menggambarkan perilaku anak kyai yang kejam terhadap isterinya. Jika memang seperti itu maka ia harus dihukum setimpal dengan perbuatannya. Tetapi hal ini ada kemungkinan tidak akan terjadi karena islam sendiri memerintahkan untuk membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah dan rahmah bagi sebuah keluarga, dan harus memlihara keluarga itu daru api neraka.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. Al-Tahrim 66:6)”

Pesantren pun dapat berkontribusi dalam kemajemukan masyarakat dan pembangunan bangsa dan Negara. Pesantren dapat menanamkan kepemahaman dini mengenai keislaman untuk diaplikasikan dalam masyarakat luas. Sebagai lembaga kemasyarakatan dalam bidang keagamaan, pesantren pun harus bisa menumbuhkan nilai solidaritas, kesetiakawanan, dan sebagainya sehingga dapat menjalankan pranata social dengan baik sehingga memiliki andil besar dalam perubahan bangsa menuju kearah yang lebih baik.


2.3 Kerukunan Umat Beragama dan Pemerintah

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak keberagaman, baik itu adat-istiadat, suku, bahasa, maupun agama. Keberagaman yang ada, menuntut pemerintah dan rakyat Indonesia untuk dapat menerima segala perbedaan dan dapat berjalan bersama-sama menuju satu tujuan dalam lingkaran perbedaan. Sejatinya, hal itu tidak mudah untuk dilakukan. Sering kali, manusia sulit untuk menahan egonya dan menerima segala bentuk perbedaan yang ada di sekelilingnya. Karena ketidaksanggupan itu, perbedaan akan menimbulkan konflik dan perdebatan.

Perbedaan atau keberagaman yang sering menimbulkan konflik adalah perbedaan agama. Konflik yang terjadi tidak hanya antar umat beragama, tetapi juga antar umat beragama dan pemerintah. Terlebih lagi di Indonesia, yang memiliki lima agama sebagai kepercayaan rakyatnya. Oleh karena itu, agar didapatkan kenyamanan dalam hidup berbangsa dan bernegara dibutuhkan sikap toleransi antar umat beragama dan pemerintah. Sebelumnya, dibutuhkan terlebih dahulu sikap toleransi antar umat beragama sehingga tercipta kerukunan antar umat beragama. Bila kerukunan antar umat beragama telah tercipta maka kerukunan umat beragama dan pemerintah akan lebih mudah tercipta.

Konsep Toleransi dalam Islam

Sikap toleransi adalah sikap yang dibutuhkan untuk menciptakan kerukunan umat beragama dan pemerintah. Oleh karena itu untuk memahami  kerukunan, terlebih dahulu kita harus memahami konsep toleransi. Definisi dari  toleransi ialah sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adat-istiadat, budaya, bahasa, serta agama. Ini semua merupakan fitrah dan sunnatullah yang sudah menjadi ketetapan Tuhan. Landasan dasar pemikiran ini adalah firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

Artinya :

” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling menganal.  Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Seluruh manusia tidak akan bisa menolak sunnatullah ini. Dengan demikian, bagi manusia, sudah selayaknya untuk mengikuti petunjuk Tuhan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan itu. Toleransi antar umat beragama yang berbeda termasuk ke dalam salah satu risalah penting yang ada dalam system teologi Islam. Karena Tuhan senantiasa mengingatkan kita akan keragaman manusia, baik dilihat dari sisi agama, suku, warna kulit, adapt-istiadat, dsb.

Toleransi dalam beragama bukan berarti kita hari ini boleh bebas menganut agama tertentu dan esok hari kita menganut agama yang lain atau dengan bebasnya mengikuti ibadah dan ritualitas semua agama tanpa adanya peraturan yang mengikat. Akan tetapi, toleransi beragama harus dipahami sebagai bentuk pengakuan kita akan adanya agama-agama lain selain agama kita dengan segala bentuk system, dan tata cara peribadatannya dan memberikan kebebasan untuk menjalankan keyakinan agama masing-masing.

