SEBUAH KARYA TULIS DAN BEBERAPA JAM DI WARNET

Nang, bangun nang sudah azan subuh lho, solat sana.” Terdengar suara khas seorang perempuan tua dari kamar sebelah. Ah, aku ingin sekali memasang peredam suara agar suara itu tak terdengar atau sebuah penutup telinga atau apalah agar aku bisa terlelap dalam tidur ku kembali. Kucoba pura-pura tidak mendengar suara itu, namun, sang perempuan itu malah masuk ke kamarku, membelai kepalaku sambil berkata “Nang bangun nang, keburu komat”. Dia membuka lemari bajuku lalu menyiapkan sebuah baju koko putih yang sudah terlihat kusam dan sebuah sarung. “Ayo Budi bangun.” Sekali lagi dia mencoba membangunkan aku. Baiklah, lagi-lagi aku menyerah dari pertarungan antara aku dan perempuan ini. Baju koko dan sarung itu kemudian ku pakai, mengucek mata sebentar, mengoled, menguap lalu pergi solat subuh berjamaah di masjid.

30 menit kuluangkan waktuku di masjid untuk solat dan bertasbih memuji asma-Nya. Setelah halaman terakhir alma tsurat ku baca, lalu aku mengambil sandalku untuk kembali ke rumahku. Udara yang masih dingin, embun, pemandangan Bukit Brojo serta aspal Desa Made menemaniku berjalan menuju rumah. Tak percuma aku memilih untuk solat subuh ketimbang tidur karena aku dapat menghirup segarnya udara Desa Made dan pemandangan yang indah ini.

Ku lihat rumahku dari kejauhan, atapnya hitam, dinding kayunya sudah banyak yang dimakan rayap, dan kandang sapi yang sudah hampir rubuh. Semenjak meninggalnya bapak, memang rumahku jarang dirawat, bukan karena penghuninya malas untuk merawat, tapi karena kami tak mempunyai uang untuk merawatnya. Uang terkahir untuk memperbaiki rumah, kami peroleh dari hasil menjual Si Endut, Sapi Betina kami. Lama-lama aku malas memandang rumahku. Aku palingkan pandangan mataku dari keadaan rumahku, aku ketok pintu rumahku sambil berkata “Assalamualaikum, Mbok.“ Tak berapa lama kemudian, perempuan yang membangunkanku untuk sholat subuh tadi membukakan pintu.

Kupanggil dia Mbok. Dia adalah ibuku. Wajahnya sudah menunjukkan bahwa ia tidak muda lagi. Tampaknya ia semakin cepat menua setelah Bapak meninggal. Mungkin ia stres karena harus menghidupi aku dan menyekolahkanku. Setiap hari dia harus bangun jam setengah empat untuk memotong tempe,singkong,dan ubi kemudian menggoreng semua umbi itu. Mbok selalu menunggu pulang dari sholat subuh, menyodorkan aku sarapan dan memberikanku segelas teh hangat pahit setelah itu dia berangkat ke pasar untuk menjual gorengan. Mbok adalah wanita yang tegar dan tak pernah menyerah demi anaknya. Aku ingin sekali berhenti dari sekolah untuk menggantikan di berjualan,namun Mbok selalu melarang ku kata Mbok dia tak akan menukar masa depanku demi beberapa uang lima ratus. Mbok lah yang memberikan semangatku untuk terus bersekolah, terus mendapatkan nilai yang tertinggi. Aku pasti akan merasa berdosa apabila aku mendapatkan nilai jelek. Mungkin, dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmulah usaha terbesarku untuk membahagiakan dia dan membalas jasanya, walaupun ku sadar jasanya tak akan pernah bisa dibalas secara sempurna oleh ku.

