Keluarga Islam

2.1 Konsep Keluarga Sakinah

2.1.1 Pengertian dan Pembentukan Keluarga Sakinah

Yang dimaksud dengan “keluarga” disini adalah keluarga menurut pure familiy system (sistim keluarga pokok), yang terdiri dari bapak, ibu, anak. Bukan keluarga menurut extended family system, yang terdiri dari bapak, ibu, anak, kakek, nenek, mertua, keponakan dan sebagainya.

Pure familiy system adalah unit keluarga terkecil dalam masyarakat dan Negara. Jika unit keluarga kecil ini sejahtera dan bahagia, maka masyarakat dan negara pun akan baik dan sejahtera. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah pembentukan dan pembinaan keluarga. Terbukti dengan di dalam Al-Quran dan Hadist terdapat berpuluh-puluh ayat yang berbicara mengenai keluarga.

Suatu keluarga hanya terbentuk melalui perkawinan yang sah. Tujuan perkawinan menurut Islam adalah untuk membentuk suatu keluarga yang bahagia dan harmonis – suatu keluarga yang hidup tenang, rukun dan damai, serta diliputi oleh rasa kasih sayang untuk mendapatkan keturunan yang sah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 21 dan An-Nahl ayat 72. Mengingat tujuan dan hikmah perkawinan yang sangat luhur, tidak heran kalau Nabi Muhammad melarang umat Islam melakukan tabattul (membujang/tidak mau kawin) dan menyerukan terutama kepada pemuda yang telah mampu memikul beban keluarga, supaya segera kawin.

Untuk membentuk dan membina keluarga yang bahagia dan harmonia, Islam telah menggariskan petunjuk-petunjuk berikut.

  1. Langkah-langkah dan hal-hal yang harus diperhatikan dan dilaksanakan sebelum perkawinan.
  2. Langkah-langkah dan hal-hal yang harus diperhatikan dan dilaksanakan sesudah perkawinan.

 

 

 

2.1.2 Langkah-Langkah Sebelum Melakukan Perkawinan

Ada beberapa langkah dan hal-hal yang sangat penting yang harus diperhatikan baik-baik oleh calon suami dan istri maupun oleh orang tua/wali calon mempelai, antara lain :

  1. Mencari siapa yang pantas menjadi calon teman hidupnya. Islam menegaskan hendaknya pilihan jatuh kepada seseorang karena agama dan akhlaknya. Bukan karena kecantikan, kekayaan dan sebagainya. Tidak berari bahwa factor selain agama dan akhlak tidak boleh dipertimbangkan, namun agama dan akhlak harus menjadi yang utama sedangkan yang lain adalah factor tambahan.
  2. Meneliti keadaan calon suami/istri dengan melalui khitbah (meminang/melamar). Pada saat khitbah ini ke dua calon mempelai dapat bertemu muka dn berdialog agar dapat mengenal masing-masing, terutama identitas dan kepribadiannya. Ada 2 cara ekstrim yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak dapat dibenarkan oleh Islam :
    1. Ada anggapan di kalangan masyarakat Timur dan juga kalangan masyarakat Islam, bahwa calon suami dan istri tidak perlu ada pertemuan dan perkenalan terlebih dahulu sebelum perkawinan. Informasi tentan keadaan calon suami dan isteri cukup didapat dari orang dekat dengan si pria atau wanita. Cara ini bisa dikatakan tertutup dan mengandung unsur spekulasi. Karenanya, cara ini bias membawa akibat kekcewaan dan kegagalan rumah tangga.
    2. Meniru cara Barat, ialah pertunangan lebih dahulu sebelum perkawinan. Masa pertunangan ini bias lama dan mereka bias bergaul dengan bebas dengan dalih untuk mengenal lebih dekat pribadi masing-masing dan sekaligus untuk persiapan perkawinannya. Jelaslah bahwa cara ini melanggar moral Agama dan Pancasila.