Konsep toleransi yang ditawarkan Islam sangatlah rasional dan praktis serta tidak berbelit-belit. Namun, dalam hubungannya dengan keyakinan (akidah) dan ibadah, umat Islamtidak mengenal kata kompromi. Ini berarti keyakinan umat Islam kepada Allah tidak sama dengan keyakinan para penganut agama lain terhadap tuhan-tuhan mereka. Demikian juga dengan tata cara ibadahnya. Bahkan Islam melarang penganutnya mencela tuhan-tuhan dalam agama manapun. Maka kata tasamuh atau toleransi dalam Islam bukanlah “barang baru”, tetapi sudah diaplikasikan dalam kehidupan sejak agama Islam itu lahir.

Karena itu, agama Islam menurut hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah saw. pernah ditanya tentang agama yang paling dicintai oleh Allah, maka beliau menjawab: al-Hanafiyyah as-Samhah (agama yang lurus yang penuh toleransi), itulah agama Islam.

Dalam kaitannya dengan toleransi antar umat beragama, toleransi hendaknya dapat dimaknai sebagai suatu sikap untuk dapat hidup bersama masyarakat penganut agama lain, dengan memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip keagamaan (ibadah) masing-masing, tanpa adanya paksaan dan tekanan, baik untuk beribadah maupun tidak beribadah, dari satu pihakl ke pihak lain. Hal demikian dalam tingkat praktek-praktek social dapat dimulai dari sikap bertetangga, karena toleransi yang paling hakiki adalah sikap kebersamaan antara penganut keagamaan dalam praktek social, kehidupan bertetangga dan bermasyarakat, serta bukan hanya sekedar pada tataran logika dan wacana.

Sikap toleransi antar umat beragama bias dimulai dari hidup bertetangga baik dengan tetangga yang seiman dengan kita atau tidak. Sikap toleransi itu direfleksikan dengan cara saling menghormati, saling memuliakan dan saling tolong-menolong. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. ketika suatu saat beliau dan para sahabat sedang berkumpul, lewatlah rombongan orang Yahudi yang mengantar jenazah. Nabi saw. langsung berdiri memberikan penghormatan. Seorang sahabat berkata: “Bukankah mereka orang Yahudi wahai rasul?” Nabi saw. menjawab “Ya, tapi mereka manusia juga”. Jadi sudah jelas, bahwa sisi akidah atau teologi bukanlah urusan manusia, melainkan Tuhan SWT dan tidak ada kompromi serta sikap toleran di dalamnya. Sedangkan kita bermu’amalah dari sisi kemanusiaan kita.

Mengenai system keyakinan dan agama yang berbeda-beda, al-Qur’an menjelaskan pada ayat terakhir surat al-kafirun : 6

Artinya :

Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.

Bahwa perinsip menganut agama tunggal merupakan suatu keniscayaan. Tidak mungkin manusia menganut beberapa agama dalam waktu yang sama; atau mengamalkan ajaran dari berbagai agama secara simultan. Oleh sebab itu, al-Qur’an menegaskan bahwa umat islam tetap berpegang teguh pada system ke-Esaan Allah secara mutlak; sedabgkan orang kafir pada ajaran ketuhanan yang ditetapkannya sendiri. Dalam ayat lain Allah juga menjelaskan tentang prinsip dimana setiap pemeluk agama mempunyai system dan ajaran masing-masing sehingga tidak perlu saling hujat menghujat.

Pada taraf ini konsepsi tidak menyinggung agama kita dan agama selain kita, juga sebaliknya. Dalam masa kehidupan dunia, dan untuk urusan dunia, semua haruslah kerjasama untuk mencapai keadilan, persamaan dan kesejahteraan manusia. Sedangkan untuk urusan akhirat, urusan petunjuk dan hidayah adalah hak mutlak Tuhan SWT. Maka dengan sendirinya kita tidak sah memaksa kehendak kita kepada orang lain untuk menganut agama kita.

Al-Qur’an juga menganjurkan agar mencari titik temu dan titik singgung antar pemeluk agama. Al-Qur’an menganjurkan agar dalam interaksi social, bila tidak dotemukan persamaan, hendaknya masing-masing mengakui keberadaan pihak lain dan tidak perlu saling menyalahkan:

Bahkan al-Qur’an mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw. dan ummatnya untuk menyampaikan kepada penganut agama lain setelah kalimat sawa’ (titik temu) tidak dicapai (QS. Saba:24-26):

Jalinan persaudaraan dan toleransi antara umat beragama sama sekali tidak dilarang oleh Islam, selama masih dalam tataran kemanusiaan dan kedua belah pihak saling menghormati hak-haknya masing-masing (QS. Al-Mumtahanah: 8):

Al-Qur’an juga berpesan dalam QS 16: 125 agar masing-masing agama mendakwahkan agamanya dengan cara-cara yang bijak.