Setelah Mbok berangkat, aku menghabiskan sarapan dan teh pahit yang diberikan Mbok tadi. Menu sarapanku adalah dua potong tempe goreng dan setengah piring nasi. Aku bersyukur masih bisa sarapan meskipun dengan menu yang minimalis. Kucuci piring dan gelas bekas sarapan, kemudian segera mandi. Pukul 06.00 aku berangkat menuju sekolah. Aku memang harus berangkat satu jam sebelum pelajaran sekolah dimulai. 2 KM jarak dari sekolah dan rumahku. Aku harus menempuh jarak itu dengan berjalan kaki. Sebenarnya ada omprengan yang melewati sekolahku,namun karena aku tak mempunyai uang dan omprengannya sering mogok, aku menjadi enggan untuk naik ke omprengan itu. Aku memilih menembus hutan, melewati sawah serta menanjak bukit ketimbang naik omprengan itu.

Tak ada istimewa dari sekolah kali ini, hanya beberapa pemberitahuan dan motivasi dari beberapa guru agar aku dan teman-teman kelas 12 yang lain semangat dalam mengahadapi Ujian Nasional yang tinggal menghitung bulan. Aku masih tak mengerti kenapa uang yang harus dikeluarkan Mbok untuk sekolahku tiga tahun serta waktu yang kubuang selama sekolah harus ditentukan hanya dalam 6 jam Ujian Nasional. Mau tak mau aku harus belajar keras seperti anak kelas 12 yang lain bahkan harus lebih belajar keras daripada anak kelas 12 yang lain. Rencananya, setelah aku lulus dari SMA 2 Pancasila Kabupaten Wonogiri ini aku hendak melanjutkan ke Universitas Indonesia. Mungkin rencana itu terlalu muluk untuk seorang wong ndeso dan miskin sepertiku. Tapi, apa salahnya punya rencana? Toh yang penting aku berkerja keras dan berdoa.

Tepat pukul 15.00 aku berada di depan rumahku. Di sana aku melihat sebuah mobil Toyota Rush bernomor polisi B 4532 MN. Sebuah mobil yang tak asing bagiku. “Assalamualaikum.” Ku ucapkan salam bagi orang yang ada dalam rumah. “Walaikumsalam.” Suara itu terdengar seperti acapella dengan campuran Bas,Tenor dan Alto yang tak beraturan. Rupanya suara acapella yang tak beraturan itu dihasilkan dari suara Mbok, Pakde Agus dan kedua anak kecilnya.

Piye kabare bud?udah lama kita ndak ketemu.” Pakde Agus menyapaku. “Apik tenan Pakde.” balas ku. Pakde Agus adalah seseorang yang tak memiliki hubungan keluarga dengan kami. Aku memanggil dia “pakde” semata-mata karena Mbok yang menyuruhku demikian. Dia akrab dengan keluarga kami karena dia pernah diselamatkan bapak dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya beberapa tahun yang lalu. “Mas budi, apa kabare?” Sahut 2 orang anak kecil imut di sebelah pakde,mereka lalu meraih tanganku dan menciumnya. Berkat Bapak lah Keluarga Pakde dan keluarga kami bisa akrab seperti ini.

Satu hal yang paling kusenangi dari kedatangan Pakde adalah oleh-oleh yang selalu dibawanya. Kali ini Pakde membawa oleh-oleh berupa sepaket pizza dan donat. Aku tak merasa kesulitan ketika menyantap donat karena kue donat mirip dengan kue cincin yang dijual di kantin sekolahku. Ceritanya berbeda ketika aku menyantap pizza. Mulanya aku kira pizza bukanlah makanan yang tak boleh ditelan, hanya dikunyah saja karena bentuknya lengket seperti permen karet. Aku baru menelan pizza setelah 10 menit mengunyahnya, itu pun aku telan karena pak de memberitahuku agar menelan pizza itu. “Hahahahahaha” Kontan saja Mbok, Pakde dan kedua anaknya tertawa terbahak-bahak karena kelakuan ndeso ku.