Cara yang baik dan aman menurut Islam adalah yang berada di tengah-tengah antara ke dua cara yang ekstrim tersebut. Islam membolehkan dan bahkan menganjurkan untuk melakukan khitbah, namun walaupun kedua belah pihak telah setuju dan telah menetapkan hari perkawinan, mereka berdua dilarang bergaul sebagai suami istri sebelum melakukan akad nikah.

 

  1. Persetujuan yang bulat dari calon suami dan istri merupakan syarat sah akad nikah. Persetujuan tersebut harus dilengkapi dengan persetujuan wali calon mempelai wanita. Tanpa persetujuan 3 unsur tersebut, maka perkawinan tidak sah. Ibu calon mempelai wanita harus diminta persetujuannya karena ialah yang tau kondisi anaknya.
  2. Calon suami hendaknya kufu (pantas/seimbang) dengan calon istri, demi menjaga kehidupan suami istri yang harmonis. Karena meskipun criteria kafaah yang pokok itu adalah agama dan akhlak, tetapi factor lain yang biasanya menjadi kebanggaan masyarakat, Islam tidak melarang dipertimbangkannya factor tersebut.
  3. Mas kawin (mahar) merupakan salah satu syarat sah perkawinan. Islam tidak menetapkan batas minimal atau maksimal jumlah mas kawin.semua yang berharga dan bermanfaat dapat dijadikan mas kawin.  Islam tidak menyetujui mas kawin yang terlalu berat/di luar jangkauan kemampuan pihak pria, karena dapat ,membawa akibat negative, antara lain :
    1. Menjaga hambatan berlangsungnya nikah bagi pemuda-pemudi, terutama bagi mereka yang memang sudah waktunya dan sudah mengikat janji.
    2. Mendorong/memaksa pihak pria untuk berhutang. Hal ini bias berakibat kesedihan dan penderitaan bagi suami istri, karena dirongrong oleh hutang yang sukar dilunasi.
    3. mendorong terjadinya kawin lari.

Lima langkah yang harus diperhatikan oleh calon suami dan istri dan orang tua/wali sebelum melangsungkan perkawinan, merupakan landasan yang kokoh dan kuat untuk mendirikan rumah tangga yang bahagia dan harmonis.

Selain lima langkah di atas, ada satu langkah lagi yang ideal yaitu istikharah. Istikharah artinya mohon kepada Allah semoga diberi yang lebih baik di antara dua alternative yang dihadapai. Misalnya seseorang sedang menghadapai pilihan diantara dua calon hidupnya, maka dengan istikharah, ia mohon petunjuk kepad aAllah mana yang lebih baik.

Istikharah yang dilaksanakan dengan shalat istikharah dan berdoa, hasilnya berupa tanda atau isyarat dalam mimpi pada waktu tidur atau ketenangan. Sehingga ia mempunyai tekad bulat, tenang dan pasrah.

Di sampan 5 hal diatas, ada 3 hal lagi yang penting pula diperhatikan yaitu :

  1. Masalah cinta dan perkawinan
  2. Masalah perkawinan antar orang yang berlainan agama
  3. Minimal usia kawin.

 

2.1.3 Perkawinan Beda Keyakinan

Mengenai masalah ini, Islam telah menetapkan ketentuan-ketentuan berikut:

  1. Perkawinan antara seorang Islam dengan seorang wanita Ahlul Kitab (beragama Kristen atau Yahudi), diperbolehkan. Ketentuan hukum ini berdasarkan:
  • Firman Allah surat al-Maidah ayat 6:

“Dan dihalalkan mengawini wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita beriman dan wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu.”

  • Sunah Nabu Muhammad, yaitu Nabi pernah menikah dengan Maria (Maria al-Qibtiyah) yang masih beragama Kristen pada waktu dinikahinya.