Kerukunan Umat Beragama dan Pemerintah

Pada bahasan di atas, telah diuraikan secara jelas mengenai sikap toleransi umat Islam kepada umat beragama lain. Hal itu adalah dasar untuk menuju terciptanya kerukunan umat beragama dan pemerintah. Di Indonesia, yang terdapat lima agama sebagai dasar keyakinan rakyatnya, memiliki peluang besar untuk terjadinya kecemburuan sosial antar umat beragama terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Dalam hal ini, seluruh umat beragama harus memiliki sikap toleransi terhadap kebijakan yang pemerintah buat. Umat beragama harus meyakini bahwa kebijakan yang pemerintah buat pastinya untuk meciptakan keharmonisan dan ketentraman. Dan kebijakan itu, pastinya dibuat dengan pemikiran dan pertimbangan yang matang.

Jika sikap toleransi itu telah tumbuh dalam hati seluruh umat beragama, maka kerukunan umat beragama dan pemerintah akan tercipta. Kerukunan umat beragama dan pemerintah wajib diwujudkan, khususnya bagi umat Islam. Karena dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang memerintahkan persatuan dan kesatuan (QS. Al-Hujurat : 13). Selain dalam surat Al-Hujurat,  juga terdapat dalam surat An-Nisa : 1

Artinya :

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah meciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Menurut Kaelany HD, untuk meciptakan kerukunan umat beragama dan pemerintah, selain sikap toleransi juga perlu memerhatikan hal-hal berikut :

  • ·Peningkatan keimanan dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka menumbuhkan kesadaran beragama bagi setiap pemeluk. Kesadaran beragma itu tidak saja diwujudkan dalam kepekaan moral, melainkan juga dalam kepekaan sosial, sehingga dengan demikian tidak membuat fanatisme dan eksklusivesme, melainkan menumbuhkan toleransi sosial dan sikap terbuka.
  • ·Negara menjamin kebebasan beragama dan bahkan berusaha membantu pengembangan kehidupan beragama dalam rangka pembangunan. Masing-masing umat beragama memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk menjalankan dan mengembangkan kehidupan agama mereka.

2.4  Hubungan Agama Islam dan Negara

Pondok Pesantren merupakan sistem pendidikan khas yang mempunyai tujuan untuk membentuk seorang Mukmin Muslim yang senantiasa taat dalam melaksanakan perintah agama serta menguasai ilmu tentang tata cara dalam melaksanakan perintah agama tersebut. Hal ini adalah sebagai perwujudan dalam upaya menyempurnakan fitrah manusia sebagai hamba Allah SWT di bumiNYA.

Kegiatan rutin para santri pada umumnya yaitu mengikuti kajian kitab yang diadakan setiap hari selama waktu yang telah ditentukan. Pagi hari sebelum ayam berkokok, bel dinyalakan untuk membangunkan para santri yang maih terlelap dalam tidurnya. Waktu dini hari yang sebenarnya sangat nyaman untuk digunakan untuk melanjutkan mimpi, mereka korbankan untuk bangun sholat subuh dan mengikuti kajian ba’da subuh.

Hal-hal positif yang terdapat di pesantren yang merupakan ciri khas mereka dalam kaitannya dengan interaksi sosial. Pertama, Hubungan para santri dengan kiainya yang berlangsung akrab serta sikap taat-hormatnya para santri terhadap figur kharismatik sang kiai. Meskipun demikian yang terjadi di pesantren ini hubungan itu lebih dinamis, maksudnya para santri diberi kebebasan untuk menentukan suatu kegiatan tanpa terlalu dikekang oleh otoritas sang kiai. Kedua, Adanya jiwa dan sikap tolong menolong, kesetiakawanan, suasana kebersamaan dan persaudaraan. Ketiga, disiplin waktu dalam melaksanakan ibadah dan pendidikan. Jadwal yang demikian rutin dan banyak tidak menyurutkan semangat mereka. Keempat, Hidup hemat dan sederhana. Kehidupan di pesantren melatih mereka untuk dapat bertindak demikian. Kelima, Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan. Hal itu tampak ketika mereka melakukan sholat tahajud diwaktu malam ataupun itikaf untuk merenungkan kebesaran Sang Pencipta.