Belum hilang rasa kagumku terhadap pizza yang pakde bawa, tak berapa lama kemudian pakde mengeluarkan sebuah alat dari tasnya. Alat itu berbentuk seperti televisi namun memiliki tombol seperti kalkulator tepat di bawahnya. Di belakang alat itu terdapat tulisan Acer. “Waw, kalkulatornya besar.” Kata ku kepada pakde. “Bud, iki namane laptop dudu kalkulator,hahaha.” Pakde menjawab sambil tertawa. Ah, lagi-lagi aku dipermalukan oleh dunia modern yang dibawa Pakde.  Dia kemudian memegang sebuah benda berwarna putih yang dihubungkan dengan laptop melalui sebuah kabel. “Iki mouse bud.”Pakde tampaknya tahu akan kebingunganku. “Sini bud, tak ajari maen internet”. “Internet? internet tuh apa?” Benakku. Aku menghampiri Pakde, kemudian ia menggoyangkan mousenya. Aku baru sadar ketika ia menggoyangkan mousenya, tanda panah di layar pun ikut bergoyang.

Ya, akhirnya aku sedikit mengerti tentang laptop yang sebetulnya mirip dengan sebuah alat yang ada di ruang kepala sekolah. Kalau tidak salah mereka menyebutnya komputer. Aku pernah melihat guruku menggunakan komputer itu sewaktu mengetik surat pemberitahuan keterlambatan pembayaran SPP beberapa waktu lalu. Aku juga sedikit mengerti tentang internet, ternyata aku bisa mencari informasi apapun dari sana.

Pakde menginap semalam di rumahku. Senang sekali rasanya bisa bersama pakde dan kedua anaknya. Sepanjang malam aku terus bermain dengan kedua anak pakde yang lucu dan menggemaskan serta sedikit bermain kartu di laptop Pakde. Lumayan, ilmuku bisa bertambah dari sini.

***

Setelah subuh Pakde dan kedua anaknya kemudian pulang. Kadang aku bermimpi menjadi Pakde yang serba berkecukupan kelak di masa depan. Baiklah, aku rasa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk bermimpi, sekarang adalah waktunya untuk sekolah. Segera aku mengambil handukku, gayung, sabun, lalu aku berjalan menuju kamar mandi. Tak beberapa lama kemudian aku berangkat menuju sekolah.

“Budi, sini kamu” Kata wali kelasku dari ruang kepala sekolah. “Bud, kamu sadar tidak kalau kamu belum membayar 6 bulan uang SPP?” Tanyanya. Aku hanya terdiam menunduk. “Ini bukan sekolah gratis bud! Ini juga bukan sekolah moyangmu! Pokoke kamu tak boleh ikut Ujian Nasional kalau kamu belum membayar SPP nya!” Rupanya dia tak bisa menahan amarahnya lagi. Harus ku akui, Mbok memang tak sanggup untuk membiayai 6 bulan SPP ku. Uang hasil jualan gorengan hanya cukup untuk makan sehari-hari dan modal berjualan. Jika Bapak tak melarangku untuk menangis, tentu aku sudah menangis dari tadi. Kusadar menangis bukan merupakan jalan keluar. Aku hanya terdiam, meratapi nasibku. Nasib seorang anak yang mempunyai mimpi besar untuk masuk Universitas Indonesia, terlalu besar bahkan. Untuk ikut Ujian Nasional saja aku tidak sanggup apalagi masuk Universitas Indonesia.

Sesampainya di rumah, aku langsung berbaring karena kepalaku mau pecah rasanya. Kupandangi surat pemberitahuan keterlambatan membayar terakhir yang diberikan wali kelasku tadi. “Surat pemberitahuan terakhir” mungkin nama yang cocok karena aku memang tak sanggup lagi untuk membayar SPP dan itulah surat yang mengakhiriku pendidikanku di sekolah jika aku tak membayar uang SPP selama 6 bulan sebanyak tiga ratus ribu rupiah. Aku diberi batas terakhir bulan depan untuk membayar uang SPP.

“Bud, sudah makan belum?” seperti biasa Mbok melontarkan pertanyaan itu sehabis aku pulang sekolah. Aku tak menyahut, aku pura-pura memejamkan mata. Mbok kemudian menghampiriku, mengelus rambutku, kemudian sejenak ia berhenti mengelus rambutku. Ku buka kedua mataku, ku lihat Mbok sedang membaca surat pemberitahuan terakhir itu. “Mbok, sepertinya aku berhenti saja dari sekolah.” Kata ku. Ia meletakkan surat itu ke dadanya. Kemudian, ia tersenyum ke arahku, namun, ada yang aneh. Bibirnya tersenyum, sedangkan matanya mengeluarkan air mata.

