Palestina ku sayang

Kontroversi tentang Palestina memang selalu menarik untuk dibahas. Di negri ini terdapat kota Jerussalem yang  merupakan kota suci bagi agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Di negri ini pula terdapat perseteruan antara Palestina dan Israel.Perseteruan antara kedua pihak itu seakan membagi manusia menjadi dua kelompok, yaitu kelompok manusia yang mendukung pembentukan negara Israel di Palestina dan kelompok yang menolaknya.

Di dalam sebuah film berjudul “Where in the is Osama bin Laden” yang disutradarai oleh Morgan Spurlock, terdapa satu scene di mana seorang rabi yahudi dari Israel berkata, “ We jews are the rightful owner of this land. It was a land   that was promised to them by the Almighty, who kept his promise and brought us back.” Kurang lebih arti dalam bahasa indonesianya adalah seperti ini: “Kami Yahudi adalah pemilik yang berhak atas tanah ini. Ini adalah tanah (maksudnya tanah palestina) adalah tanah yang dijanjikan untuk mereka oleh Yang Maha Kuasa, yang menepati janjinya dan membawa kami kembali.”.  Berbekal “janji” Tuhan itulah yang dijadikan dasar oleh banyak warga Israel untuk “kembali” ke Palestina. “Janji” Tuhan itu juga yang dijadikan alasan bagi mereka yang mendukung pembentukan negara Israel untuk terus mendukung meskipun harus menyakiti warga Palestina.

Tak hanya menimbulkan perbedaan pendapat di tingkat dunia, bahkan kami, mahasiswa Universitas Indonesia, pun mengalami hal yang sama. Sudah menjadi pemandangan umum di Universitas Indonesia banyak dari mahasiswanya mengenakan aksesoris Palestina, entah itu berupa pin, stiker, ataupun bendera yang mereka pasang di jaket almamater mereka.Mereka pun tak segan untuk melakukan demo, menggalang donasi, serta menyelenggarakan acara untuk Negeri yang mereka sayangi, Negeri Palestina.

Akan tetapi, beberapa dari Mahasiswa Universitas Indonesia yang lain ada yang tak sependapat dengan mereka. Mahasiswa Universitas Indonesia ini menilai bahwa kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa yang peduli Palestina adalah hal yang tidak diperlukan. Mereka berpendapat bahwa untuk apa heboh-heboh banget untuk palestina, toh di Indonesia pun masih banyak hal yang harus diperjuangkan.

Masihkah kita harus peduli Palestina?

Mungkin, pendapat-pendapat di atas telah membuat sebagian orang menjadi tidak peduli kepada Palestina. Tetapi, pendapat-pendapat itu tidak akan menggoyahkan pendapat saya dan teman-teman saya yang lain untuk peduli kepada Palestina. Kami pun mempunyai alasan untuk terus peduli kepada Palestina.

Pertama, harus dijawab mengenai realita kepemilikan tanah Palestina. Kisah Israel dan Palestina memang merupakan kisah yang panjang, bahkan telah dimulai dari ribuan abad sebelum masehi. Tentu saja wajar jika ada perdebatan di dalamnya.

Sedikit menengok tulisan dari situ dakwatuna yang mengangkat seri “Dirasat Manhajiyah fiil Qadhiyah al Filistiniyah”, sebuah kajian sistematik/ metodologis tentang isu Palestina. Seri tersebut mereferensi buku Ardhu Filistin wa Sya’buhana (Tanah Palestina dan Rakyatnya) karangan Dr. Muhsin Muhammad Shaleh, Warsito Warsito, Lc. Di dalamya secara runut dijelaskan menegenai tanah Palestina dari sisi sejarah dan geografi.

Dikatakan, jika masalahnya berkaitan dengan afiliasi kaum (kebangsaan) dan susunan ras bahwa bangsa Yahudi adalah keturunan Bani Israel yang pernah hidup di Palestina sebelum 2000 tahun yang lalu, hal tersebut dibantah oleh kajian ilmiah akademik dari sejumlah orang Yahudi sendiri. Termasuk juga kajian seorang penulis terkenal A. Koestler dalam bukunya TheThirteenth Trible: The Kazar Empire and its Heritage. Ia menunjukkan bahwa mayoritas Yahudi sekarang ini berasal dari keturunan Yahudi Khazar dari kabilah Tartar Kuno yang hidup di kawasan Kaukas, yang pada abad ke-6 M mereka mendirikan kerajaan sendiri di wilayah barat laut dari laut Khazar. Pada abad ke-8 kerajaan ini mengalami Yahudisasi, hingga kerajaan ini, Polan, masuk Yahudi pada 740 M.