Beberapa hal mendasar yang harus dipunyai seorang santri dalam proses pendidikannya, dan selanjutnya diharapkan menjadi bekal yang berguna dalam kehidupan santri yang bersangkutan kelak di masyarakat antara lain

1. Kesadaran Beragama (الوعي الديني)

2. Kesadaran Ilmiah (الوعي العلمي)

3. Kesadaran Bernegara dan Berbangsa (الوعي الحكومي والشعبي)

4. Kesadaran Bermasyarakat (الوعي الإجتماعي)

5. Kesadaran Berorganisasi (الوعي النظامي)

Dalam poin ketiga yaitu kesadaran berbangsa dan bernegara membuat seorang santri harus mengambil peran dalam percaturan politik dan kemasyarakatan. Seorang santri tidak boleh acuh dan tidak ambil peduli dengan perkembangan yang terjadi di masyarakatnya, tapi harus berusaha mengambil peran dengan cara yang sebaik-baiknya dan dengan mendahulukan akhlakul karimah. Pengambilan peran dalam kancah politik di masyarakat tidak berarti harus aktif dalam partai politik, tapi bisa berupa peran politik kelas tinggi dalam rangka membela kepentingan masyarakat dan menegakkan agama Allah.

Peran tokoh agama sangat signifikan dalam mengarahkan keberagamaan umat, dan itu harus dimulai dari metode atau strategi dakwah. Tokoh agama dituntut memerankan fungsi agama untuk kemaslahatan manusia. Mereka mengembangkan interpretasi (tafsir) yang memiliki semangat perdamaian dan kerukunan antarumat beragama. Pengembangan interpretasi semacam ini, diyakini mampu mencerahkan keberagamaan umat, sehingga ajaran ketuhanan menjadi fungsional, bahkan mampu menciptakan kedamaian, keadilan, toleransi, dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya dalam kehidupan bemasyarakat dan berbangsa dan bernegara.

Negara adalah sebuah realitas politik yang nyaris kita terima sebagai sesuatu yang ada. Dalam kesadaran individual, negara baru dirasakan kehadirannya manakala ia berbenturan dengan kekuasaan, bahwa ada sebuah realitas kekuasaan diluar dirinya, yang berada pada atmosfir publik, namun ternyata berpengaruh pada kehidupan sehari-hari. Dari optik kekuasaan dan legitimasi dalam wacana politik, kenyataan itu kita sebut sebagai realitas kekuasaan negara dalam masyarakat.

Realitas kekuasaan negara dalam masyarakat, ternyata tidak hanya memasuki ruang politik, namun lebih jauh telah menembus dinding-dinding kehidupan yang bernama pendidikan. Pendidikan sebagai media pencerahan dan pembebasan akhirnya tidak memiliki ruang gerak yang leluasa untuk mengatur dirinya, karena intervensi negara terhadap pendidikan telah mencakup keseluruhan sistem, mekanisme dan segala perangkatnya. Sehingga kemungkinan untuk menjadikan pendidikan memenuhi tujuan kemanusiaan secara hakiki, terasa musykil.

Pesantren adalah “aset” bangsa Indonesia yang cukup berharga. Karena selain sebagai pusat penyiaran Islam, pesantren juga memilki fungsi pendidikan dan pengembangan masyarakat sekaligus. Fungsi yang pertama mungkin sudah dibuktikan dalam sejarah, bahwa para walisongo konon memusatkan kegiatan sosial-keagamaanya di pesantren-pesantren. Sedangkan fungsi yang disebut terakhir, meskipun secara substansial juga tidak jauh berbeda dengan fungsi yang pertama, namun pada tataran taktik dan strategi lebih terfokus pada penyelenggaraan pendidikan secara sistematis dan terarah. Untuk memenuhi tujuan dan fungsi yang terakhir inilah pesantren kemudian mulai menerapkan sistem klasikal dalam penyelenggaraan pendidikan santrinya. Sistem klasikal –yang dalam pesantren lebih dikenal dengan sebutan madrasah—inilah yang menjadi titik tolak modernisasi pesantren.