“Jangan Bud, jangan berhenti dari sekolah.”

“Terus gimana Mbok?Apa kita bisa bayar SPP?”

“Mbok akan pinjam uang bud ke Pak Bejo.”

“Pak Bejo?” Aku tak bisa membayangkan apa jadinya Mbok dan aku jika Mbok jadi meminjam uang ke Pak Bejo, sang rentenir itu. Dua bulan yang lalu saja, tetangga belakang rumahku harus merelakan rumahnya disita oleh Pak Bejo karena tak mampu membayar bunga pinjaman dari Pak Bejo. Bagaimana jika rumahku disita nanti? Mau ke mana aku dan Mbok?

“Jangan Mbok, aku tak mau Mbok berurusan dengan rentenir itu.”

Kulihat air mata Mbok semakin deras keluar. Aku mengerti perasaan Mbok. Perasaan seorang ibu yang ingin melihat anaknya sukses namun, tak mempunyai modal materil.

“Seandainya bapak ada Bud.”

Jujur aku sangat benci kata-kata yang keluar dari mulut Mbok itu.

“Sudah lah Mbok, aku mau berhenti saja dari sekolah ini besok aku akan ke sekolah untuk memberitahu wali kelasku.”

Mbok terdiam. Diam tanda tak ada komplain atas ideku tadi. Diam tanda keterpaksaan setuju atas saranku tadi. Diam tanda peratapan terhadap nasib buruk kami.

***

Di tas aku kini telah berada sepucuk surat, buatanku sendiri, yang berisi pernyataan pemunduran diri dari sekolah. Surat ini kubuat karena aku tak ingin berpanjang kata hanya untuk keluar dari sekolah, aku hanya cukup memberikan surat ini ke wali kelasku. Surat ini juga kubuat karena Mbok tak sanggup untuk membuat surat ini. Kurasa,surat inilah akhir sejarah ku di sekolah ini.

Kuserahkan surat ini kepada wali kelas di depan pintu kelasku. Teman-teman sekelasku memandangiku dari balik jendela. Mungkinkah mereka memandangiku karena sudah mengetahui bahwa aku akan meninggalkan mereka? Ataukah mereka memandangiku karena aku hanya memakai sebuah kaus usang dan celana dekil pendek? Aku jelas tak mengetahuinya.

Kutinggalkan sekolah ini dengan perlahan dan penuh kesedihan sambil membayangkan aku masih mempunyai kesempatan untuk bersekolah selama 2 bulan lagi hingga aku meneyelesaikan Ujian Nasional. Kutatap bangunan sekolah ini, bangunan yang pastinya penuh kenangan bagiku. Pandangan ku berhenti di suatu papan, papan pengumuman sekolah. Di sana aku melihat namaku tercantum di sebuah kertas. Kertas yang berisi peringkat uji coba Ujian Nasional. Aku berhasil menjadi siswa dengan nilai tertinggi se-sekolah ini. “Ah, buat apa pintar tapi tak punya uang!” Kembali aku meratapi nasibku.

Pandanganku kemudian berhenti di sisi lain papan pengumuman. “Lomba Karya Tulis Siswa (LKTS) se-Kabupaten Wonogiri” begitulah judul sebuah poster yang ada di papan pengumuman. “Dinas Agama dan Pendidikan Kabupaten Wonogiri mengadakan Lomba Karya Tulis Siswa Kabupaten Wonogiri dengan tema “Pendidikan Islam”. Hadiah Juara Pertama : Rp. 750.000,00, juara kedua Rp. 400.000,00, juara ketiga Rp. 200.000,00”.

Setelah membaca poster ini, kemudian aku berpikir masih ada sebuah harapan untukku melanjutkan sekolah. Aku memutuskan untuk mengambil kembali surat pengunduran diri dari sekolah sambil bernegosiasi dengan wali kelasku.