Hikmah diperbolehkannya perkawinan seorang lelaki Muslim dengan wanita Kristen/Yahudi antara lain adalah pada hakikatnya agama Kristen dan Yahudi itu satu rumpun dengan agama Islam, karena sama-sama agama Allah yang berdasarkan ajaran tauhid, tetapi kemudian terjadi perubahan dari ajaran yang murni pada agama Kristen dan Yahudi, antara lain doktrin Trinitas pada agama Kristen. Karena pada hakikatnya ketiga agama tersebut agama Tauhid yang mengajarkan pengabdian manusia kepada Allah, maka kalau seorang wanita Kristen/Yahudi menjadi istri seorang Muslim yang baik, yang taat pada ajaran agamanya, dapat diharapkan atas kesadaran dan kemauannya sendiri masuk Islam, karena ia dapat menyaksikan dan merasakan kebaikan dan kesempurnaan ajaran agama Islam, setelah ia hidup di tengah-tengah keluarga Islam. Karena Islam mempunya pedoman hidup yang lengkap, mudah, fleksibel, demokratis, menghargai dan menjunjung tinggi kedudukan wanita/istri di dalam keluarga atau masyarakat mataupun negara, toleransi terhadap agama dan kepercayaan serta menghargai hak asasi manusia terutama kebebsan beragama serta ajaran-ajaran yang rationable.

Fakta mengatakan bahwa tidak sedikit wanita Barat dan Timur yang beragama Kristen yang menikah dengan pria Muslim yang baik, yang taat pada ajaran agamanya, dapat terbuka hatinya dan dengan kesadarannya sendiri si istri masuk Islam. Apabila pemuda Muslim itu belum kuat imannya, seharusnya ia tidak berani menikah dengan pemudi Kristen/Yahudi karena ia dapat teseret kepada agama istrinya. Hal ini sesuai dengan taktik dan srategi Organisasi Gereja yang sering menggunakan cara-cara yang melanggar hak asasi manusia dan Kode Etik Penyebaran Agama (paksaan terang-terangan, tekanan/ancaman, bujukan dengan pemberian uang, materil dan sebagainya.)

  1. Perkawinan antara seorang wanita Islam dengan pria Kristen/Yahudi tidak dibenarkan oleh Islam karena dikhawatirkan wanita Islam kehilangan kebebasan menjalankan ajaran agamanya dan kemudian terseret kepada agama suaminya. Demikian pula dengan anak yang lahir dikhawatirkan akan mengikuti ajarana agama bapaknya karena bapak adalah kepala keluarga yang mempunyai kekuasaan terhadap anak-anak dibandingkan ibunya.
  • Dalam hal ini, Allah dalam al-Qur’an surat an-Nissa ayat 141 berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk melenyapkan orang-orang beriman.”

  • Dan surat al-Baqarah ayat 120:

“Orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti ajaran mereka.”

Umat Islam hendaknya selalu berhati-hati dan waspada terhadap tipu muslihat orang-orang kafir, termasuk orang-orang Kristen dan Yahudi, yang selalu melenyapkan Islam dan umatnya dengan berbagai cara. Hendaknya umat Islam tidak member kesempatan kepada mereka untuk mencapai maksudnya, misalnya dengan jalan perkawinan antara seorang wanita Islam dengan pria non muslim.

  1. Perkawinan antara orang Islam dengan orang Musyrik (mempersekutukan Tuhan). Yang dimaksud dengan musyrik adalah orang kafir selain Ahlul Kitab, termasuk Arteis Animis, dan Politeis. Hikmah dilarangnya perkawinan ini karena orang Islam dan orang Musyrik terdapat perbedaan yang jauh sekali tentang pedoman dan filsafat hidupnya. Sebab orang Islam percaya kepada Allah sebagai pencipta alam semesta, percaya kepada Nabi, Kitab-kitab Suci, Malaikat, dan percaya kepada takdir, dan Hari Kiamat; sedangkan orang musyrik tidak percaya kepada semua itu. Kepercayaannya penuh khurafat dan irasional. Di samping itu, orang-orang yang tidak beragama (musyrik) itu anti agama dan selalu berusaha mengajak orang telah beragama untuk meninggalkan ajaran agamanya dan kemudian mengikuti kepercayaan mereka yang masih primitif itu. Itulah sebabnya Allah melarang perkawinan antara orang Islam dengan orang musyrik dengan firmannya dalam surat al-Baqarah ayat 221:

“Janganlah kamu mengawini wanita musyrik, sebelum mereka beriman; sesungguhnyawanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Janganlah kamu mengawinkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita mukmin sebelum mereka beriman; sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinnya.”