Proses dialektika pesantren dengan modernisasi  yang sampai kini masih berlangsung ini, memang hasilnya dapat kita rasakan bersama, dan hal inilah yang menjadikan pesantren tetap survaive  hingga. Sekedar contoh, dalam konfigurasi politik dan intelektual kampus, banyak alumni pesantren yang mampu bersaing bersama-sama dengan pihak-pihak lain yang bukan dari pesantren.

Dalam konteks pesantren, negara (State), melalui kurikulum nasional yang diwajibkan bagi lembaga pendidikan –tak terkecuali lembaga pendidikan yang ada di pesantren—dengan sangat mudah melakukan kerja-kerja kekuasaan (menguasai) kesadaran kolektif masyarakat, termasuk santri. Jadi pesantren dan santri sebagai komunitasnya, praktis tidak lepas dari kontrol negara. Akibatnya tidak jarang pesantren yang menjadi agen atau penyambung lidah penguasa.

Pesantren dinilai sebagai institusi pendidikan yang ideal untuk diterapkan pada saat sekarang ini. Pesantren dianggap sebagai lembaga yang dapat membentuk manusia unggul untuk menggapai kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Lulusan pesantren diharapkan memiliki kemampuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang didukung pengetahuan (sekaligus pengalaman) keagamaan yang mumpuni. Sehingga, tidak heran jika kemudian banyak pihak (terutama pemerintah) turut campur dalam menentukan perjalanan masa depan pesantren.

Namun, seiring dengan perubahan zaman yang semakin cepat, pesantren tidak dapat menghindar dari arus kemodernan. Oleh karena itu pesantren tetap pada khittahnya, yakni pesantren harus dapat membuktikan bahwa dengan kemajuan teknologi informasi yang pesat pesantren dapat menghadapi dan tetap dapat melestarikan nilai-nilai kepesantrenannya. Cita-cita luhur pesantren sebagaimana yang telah diwariskan para ulama terdahulu harus tetap dapat diwujudkan yang tentunya juga harus dapat menghasilkan lulusan yang mampu untuk bersaing di zaman sekarang. Dengan bahasa lain, “al-Mukhafadatu ‘ala Qodim al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlakh.” Pesantren harus dapat membentuk manusia yang tidak hanya “shalih” ketika di akhirat, melainkan juga harus dapat membentuk manusia yang “shalih” di dunia. Walhasil, bagaimana seyogyanya pesantren dapat menciptakan pribadi-pribadi manusia yang mencapai kebahagiaan di dunia sebagai wujud perantara menuju kebahagiaan di akhirat yang akhirnya terbentuk kehidupan yang seimbang.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang erat antara Islam dan Negara. Umat Islam yang dalam hal ini diwakili oleh santri yang belajar di pesantren mempunyai fungsi vital bagi Negara ini. Yaitu melalui pendidikan yang kita ketahui bahwa pendidikan sangat berperan penting dalam kemajuan bangsa ini. Berpendidikan merupakan salah satu karakter umat Islam. Seperti dalam ayat-Nya

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-

lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al Mujadalah: 11)

Selain itu pendidikan mampu membentuk manusia yang unggul dan berkwalitas yang tentunya sangat dibutuhkan dalam pengembangan iptek. Islam mampu mengendalikan dan mengarahkan penggunaan teknologi untuk kepentingan umat manusia secara keseluruhan. Dengan panduan agama Islam ini teknologi dapat dikembangkan dan diarahkan untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat bagi kehidupan, membawa keselamatan dan kebahagiaan umat manusia. Selain itu perkembangan iptek yang pesat akan semakain memudahkan manusia khususnya dalam melaksanakan roda pemerintahan suatu Negara.

Kaitannya dengan agama Islam, pemerintah berkewajiban melindungi penduduk dalam melaksanakan ajaran agama dan ibadat, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, tidak menyalahgunakan atau menodai agama, serta tidak mengganggu ketentraman dan ketertiban umum. Jadi hubungan lain antara Islam dan Negara adalah keduanya mempunya hak dan kewajiban dalam pelaksanaan ajaran Islam. Negara berkewajiban untuk melindungi pelaksanaan ajaran Islam dan kita sebagai umat Islam juga dilarang menyalahgunakan atau menodai agama serta tidak melanggar undang-undang yang berlaku di Negara ini.