“Ibu, bolehkah saya kembali untuk bersekolah jika saya mempunyai uang untuk membayar SPP?” Tanyaku.

“Tentu saja boleh.”Jawabnya

“Walaupun saya harus absen hingga bulan depan?” Bulan depan adalah bulan ditentukannya juara Lomba Karya Tulis Siswa.

“Baiklah,ibu akan menunggunya.” Wali kelasku sudah memberi kepastian.

Rasanya senang sekali hati ini. Allah masih sayang kepadaku dengan memberikan kesempatan ini. Aku bertekad akan menjadi yang terbaik demi mendapatkan hadiah lomba itu.

***

Mbok tidak mengetahui bahwa sebenarnya aku masih punya kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Aku tidak memberitahu dia karena aku takut Mbok terlalu berharap kepadaku. Lagipula, kalau Mbok tidak tahu tentang hal ini aku bisa membantu dia berjualan gorengan.

Kini, hari-hariku diisi dengan berjualan gorengan dari pagi hingga sore. Alhamdulillah, hasilnya lumayan untuk menambah uang makan. Sementara, malamnya aku sering habiskan untuk kunjungan beberapa ustad di Desa Made ini. “Sambil menyelam, minum air” kira-kira seperti itu peribahasa yang cocok untuk kegiatanku saat ini. Aku bisa membantu orang tua, bisa menambah ilmu tentang Islam juga, aku juga bisa mencari bahan untuk LKTS.

***

Sudah dua minggu berlalu dari pertemuanku dengan Poster LKTS. Sudah lima orang ustad kudatangi untuk mencari bahan untuk LKTS. Rencananya karya tulis ku akan berjudul “Kemajuan Pendidikan Islam di Masa Khalifah”. Sebenarnya, bahan yang ku kumpulkan sudah cukup. Namun, aku merasa tidak puas jika nanti dalam daftar pustaka karya tulis ku hanya tercantum sumber dari wawancara lima orang ustad, dan tidak ada sumber tertulis. Aku khawatir, para juri LKTS ragu akan karya tulisku karena sumber bahan LKTS ku yang minim.

Aku mencoba mencari tulisan yang berkaitan dengan judul LKTS ku. Aku sudah mencarinya di rumah ustad, perpustakaan madrasah dekat rumahku, pasar dan terminal. Namun, hasilnya tetap saja nihil. Kebingunganku bertambah ketika mesin tik Pak RT rusak. Rencananya aku ingin memakai mesin tik itu untuk membuat tulisan yang rapih. Akan tetapi, mesin tiknya malah rusak. Tampaknya aku akan menuliskan LKTS ku di kertas folio dengan tangan saja, tanpa mesin tik. Mungkin nanti para juri LKTS langsung merobek karya tulisku karena ditulis dengan tangan. Mungkin, mungkin saja.

***

“Toko Buku Gunung Agung” adalah tempat tujuan ku berikutnya untuk mencari bahan untuk LKTS. Aku ingin pergi ke toko buku itu karena aku melihat spanduk bertuliskan “Toko Buku Gunung Agung Diskon Up To 50%”. Setelah gorenganku habis di terminal, aku berangkat dengan sebuah bis merah menuju Kota Wonogiri. Terpaksa aku menggunakan uang hasil berjualan gorengan untuk ongkosku ke sana. Semoga saja bukunya ada di sana, juga semoga saja harganya tidak mahal karena aku hanya membawa uang hasil jualan gorengan hari ini saja.

Bis merah yang aku tumpangi ini berhenti tepat di depan Toko Buku Gunung Agung. Baru satu langkah ku injakkan kaki di lantai Toko Buku itu, tiba-tiba satpam menghentikan langkahku. “Kenapa?Apakah aku terlihat miskin?Apakah aku terlihat seperti gembel yang tak pantut masuk ke toko buku ini?” Aku mengomel dalam hatiku. Rupanya sang satpam menawarkan aku untuk meletakkan bakul gorengan di tempat penitipan barang. Astagfirullah, aku telah ber-suudzon.