 

 

2.1.4 Pengaruh Usia Pernikahan dan Pandangan Islam terhadap Keluarga Sakinah

Pada umumnya negar-negara di dunia ini telah mempunyai UU Perkawinan yang menetapkan batas umur minimal untuk kawin bagi warga negaranya. Seperti Indonesia denga UU Perkawinan No. I tahun 1974 pasal 7 (1) menetapkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita telah mencapai umur 16 tahun. Dalam penjelasan pasal 7 (1) ini ditegaskan bahwa untuk menjaga kesehatan suami-istri dan keturunan, perlu ditetapkan batas-batas umur untuk kawin.

Pasal 7 (1) ini erta sekali hubungannya dengan pasal 6 (2) yang menerangkan bahwa untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai usia 21 harus mendapat izin kedua orang tua. Ini berarti dipandang belum dewasa atau masih di bawah umur.

Mesir juga mempunyai UU Perkawinan yang menetapkan batas umur minimal untuk kawin, yakni 18 tahun tahun bagi lelaki dan 16 tahun bagi wanita, disertai dengan sanksi hukuman terhadap siapa saja yang memanipulasi umur (maksimal penjara 20 tahun atau denda sebanyak-banyaknya 100 poundsterling bila yang memanipulasi bukan petugas nikah, sedangkan kalau yang berbuat manipulasi umur itu petugas nikah hukumannya lebih berat).

Di Indonesia, praktek manipulasi umur untuk bisa mengawinkan anak di bawah umur masih banyak terjadi, baik dilakukan oleh petugas kelurahan maupun oleh pihak keluarga pengantin. Oleh karena itu, pemerintah perlu menetapkan sanksi hukuman yang berat terhadap mereka.

Menurut Abdullah al-Maraghi, pemgarang kitab al-Zawaj al-Thalaq fi Jami’il Adyan, pada umumnya seorang pria yang mencapai usia 18 dan seorang wanita yang mencapai umur 16 baru mencapai kematangan fisik, psikis, dan mental. dr. Ali Akbar juga menegaskan bahwa umur yang baik untuk mulai kawin adalah 18 sampai dengan 20 bagi wanita dan 25 ke atas bagi lelaki.

Islam dalam hal ini al-Quran dan Hadist tidak menentukan batas minimal untuk kawin. Para ulama Mazhab, umumnya dahulu membolehkan seorang bapak mengawinkan anaknya lelaki/wanita yang masih di bawah umur tanpa harus meminta persetujuan terlebih dahulu, dengan alasan bahwa Nabi Muhammad mengawini Aisyah r.a. pada waktu usia 7 dan mulai berumah tangga pada usia 9 . Peristia ini terjadi lebih kurang 14 abad yang lalu dan tidak ada keterangan yang otentik dari Nabi bahwa perkawinannya dengan Aisyah itu termasuk tindakan khusus untuk Nabi, maka fakta/kejadian tersebut lalu dijadikan dalil oleh para ulama mahzab tentang boleh dan sahnya perkawinan anak-anak.

Perubahan sikap mental umat Islam di dunia terhadap masalah perkawinan anak-anak itu adalah wajar, karena situasi dan kondisi masyarakat Islam dan dunia telah banyak berubah, sedangkan suatu fatwa keagamaan dan kemasyarakatan bisa berubah karena berubahnya situasi dan kondisi masyarakat. Karena itu, apabila perkawinan Nabi dengan Aisyah masih dijadikan alas an untuk membenarkan perkawinan umur muda, maka jelaslah tidak relevan dan tidak bijaksana lagi. Sebab dari data statistic baik di Negara Timur Tengah maupun di Indonesia menunjukkan bahwa perkawinan usia muda merupakan salah satu faktor utama penyebabnya terjadinya perceraian, yang akibat negatifnya tidak hanya dirasakan oleh suami-istri yang bersangkutan, melainkan juga oleh anak-anaknya, familinya, dan bahkan masyarakat dan Negara merasakan pula akibatnya.