Kita ketahui pula bahwa dalam kehidupan pesantren tumbuh ukhuwah islamiyah yang kuat antara yang satu dengan yang lain. Rasa tolong menolong dan toleransi pun cukup tinggi. Mereka juga saling menjaga silaturahmi karena menyadari bahwa hal tersebut mendatangkan banyak manfaat. Hal ini merupakan sebagian dari sifat Islam yang penuh dengan kedamaian. Dengan ini jelas bahwa Islam mampu menciptakan kedamaian bagi Negara dan bangsa.

Perintah Allah agar kita menjaga silaturahmi tertuang pada Q.S Annisa : 1

“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah

menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

“ Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. “ (Q.S al-Hujurat : 10)

Islam perperan dalam menentukan corak bangsa Indonesia. Indonesia dapat ditentukan corak kebudayaannya melalui penduduknya tersebut. Dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam dapat diketahui bahwa corak kebudayaannya pun seharusnya bercorak Islami. Indonesia yang terkenal ramah tamah penduduknya, menghormati orang lain, hal ini merupakan corak Islami yang ditonjolkan oleh bangsa kita.

Di abad modern ini, di kala semua kebudayaan dari pelbagai penjuru dunia masuk ke dalam lingkungan kita, mau tidak mau Islam harus berinteraksi dengan sederetan fenomena yang secara global disebut ”negara bangsa” (nation-states). Tidak mudah bagi kita, kaum muslimin untuk mencernakan keharusan historis untuk berinteraksi itu, dan kesulitan inilah yang sebenarnya melandasi ”kegaduhan dialog intern” dalam Islam dewasa ini.
Munculnya apa yang disebut ”fundamentalisme Islam” dan hal-hal yang sejenis adalah salah satu sisi dari interaksi intensif antara Islam dan wawasan kebangsaan. Karenanya, di sinilah relevansi membicarakan kaitan antara Islam dan masyarakat bangsa, masyarakat yang timbul sebagai lingkungan hidup sosial dari negara bangsa, seperti pada Indonesia, negara kita.
Jika mau dilihat sepintas lalu saja, sebenarnya al-Qur”an sendiri telah menyinggung entitas yang bernama bangsa itu (Q.S. al-Hujuraat[49]:13).

“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. “

Pengertian al-Qur”an di atas terbatas hanya bangsa sebagai satuan etnis yang mendiami teritorial yang sama. Sedangkan wawasan kebangsaan di masa modern ini sudah berarti lain, yaitu satuan politis yang didukung oleh sebuah ideologi nasional. Penjelmaan pengertian ini adalah konsep negara-bangsa.

Dalam Islam juga di ajarkan untuk salain mengasihi antar sesama tapi juga mencintai bangsa, tanah air Indonesia. Dalm hadis disebutkan bahwa cinta tanah air  merupkan bagian dari iman kita.

حُبُّ اْلوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ

“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”

Akhir-akhir ini pesantren dipandang mempunyai citra yag kurang baik dimata publik. Hal ini dikarenakan terjadinya formalitas pendidikan. Kini sistem pembelajaran di pesantren juga banyak diadopsi pada sistem pendidikan modern. Namun menurut saya prinsip dasar bahwa pesantren masih merupakan sistem pendidikan yang mencetak santri-santri yang berkwalitas masih tetap dijalankan.

Negara Indonesia bukan merupakan negara Islam dan Islam itu fleksibel terhadap perkembangan zaman khususnya di Indonesia. Islam tidak membelenggu wanita, justru Islam mempunyai peran yang melindungi wanita. Dalam film perempuan berkalung sorban wanita di larang pergi kemana-mana bahkan pergi ke luar kota untuk menuntut ilmu atau kuliah mereka juga dilarang berkarya. Dalam era modern seperti sekrang ini seharusnya wanita mempunyai kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam hal menuntut ilmu. Apalagi pendidikan sangat penting untuk kemajuan bangsa. Menurut pandangan Islam, wanita boleh saja pergi kemana-mana asal ditemani oleh muhrimnya karena dikhawatirkan dalam perjalanan terjadi bahaya yang mengancam. Sebenarnya dalam film tersebut pastilah ada pesan dari sang produsen film bahwa wanita seharusnya mempunyai peran dan derajad yang sama dengan laki-laki, dalam berkarya, menuntut ilmu dan menjadi seorang pemimpin.