Toko buku ini menawarkan koleksi buku yang cukup lengkap. Dari cara membuat pisang goreng hingga membuat blog, dari majalah otomotif hingga buku pelajaran, berbagai macam Al Quran pun ada di sini. “Nah, ini dia buku yang aku cari!” hatiku meloncat kegirangan. Judul bukunya “Tarbiyah di Masa Khalifah”. Aku segera membawa bukunya ke kasir, ups, aku lupa melihat banderol harganya. Masya Allah, harganya 45000 rupiah. Ku rogoh kontong ku, ku hitung recehan dan beberapa lembar uang kertas kumal. Jumlah totalnya hanya 25000 rupiah. Aku tak menyerah untuk mendapatkan buku ini, kutujukan langkahku ke petugas toko buku ini, kemudian ku ajukan sebuah pertanyaan

“Maaf mas, apakah saya boleh berhutang 20000 rupiah untuk mendapatkan buku ini?”

“(Dengan nada sinis), oh tentu boleh, tapi bukunya dirobek jadi dua bagian ya?”

Kemudian ku terdiam. Aku tahu dia sebetulnya menyindirku. Ku letakkan buku itu di lemari bertuliskan “ISLAM”. Ah, mengapa orang miskin selalu dijadikan korban padahal aku hanya ingin menambah ilmu pengetahuanku? Bukankah Rasulullah menyuruh kita untuk menuntut ilmu hingga negeri Cina?. Kulangkahkan kaki ku keluar toko ini dengan perasaan kecewa. Tak lupa aku mengambil bakul tempat gorenganku. Mungkinkah ini akhir dari perjalanan ku? Mungkinkah aku harus mengumpulkan karya tulis ku ini seadanya saja? Apakah aku akan mendapatkan hadiah dengan karya tulis yang hanya seperti ini? Banyak sekali pertanyaan dalam hatiku ini. Pertanyaan-pertanyaan itu seperti saling bereaksi satu sama lain membentuk satu senyawa baru: kesedihan! Aku benar-benar ingin menangis kali ini. Aku sangat takut bila aku kelak tak mempunyai ijazah SMA. Aku takut mengecewakan Mbok.

Tak ada pilihan yang lain untukku selain pulang. Itu dia bis merah yang mirip dengan bis yang aku tumpangi ketika hendak ke sini datang!. Masih dalam keadaan yang sangat kecewa, aku melangkah masuk  ke dalam bis. Tempat duduk dalam bis ini sudah penuh, terpaksa aku berdiri. Bis pun berjalan perlahan. Kupandangi jendela, di luar sana ku lihat anak-anak sebaya dengan ku memakai baju putih abu-abu. Mereka merokok, dengan rambut yang berantakkan dan tindik di bibirnya, terlihat sangat kumal sekali. Aneh, mereka berada di jalanan Kota Wonogiri pada saat jam sekolah. Sudah jelas,menurut perkiraanku, mereka bolos dari sekolah. “Ya Rabb, kenapa kau tak menukar saja aku yang ingin bersekolah dengan mereka yang tak menginginkan sekolah? Aku ingin sekali mempunyai kesempatan untuk bersekolah seperti mereka ya Rabb”. Jelas sekali, aku sangat amat kecewa dengan nasibku ini dan perilaku mereka yang tak menggunakan kesempatan mereka untuk menuntut ilmu di sekolah.

Aku tetap memandangi mereka dengan penuh iri hingga bis ini meninggalkan mereka di belakang. Jendela ini pun perlahan berganti pemandangan. Sepanjang jalan Kota Wonogiri hanya terlihat toko-toko berjejer dengan jarak yang cukup rapat. Tak ada toko yang cukup istimewa bagiku.

Supir bis ini dengan sangat halus meningkatkan kecepatannya. Aku pun semakin cepat meninggalkan Kota ini tanpa hasil apapun. Sejenak aku menarik nafas dengan dalam, dan mengeluarkannya dengan perlahan. Temanku pernah berkata padaku, bahwa dengan cara ini beban yang ada akan sedikit berkurang. Aku kembali memandangi jendela. Penglihatanku langsung tertuju pada sebuah toko dengan spanduk yang bertuliskan “warung internet”. Rasanya aku pernah mendengar kata itu. Aku mecoba menelusuri ingatanku, mencoba untuk mengetahui dari mana aku pernah mendengar kata “warung internet”.

