Judul : Fiqh Dakwah Penulis : Syaikh Mus…

Judul : Fiqh Dakwah
Penulis : Syaikh Mushtafa Masyhur
Penerjemah : Abu Ridho
Penerbit : Al – I’tishom
Cetakan : IV, September 2005
Tebal : 506 hlm

Buku bersampul hitam ini membahas tentang pergerakan islam dan berbagai hal serta persoalan yang ada di dalamnya. Namun, saya tak akan merangkum semua materi dalam buku ini, sebab yang menjadi tugas saya hanyalah mencari tahu tentang Amal Jama’I yang tersurat dalam buku ini. Setelah sebelumnya membahas tentang tarbiyah dzatiyah yang kebanyakan membahas tentang pengembangan individu, kali ini saatnya masuk untuk membahas amal jama’i.

Amal Jama’i ialah suatu perbuatan baik yang sesuai dengan kaidah islam dan dikerjakan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang sama. Lantas, mengapa amal jama’I penting? Bukankah islam dapat teguh cukup dengan keimanan relatif masing-masing individu? Memang, sasarn besar yang wajib dicapai, sekaligus menjadi kewajiban setiap muslim dan muslimah, mustahil dapat dicapai melalui upaya fardhiyah (individual). Tanpa adanya Jama’ah yang mengorganisasikan seluruh potensi yang ada, menggariskan langkah-langkah perjuangan, mempersiapkan sarana dan fasilitas. Selain itu, dalam kaidah ushul fiqh disebutkan, “Suatu kewajiban, jika tidak sempurna kewajiban tersebut kecuali dengannya, maka ia adalah wajib.”

Buku ini juga membahas beberapa penyimpangan yang terkait dengan amal jama’i, yaitu :

1. Meremehkan Amal Jama’i
Meremehkan amal jama’i adalah menganggap cukup amal fardhi (gerakan individual). Analoginya, pencopet yang beroperasi di suatu tempat saja memiliki seorang pemimpin dan sebuah “jamaah” dan mereka menjadi kuat di dengan jamaah itu. Nah, mereka saja yang bergerak dalam kegiatan yang merugikan bisa membuat jamaah, masa kita yang bergerak dalam tujuan yang mulia tidak mempunyai jamah?tidak mempunyai pemimpin? Bukankah Islam mengajak kepada terhimpunnya potensi dan kesatuan kaum muslimin, serta melarang pada perpecahan?

2. Banyaknya jam’ah dan pemimpin.
Banyaknya kelompok lebel dan kepemimpinan dapat melemahkan dan memecah belah potensi serta membingungkan generasi muda, bila mereka mau memilih jalan perjuanagn islamnya. Bersama jama’ah mana mereka akan berjuang?Ingat, bagi pemuda Islam persoalan perjuangan Islam merupakan persoalan sangat menentukan. Bukan persoalan sampingan. Karena itu, kesalahan memilih jama’ah akan berakibat fatal.

3. Friksi-friksi dalam jama’ah.
Friksi-friksi dalam jamah ini biasanya terbentuk karena adanya usaha seseorang atau sekelompok orang yang keluar dari jama’ah dan membentuk semacam jama’ah tandingan atau tanzhim (penataan) tersendiri yang berotonomi penuh dalam tanzhim umum jamaah. Berupaya melakukan tekanan kepada pemimpin untuk melahirkan komitmen tertentu dari pendapat yang dipertahankan. Tindakan-tindakan ini tentu sangat merugikan karena akan menimbulkan perpecahan atau adanya sekelompok jama’ah, melakukan pemaksaan terhadap pemimpin agar tunduk kepada undang-undang jama’ah dan beriltizam dengan aturan yang dikehendaki.

4. Bergantung pada individu lebih kuat.
Hal ini berakibat pribadi tersebut akan tergantung pada individu yang lebih kuat tersebut, yang berakibat mereka tidak mempunyai kemandirian dan efektifitas kerja dalam jama’ah.

5. Menimbulkan Perselisihan
Perselisihan ini dapat timbul dikarenakan adanya pembesaran perbedaan-perbedaan yang ada dalam jama’ah serta terlalu mengikuti syaitan. Jika perselisihan muncul, maka akan mengakibatkan tertundanya pencapaian tujuan, bahkan mungkin menyebabkan kegagalan total.

6. Keluar dari jamaah
Biasanya keluar dari jamaah disebabkan oleh nafsu pribadi seperti gila pangkat,ingin menang sendiri, karena kesombongan dan lainnya. Keluar dari jamaah hanya akan menimbulkan kerugian bagi individu yang membelot tersebut karena tak mendapatkan pelajaran dari dakwah serta tak mendapatkan berkah. Sementara, jamaah tak akan mendapatkan kerugian apa-apa justru akan mendapatkan keuntungan karena keluarnya orang-orang yang berwatak pemecah, atau orang-orang yang tidak memelihara persatuan.

7. Tidak memenuhi akan bai’ah
Bai’ah adalah janji-janji yang disepakati sebelumnya. Seseorang yang tak mematuhi seluruh rukun bai’at dianggap kurang sempurna. Kekurangan ini akan mengakibatkan kekurangan-kekurangan lainnya serta akan terjadi penyimpangan dari khithah semula.

8. Perasaan lebih tinggi
Jamaah yang baik ialah jamaah yang menghargai perbedaan antara individu atau perbedaan dengan jamaah lain. Hal ini penting, sebab bila tidak dilaksanakan maka justru akan timbul benih-benih perpecahan islam dari dalam.

Agung Supriyadi
FKM 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s