Dari sejarah kependudukan yahudi di palestina pun bisa ditelesuri bahwa secara historis, Yahudi tidak pernah menguasai Palestina kecuali hanya sebagian kecil wilayah. Itu pun hanya berlangsung tidak lebih dari 4 abad (400 tahun). Sementara umat Islam sudah memerintah dan menguasai Palestina secara total selama lebih dari 1200 tahun. Penduduk asli Palestina, yaitu bangsa Kan’an dan mereka yang berasimilasi dengan orang-orang Kan’an sejak 4500 tahun lalu hingga sekarang, tidak pernah keluar dari Palestina sepanjang zaman. Tanah Palestina tetap memjadi tanah mereka, negeri Palestina tetap menjadi negeri mereka. Orang-orang Yahudi telah terputus hubungannya dengan Palestina selama 1800 tahun (antara tahun 135-1948).

Siapakah yang memiliki hak sejarah di tanah Palestina? Jika Palestina memang merupakan pemilik tanah Palestina, maka apa yang dilakukan oleh Israel selama ini berupa pembantaian, pengusiran, pembatasan hak hidup, dan sebagainya) merupakan suatu bentuk penjajahan.

Tentang Kepedulian Mahasiswa

Dr. H. Muqaddam cholil, MA, yang merupakan Managing Director Komisi Nasional Untuk Rakyat Palestina memberika alasan mengenai kepeduliaan terhadap Palestina. Pertama, sebagai balas jasa kepada Palestina karena telah mendukung kemerdekaan Indonesia. Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia kemudian mendesak agar negara timur tengah lain untuk ikut mengakui kemerdekaan Indonesia. Kedua, di sana terdapat Masjid Al Aqsha sebagai Masjid suci umat Islam sebagai tempat suci kedua bagi umat Islam selain Masjid Haram di Mekkah, di Masjid Al Aqsha itulah sekarang akses kaum Muslim dibatasi. Ketiga, sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan terhadap segala bentuk penjajahan, seperti yang termaktub dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Keempat, sebagai bentuk solidaritas seiman dan seagama.

Shofwan Al Banna, penulis buku Palestina, Emang Gue Pikirin yang juga Mahasiswa Berprestasi Utama Nasional tahun 2006 menekankan bahwa masalah Palestina bukanlah hanya masalah religi, namun juga urusan kemanusiaan. Di Jepang saja yang bukan Negara Islam, ketika isu Gaza menyeruak setahun yang lalu, poster-poster Palestina terpasang di sudut-sudut perempatan jalan. Apalagi Indonesia sebagai Negara mayoritas muslim, sudah sangat layak apabila kita peduli.

Kepeduliaan memerlukan aksi yang nyata. Menurut Dr. Moqaddam, menggunakan aksesoris Palestina merupakan salah satu hal yang harus diapresiasi karena itu menunjukkan kecintaan terhadap saudara-saudara kita di Palestina. Shofwan bahkan menyebutnya sebagai “sebuah kesempatan untuk berbicara”, dengan menggunakannya berarti membuka peluang orang lain untuk ikut ingin tahu dan peduli.

Tak ada yang salah tentang kepeduliaan kami. Kami tetap terus akan peduli ke Palestina. Kami tetap terus akan berjuang dengan harta kami, intelektualitas kami, suara kami, bahkan kalau perlu darah kami untuk 1 tujuan, yaitu kebebasan rakyat dan tanah Palestina.

Allahu Akbar!

Referensi:

Kamila, Inasa. “Konflik Israel Palestina, Masihkah Harus Peduli?” Koran Kampus, Januari 2010: 1 & 10.

Where in the world is Osama bin Laden? Directed by Morgan Spurlock. Performed by Morgan Spurlock. 2008.

Iklan

4 thoughts on “Palestina ku sayang

  1. kita memang harus saling mendukung sesama umat islam, agar kita tidak mudah di jajah oleh bangsa2 yang berkuasa dan bersekutu untuk menghancurkan islam…. terus berjuang walau pun hanya dengan tulisan, tulusan adalah harta yang abadi yang akan di baca oleh oleh anak cucu kita….

  2. tulisan ini udah aku buat beberapa bulan lalu saat berbagai media sibuk dengan kabar terkini dari palestina tetapi sekarang meredup. baru posting sekarang berharap cinta ini kepada palestina tidak meredup seperti media khususnya tv.

    Palestina

    Dulu aku buta, tuli dan bisu kepadamu

    Dulu aku tak begitu mempedulikanmu

    Dulu aku tak begitu memperhatikanmu

    Tapi kini Allah telah menyembuhkanku dari penyakitku

    Membangunkanku dari tidurku

    Sekarang aku melihat, mendengar dan sering menyebutmu

    Sekarang aku peduli padamu

    Sekarang aku perhatikanmu

    Bahkan sekarang aku rasa aku mencintaimu, Palestina

    Engkau menjadi salah satu peringkat teratas dalam doaku

    Aku merasakan penderitaanmu

    Aku merasakan kesedihanmu

    Akupun menangis karenamu, terhadap apa yang dilakukan bangsa kera itu kepadamu

    Akupun hanya baru bisa memberikan sedikit hartaku kepadamu

    Dan sebaris do’a untukmu setelah sholatku, sujudku dan antara adzan dan iqomah

    Baru harta dan do’a yang dapat kulakukan, belum jiwa

    Dambaku ke negerimu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s