Tentang tradisi poligami di kalangan kyai pondok pesantren tergantung pada sudut pandang setiap orang. Ada setuju dengan poligami dan ada pula yang menolak dengan berbagai alasan masing-masing. Menurut hukum di negara Indonesia maupun Islam poligami merupakan sesuatu yang tidak terlarang. Dalam Islam hal tersebut boleh asal tidak melebihi empat isteri. Poligami yang terkenal dilakukan oleh kyai pondok pesantren adalah hanya segelintir realita yang tidak bisa menjadikan perwakilan kondisi kyai-kyai lain bahwa mereka juga melaksanakan poligami.

2.5 Simbiosis mutualisme antara Islam dengan Negara

Sebagai rahmatan lil alamin islam tak dapat dipisahkan dalam setiap sendi-sendi kehidupan setiap manusia.. Dalam setiap bidang yang diisinya, Islam memiliki peran yang sangat penting. Tak terkecuali dalam bidang pemerintahan dan Negara, dimana Islam dan Negara khususnya Negara Indonesia memiliki perannya masing-masing dalam proses penyejahteraan umat manusia serta tak dapat dipisahkan satu sama lain, hal ini sesuai dengan Al Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. ( An Nisa:59)
Jelaslah bahwa setiap orang beriman harus taat kepada Allah, Rasu dan Pemimpin diantaranya( ditafsirkan sebagai pemimpin Negara). Sehingga muncul keterkaitan antara iman dalam islam dan konsep pemimpinm dalam Negara. Keterkaitan itu menimbulkan suatu timbal balik antara Negara dengan agama sehingga menimbulkan ketergantungan karena adanya peran masing-masing, baik itu peran islam dalam Negara atau peran Negara dalam Islam.

  1. A. Peran Islam dalam Negara

Islam mempunyai peran yang sangat penting di Negara Indonesia. Peran Islam di Negar Indonesia sudah ada sejak zaman kelahiran Negara Indonesia, perkembangan Negara Indonesia hingga kehidupan mendatang Indonesia

  • Peran Islam dalam Kelahiran bangsa Indonesia

Di dalam buku-buku sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, sudah menjadi suatu kepastian apabila muncul para pahlawan-pahlawan dari kalangan Islam seperti Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran diponegoro, Fatahilah dan sebagainya. Mereka melakukan ini semata-mata untuk jihad melawan penjajah yang mereka anggap sebagai kaum kafir. Sebagai mana disebut dalam firman Allah:

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.( Al Baqarah 190).

Tak hanya melalui perlawanan bersenjata saja, banyak di antara kaum muslim yang berjuang dengan menngunakan organisasi. Contohnya: H.O.S Tjokroaminoto dan Ahmad Dahlan dengan organisai-organisasi Islamnya seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, Persatuan Umat Islam, Nadhlatul Ulama dan Majelis A’la Indonesia

  • Peran Islam dalam perkembangan bangsa Indonesia

Seiring dengan berlalunya zaman, maka muncullah gerakan-gerakan Islam yang baru. Antara 1950-1954, mereka menolak gagasan pendirian negara Islam sekaligus menerima Pancasila sebagai dasar negara. Pada 1960-an, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Persatuan Islam Indonesia (PII) memainkan peran besar dalam demonstrasi menjatuhkan rezim Sukarno. Dominasi keduanya menandai signifikansi pertama inteligensia Muslim Indonesia pasca kemerdekaan.

Selanjutnya, lahir generasi generasi baru yang sebagian anggotanya lahir pada 1970-an dan 1980-an seperti Ulil Abshar Abdalla, Fachri Hamzah. Generasi ini, menurut Yudi, tidak homogen karena rivalitas para pengikutnya terutama mengenai masalah manhaj (metode penalaran), jaringan intelektual dan persaingan memperebutkan kepemimpinan. Harakah yang paling berpengaruh, ialah harakah yang dipengaruhi Ikhwanul Muslimin, yakni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan partai politiknya, Partai Keadilan Sejahteran (PKS) sebagai sarana untuk menegakkan demokrasi di Indonesia.

Jangan dilepaskan juga peran mahasiswa Islam pada saat ini bagi Indonesia. Mereka sangat besar adilnya dalam pnegakkan syariah Islam seperti melakukan aksi dukungan terhadap RUU Pornografi, Penggalangan bantuan untuk Palestina dan studi-studi mengenai Islam.

Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.( Yunus : 14)

  • Peran Islam untuk masa depan Indonesia

Sebagai agama yang universal dan berlaku sepanjang zaman,Islam sudah pasti dapat diterapkan guna menyongsong kehidupan masa depan yang lebih baik di Indonesia., Kita lihat sekarang mulai muncul bank-bank syariah dan lembaga perkreditan syariah yang pada akhirnya ditunjukkan kepada kemashlahatan ummat.

Tak ketinggalan juga peran politik di Indonesia yang semakin menjajikan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya partai-partai yang bernafaskan Islam dalam Pemilihan Umum serta Calon-calon legislative yang bernafaskan Islam. Bahakan ada partai Islam yang dapat menembus 4 besar Pemilu legislative Indonesia beberapa waktu yang lalu.

B. Peran Negara dalam Islam

Sebagai Negara dengan mayoritas muslim yang terbesar di seluruh dunia, Negara Indonesia sudah sepatutnya menjamin hak-hak kaum muslimin. Dalam pemenuhan hak-hak itu timbulah peran Negara Indonesia yang menjamin rakyatnya dari kaum muslimin.

Menurut Kelany, Pemerintah Indonesia mempunyai sejumlah kebijakan dalam pembangunan bangsa melalui pembinaan umat beragama, antara lain:

  1. Mendirikan Departemen Agama pada tanggal 3 Januari 1945, suatu departemen yang merealisasi sila pertama dari pancasila, dan sekaigus menjadi ciri khas Islam di Indonesia;

2.         Menetapkan undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan;

3.         Menyelenggarakan pengurusan ibadah haji di tanah air

4.         Membentuk Majelis Ulama Indonesia pada tahun 1975

5.         Melembagakan Musabaqah Tilawatil Qur’an secara Nasional dari tingkat rasional dari tingkat pusat sampai ke tingkat desa, mendirikan dan meresmikan Masjid Istiqlal sebagai masjid yang sepenuhnya dibiayai pemerintahan/Negara membentuk Badan Amil Zakat,dll

6.         Ikut serta membina kerukunan hidup umat beragama serta antarumat beragama, maupun antara umat beragama dan pemerintah

7.         Membentuk secara Yuridis-Formal sebagian hukum Islam, yaitu penyelenggaraan peradilan Islam di Indonesia, dengan undang-undang pada tahun 1989.

8.         Menetapkan hari-hari besar Islam sebagai hari libur nasional

9.         Mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan agam islam seperti Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, Universitas Islam Negeri, dan Universitas Islam Indonesia.

Oleh karena itu antara Islam dengan negara tidak dapat dipisahakan dan dipolarisasi satu sama lain karena Islam dan Negara mempunyai simbiosis mutualisme yang tak mungkin bisa hilang. Sebagai mana firman Allah dalam surat Al Hujurat ayat 13

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim Fathani. Wajah Baru Pesantren. www.cmm.or.id

Abdurrahman Taufik, Ahmad. “Pesantren Modern dan Pendidikan            Multikulturalisme”.2008.E:\data\Ruang Dalam Karyaku Pesantren Modern dan Pendidikan Multikulturalisme.mht (15 April 2009)

Ahmad Shidqie. Pesantren Vis a Vis Negara. http://www.gemainsan.press.

Ali, M. Daud. 1998. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT   Raja Grafindo Persada.

D., Kaelany H. 2009. Islam Agama Universal . Jakarta : Midada Rahma Press.

Departemen Agama RI. 2005. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung : PT Syaamil Cipta Media.

Hidayani, Nur. “Keluarga Sakinah sebagai Benteng untuk Menetralisir Kekerasan dalam Rumah Tangga”. http://www.google.com. (8 April 2009).

Ja`far Shodiq Syuhud. Peran Sosial Santri. www.jafarsyuhud.com

Khairunnisa, Kuni. “Islam Backing Feminisme?”. http://www.google.com. (8 April 2009).

Khairunnisa, Kuni. ”Mensinergikan Potensi Muslimah”. http://www.google.com. (8 April 2009).

Mengkritisi Film Perempuan Berkalung Sorban. http://www.google.com. (8 April 2009).

Mubarak, Zakky. 2007. Menjadi Cendekiawan Muslim. Jakarta : PT Magenta Bhakti Guna.

Saprudin, SP. ”Pandangan Islam Terhadap Wanita”. http://www.google.com. (8 April 2009).

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Wanita dalam Pandangan Islam. http://www.google.com. (8 April 2009).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s