Resensi Tarbiyah Dzatiyah

RESENSI TARBIYAH DZATIYAH

tarbiyah_dzatiyah

Judul : Tarbiyah Dzatiyah
Penulis : Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan
Penerjemah : Fadhli Bahri, Lc
Penerbit : An Nadwah
Cetakan : IX, September 2008
Tebal : 100 hlm

Akhi (Saudaraku), kenapa para sahabat Rasulullah SAW mampu tampil menjadi figur-figur hebat dengan ciri khas dan kelebihannya masing-masing? Padahal, guru mereka sama, yaitu Rasulullah SAW dan Islam yang diajarkan beliau juga satu? “ Begitulah tulisan yang berada pada cover belakang buku ini. Tulisan ini seakan menantang para pembacanya untuk mengetahui lebih dalam tentang jawaban dari pertanyaan tersebut. Tentunya, jawaban dari pertanyaan itu hanya dapat diperoleh dari dalam buku ini.

Buku ini mengupas tentang sisi lain pendidikan yang sering dilupakan oleh orang-orang. Selama ini orang-orang hanya mengira bahwa pendidikan hanya bisa didapat melalui kegiatan pasif yang berarti pendidikan hanya bisa “didapatkan”. Namun, buku ini menyediakan tausiyah-tausiyah untuk melakukan kegiatan pendidikan secara aktif yang berarti setiap orang bisa “mendapatkan” pendidikan. Hal ini bisa dibuktikan dari definisi tarbiyah dzatiyah yang diberikan oleh buku ini: tarbiyah dzatiyah ialah sejumlah sarana tarbiyah (pembinaan), yang diberikan orang Muslim, atau Muslimah, kepada dirinya, untuk membentuk kepribadian yang islami yang sempurna di seluruh sisinya; ilmiah, iman, akhlak, sosial, dan lain sebagainya, dan naik tinggi ke tingkatan kesempurnaaan sebagai manusia. Atau dengan kata lain, Tarbiyah Dzatiyah ialah tarbiyah seseorang terhadap diri sendiri dengan dirinya sendiri.

Lantas mengapa kita perlu melakukan pendidikan terhadap diri kita sendiri? Buku itu telah menjawabnya dengan alasan-alasan sebagai berikut. Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain, analoginya jika terjadi kebakaran di rumah penduduk maka yang seseorang pikirkan adalah menyelamatkan dirinya sendiri, mustahil bagi seseorang untuk menyelamatkan orang lain sementara dirinya saja belum selamat. Firman Allah dalam surat At-Tahrim

6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Tarbiyah dzatiyah juga diperlukan karena kelak hisab bersifat  individual.

//

Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Al Maryam : 95). Peran tarbiyah dzatiyah yang lain adalah lebih mampu mengadakan perubahan.

Setelah mengetahui urgensinya, lalu bagaimana caranya melakukan terbiyah dzatiyah? Terdapat 8 sarana untuk melakukan tarbiyah dzatiyah yaitu muhasabah, taubat dari segala dosa, mencari ilmu dan memperluas wawasan, mengerjakan amalan-amalan iman, memperhatikan aspek akhlak, terlibat dalam aktifitas dakwah, mujahadah, serta berdoa dengan jujur kepada Allah.

Kesemua sarana-sarana tarbiyah dzatiyah tersebut merupakan sarana-sarana yang penting, namun menurut saya ada 3 sarana yang paling penting di kalangan kehidupan mahasiswa yaitu, muhasabah, mencari ilmu dan memperluas wawasan serta terlibat dalam aktifitas dakwah.

Yang pertama adalah muhasabah. Banyak diantara mahasiswa yang terlalu banyak meluangkan waktunya untuk kegiatan duniawi misalnya pesta-pesta, pacaran, ngegosip (semoga saya tak seperti itu), mereka seakan terlupa bahwa kehidupan ini hanya sementara. Untuk menghindari sikap-sikap yang seperti itu maka diperlukan suatu muhasabah yang berarti evaluasi mengenai kebaikan dan kejahatan apa yang telah diperbuat oleh seseorang agar ia tak terperanjat ketika di hari kiamat nanti. Sedangkan yang kedua adalah mencari ilmu dan memperluas wawasan, hal ini diperlukan sebab, bagaimana seseorang dapat mentarbiyah yang benar, jika tidak tahu hal halal, haram, kebenaran, kebatilan, manhaj, dan sarana yag benar atau salah? Dan yang terakhir adalah terlibat dalam aktivitas dakwah,sarana itu diperlukan karena Allah menyebutkan di surat Al Asr bahwa orang yang tidak rugi di akhirat ialah orang-orang yang mempunyai empat sifat yaitu beriman kepada Allah,berama shalih, saling berwasiat kepada kebenaran, dan saling berwasiat untu sabar. Sifat kedua dan ketiga tak mungkin dapat direalisir kecuali di jalan dakwah di jalan Allah.

Saya rasa buku ini wajib dimilki oleh para pendakwah sebagai dasar awal pengembangan diri menuju dunia dakwah. Selain itu, buku ini tidak terlalu tebal dan penuh dengan kata-kata penyadaran diri sehingga bisa menggiring pembaca menuju peningkatan ruhiyah.

Agung Supriyadi

FKM 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s