Di samping itu, perkawinan Nabi dengan Aisyah itu hendaknya dilihat dari latar-belakang dan motivasinya, agar kita dapat memahaminya, yakni bahwa Nabi benar-benar merasa bahagia hidup berkeluarga dengan Khadijah, istri pertama Nabi dan member keturunan pula. Kematian Khadijah cukup menimbulkan rasa duka dan meninggalkan kenangan indah yang sukar dilupakan. Namun semangat juang Nabi tak kendur sedikit pun dalam menegakkan kalimatullah, kebenaran, dan keadilan di muka bumi ini. Karena itu, sahabat-sahabat Nabi terutama yang seniornya sangat simpati kepada Nabi dan memikirkan siapa yang pantas menjadi pendamping perjuangan Nabi. Akibatnya Abu Bakar memberanikan diri untuk memohon agar Nabi berkenan mengawini putrinya Aisyah, sedangkan Aisyah sendiri tersentuh hatinya melihat kesendirian Nabi itu.

Disamping itu, kepribadia, kecerdasan, dan keberanian Aisyah sangat membantu perjuangan Nabi, sebab melalui Aisyah inilah banyak sekali ajaran Nabi terutama mengenai kerumahtanggaan dan kewanitaan kepada masyarakat luas dengan mudah dan jelas terutama kepada kaum wanitanya.

Upaya pendewasaan usia kawin dalam arti mengusahakan penundaan kawin sampai seorang cukup dewasa agar mencapai kematangan fisik, psikis, dan mental. Telah terbukti kawin dalam usia muda banyak membawa penderitaan dan tidak sedikit yang berakibat perceraian. Sebaliknya, kawin dalam usia cukup dewasa banyak manfaat dan masalahnya, baik dari keluarga yang bersangkutan maupun bagi masyarakat dan Negara untuk menunjang berhasilnya program kependudukan dan keluarga berencana dalam rangka mengerem laju pertambahan penduduk yang masih cukup tinggi.

Adapun dalil-dalil syar’i yang kiranya dapat menunjukkan diperbolahkan usaha pendewasaan usia kawin adalah sebagai berikut:

  1. Al-Quran, antara lain:
  • Surat an-Nur ayat 33

Ayat ini menunjukkan bahwa faktor kemampuan memikul beban keluarga dapat dijadikan pertimbangan oleh seseorang untuk menunda perkawinannya.

  • Surat an-Nisa ayat 8

Ayat ini memberi petunjuk kepada kita, bahwa Allah menghendaki jangan sampai kita meninggalkan keturunan kalau kita sudah meninggalkan dunia yang fana ini, menjadi umat dan bangsa yang lemah, yang menjadi beban keluarga, masyarakat, dan negara. Karena kawin usia muda itu bisa mengakibatkan si ibu yang masih muda dan belum siap fisik dan mentalnya itu melahirkan bayinya dalam keadaan premature atau matai atau cacat/kelainan fisik/mentalnya, maka kawin usia muda itu seharusnya dihindari/ditunda sampai yang bersangkutan cukup dewasa dan matang fisik, psikis, dan mentalnya.

  1. Hadist Nabi, antara lain:

“Orang Mukmin yang kuat itu lenih baik dan lebih disukai Allah daripada orang Mukmin yang lemah. (H.R. Muslim dari Abu Hurairah).”

Demikian pula Hadist Nabi:

“Kamu semua adalah pemimpin, dan kamu semua (akan) diminta pertanggung jawabannya tentang pimpinannya. Maka imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab tentang pimpinannya. Suami adalah pemimpin pada keluarga dan ia bertanggung jawab tentang pimpinannya. Istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab tentang pimpinannya.”