Subhanallah! Aku ingat sekarang, ya benar-benar ingat! “Internet”, aku pernah mendengarnya dari Pakde. Aku ingat semua pelajaran tentang internet yang diajarkan Pakde kepadaku. Aku ingat bahwa aku bisa mendapatkan informasi apapun dari internet! Jika semua informasi dapat kutemukan dari internet, maka mungkin aku juga bisa mendapatkan informasi tentang tema karya tulisku ini. Alhamdulillah, ya Rabb, Tiada kekuatan selain Engkau, tiada yang dapat memberikan pertolongan selain Engkau ya Rabb.

Aku segera memukulkan tanganku ke atap bis beberapa, tanda aku ingin berhenti di sini. Untunglah bis ini berhenti tak begitu jauh dari warung internet. Aku berlari-lari kecil menuju tempat itu, lari-lari kecilku ini mungkin  mirip dengan sa’i nya orang yang berhaji. Aku membuka pintu warung internet itu. Kulihat di sebuah papan terdapat tulisan “2500/jam”. Alhamdulillah, dengan uang yang ku miliki ini aku bisa mencari bahan di internet hingga 10 jam, aku rasa itu lebih dari cukup.

Setelah login, aku segera meng-klik ikon Mozilla. Kemudian, aku tik www.google.com di alamat website yang ingin aku tuju. “Pendidikan Khalifah”, “Tarbiyah Khalifah”, dan “Ilmu di masa Khalifah” adalah beberapa kata kunci yang aku pakai. Alhamdulillah, hanya beberapa menit setelah aku login aku mempunyai bahan yang cukup untuk karya tulisku ini. “Sambil menyelam minum air”, seperti pepatah itu, aku memanfaatkan waktuku di depan komputer untuk menyalin karya tulisku dari lembaran folio ke tulisan dengan format .doc.

Total waktu yang ku habiskan adalah 5 jam untuk membuat sebuah karya tulis. Aku ingin sekali pulang karena aku sangat lelah hari ini, namun aku masih penasaran dengan dunia internet. Aku mencoba mencari berbagai informasi lain tentang islam. Aku menggunakan kata kunci “Islam dan penerapannya”, “Dakwah Islam”, “Fiqh shalat”, “Ikhwanul Muslimin”, “Jihad dan Terorisme” dan beberapa kata kunci lain. Ternyata, aku menemukan banyak sekali informasi mengenai kata-kata kunci tersebut. Aku yakin, banyak sekali informasi tentang Islam yang dapat aku cari di sini. Aku yakin, media internet merupakan media yang tepat untuk menyiarkan Islam ke seluruh Indonesia, ke seluruh dunia bahkan. Aku yakin dengan media internet ini, Ketinggian Islam akan terlihat oleh siapa pun,dan di mana pun tempatnya. Aku yakin ke semua hal itu, sangat yakin!

***

Dua tahun berlalu dari pencarian ku di warung internet itu. Kini, aku telah memiliki sebuah jaket kuning yang mempunyai makara berwarna ungu. Dua tahun berlalu dari pencarianku di warung internet itu. Kini, aku adalah Mahasiswa Universitas Indonesia Jurusan Faklutas Kesehatan Masyarakat. Uang 750000 rupiah yang ku dapatkan dari LKTS ku gunakan untuk melanjutkan sekolahku serta membayar biaya Ujian Masuk Bersama. Kini, aku bukanlah tukang gorengan di terminal Kabupaten Wonogiri! Aku adalah mahasiswa! Mahasiswa Universitas Indonesia! Alhamdulillah, semua ini tercapai berkat pertolongan Allah melalui ketinggian Islam yang ada di jaringan internet. Alhamdulillah…

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Al Mujadillah: 11)

Supriyadi,

19 November 2009

Iklan

2 thoughts on “SEBUAH KARYA TULIS DAN BEBERAPA JAM DI WARNET

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s