  1. Saddu al-dzari’ah, artinya menutup jalan yang bisa membawa malapetaka. Karena kawin usia muda bisa membawa malapetaka bagi keluarga dan akibat-akibat lain yang negative, maka wajib menghindari (preventif) dengan jalan menunda perkawinannya. Saddu al-dzari’ah ini merupakan satu-satunya dasar Hukum Islam dan pegangan umat.
    1. Kaidah-kaidah Fiqhiyah, antara lain:

“Madarat/malapetaka itu harus dihilangkan.”

“Tidak bolah membuat madarat kepada orang lain dan juga tidak boleh berbuat madarat kepada dirinya sendiri.”

Karena kawin usia muda itu ternyata banyak membawa madarat baik kepada dirinya, keluarganya, maupun kepada masyarakat, dan negara pun merasakan akibatnya pula, maka sudah seharuanya kawin muda itu dihindari/dicegah bahkan  perlu dilarang dengan peraturan perundang-undangan beserta sanksi hukumannya yang cukup berat, mengingat bahwa baik buruknya dan sejahtera tidaknya suatu negara tergantung kepada baik buruknya dan sejahtera/tidaknya tiap-tiap keluarga, sebab keluarga merupakan unit terkecil dari suatu negara.

  • Kawin usia muda mungkin ada pula manfaat/maslahatnya, namun madarat atau resikonya jauh lebih besar daripada manfaat/maslahatnya. Karena itu, sudah seharusnya kawin usia muda itu ditunda sampai orang cukup dewasa dan matang fisik, psikis, dan metalnya.
    • Di dalam al-Quran dan hadist tiada satu pun nash (ayat atau hadist) yang shahih yang melarang ataupun yang memerintahkan upaya pendewasaan kawin. Karena itu, hukum asalnya adalah boleh pendewasaan usia kawin itu. Bahkan pemerintah sebagai “Ulil amri minna” berhak menentukan batas minimal tertentu untuk usia kawin, dan rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam itu wajib mematuhinya, demi menjaga kepentingan negara dan kesejahteraan seluruh rakyat, sesuai dengan program kependudukan dan keluarga berencana, yang telah diterima pula oleh wakil-wakil rakyat dalam sidang MPR yang merupakan lembaga negara tertinggi di negara R.I.

 

2.2 Hak dan Kewajiban Suami

Keluarga haruslah diproyeksikan sebagai embrio mikro umat yang cukup tangguh dalam membentengi virus yang dapat mengikis komitmen dalam ber-Islam. (Q.S. Al-Furqon: 74). Salah satu tonggaknya adalah kesadaran peran suami-istri. Apabila jumlah keluarga yang komit ber-Islam banyak, akan jadi suatu kekuatan umat secara makro.

Ayah memiliki kewajiban untuk memberi nafkah dan pakaian kepada para ibu dengan baik (Q.S. 2 : 233). Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka (Q.S. 4: 34).Seorang laki-laki itu adalah pemimpin di dalam keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya itu (H.R. Muttafaq, Alaih).

Pemenuhan kebutuhan nafkah keluarga berupa sandang, pangan, dan papan berada di pundak sang Ayah. Berapa pun yang dihasilkan sang ayah, menjadi kewajiban istri untuk mengaturnya, Rasulullah bersabda kepada Hindun, istri Abi Sufyan: “Terimalah dari uang suamimu secukupnya untuk dirimu dan anak-anaku secara baik. Apabila karena sesuatu hal suami membutuhkan bantuan istri dalam pemenuhan nafkah tadi, maka statusnya istri ikut mensedekahkan hartanya dan jadi ladang amal saleh istri sang istri. Tetapi itu tidak menjadikan alih peran, atau mengurangi derajat suami. Sebuah hadis mengatakan, andai diperbolehkan seorang manusia sujud kepada manusia lainnya, maka istri layak sujud pada suaminya. Alasan kelebihan satu derajat hanya dikarenakan suami diamanahi oleh Allah menjadi motor penggerak roda ekonomi keluarga.

Sang suami pun bertindak sebagai partner bagi istrinya dalam hal urusan rumah tangga lainnya, bahu membahu dengan istri. Kesibukan di luar rumah tidak dapat dijadikan alasan ketidakhadirannya dalam ritme rumah tangga. Ayah (suami) harus pro aktif ambil peran menjadi suami dan ayah, teman curhat sekeluarga, tempat berlabuhnya istri dan anak, pemenuhan akan cinta, kasih sayang, perhatian, ilmu, serta secara bersama-sama menjadi hamba Allah swt.

 

2.3 Hak dan Kewajiban Istri

Dalam Islam, perkawinan selalu dipandang sebagai sesuatu yang sakral dan menjadi salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. Banyak ayat dalam Alquran maupun hadis yang menjelaskan mengenai perkawinan ini. Oleh sebab itu, perkawinan adalah sesuatu yang amat penting bagi umat Islam.

Sebagai wanita shalihah maka peran ibu ialah taat kepada Allah, menjaga diri sewaktu suami tidak ada di rumah oleh karena Allah telah menjaga mereka (Q.S. 4:34). Istri adalah partner bagi suami, menjadi istri adalah posisi terhormat, namun kehormatan itu akan tercoreng manakala istri tidak bisa menjaganya. Hendaknya kita takut pada Allah swt., sehingga dekat atau jauhnya pasangan tidak menjadikan peluang untuk mengkhianati satu sama lain.

Posisi sentral kepemimpinan ibu ada di dalam keluarga. Suami dan anak menjadi lahan amal saleh dan dakwah pertamanya. Seorang ibu merupakan guru informal terdekat bagi anak. Karenanya, ibu diharapkan memiiki komitmen agama yang kuat, memiliki wawasan ilmu pengetahuan secara global, serta siap menjadi teman yang baik dalam keluarga. Adapun aktualisasi diri di luar rumah merupakan ekspresi tanggung jawabnya dalam menuntut ilmu dan dakwah tanpa menelantarkan tugas pokok dalam keluarga.

Saat ini, ada kalangan yang berpandangan paradigma hukum Islam dalam memandang keluarga/perkawinan terlalu berpihak kepada laki-laki, tentu hal tersebut tidak akan terjadi bila semua pihak memahami sepenuhnya ajaran Islam. Islam memandang bahwa sebuah keluarga harus dibangun di atas kesadaran suami dan istri akan posisi mereka sebagai hamba Allah SWT. Atas dasar itulah, pada akhirnya keduanya akan menjadikan keluarga sebagai sarana ibadah. Suami menjalankan tanggung jawab yang diberikan Allah guna memenuhi hak-hak istrinya, dan sebaliknya, istri pun menjalankan tugas yang diberikan Allah dalam memenuhi hak-hak suaminya. Masing-masing pihak melaksanakan tugas di keluarga sesuai fungsinya. Pola interaksi ini diharapkan memunculkan suasana kondusif bagi keluarga. Pembagian peran jadi proporsional, keduanya saling membantu dengan kesadaran penuh untuk mengharap keridaan Allah.

 

2.4 Musyawarah Suami Istri dalam Keluarga

Dalam menjalankan tugas-tugasnya dan memecahkan problema rumah tanggga, suami istri hendaknya selalu mengambil jalan musyawarah untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh anggota keluarga. Kedudukan suami dalam keluarga sesuai dengan fitrahnya dan tanggung jawabnya, adalah kepala dan pemimpin keluarga, yang harus bertanggung jawab atas baik buruknya keluarga terutama terhadap Tuhan. Hal ini, sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Tahrim ayat 6 yang artinya:

”hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Dan juga hadist b\nabi yang artinya:

maka setiap kamu adalah penggembala (pemimpin), dan setiap penggembala /pemimpin diminta tanggung jawabnya yentang yang dipimpinnya”.

Tetapi kedudukan suami sebagai kepala keluarga itu tidak berarti ia mempunyai kekuasaan yang mutlak dalam keluarga, sehingga ia dapat berbuat semaunya terhadap anggota keluarga, tanpa memperhatikan pendapat, keinginan, dan cita-cita istri atau anaknya. Musyawarah merupakan salah satu prinsip dalam Islam, sebagaimana yang telah ditegaskan dalam al-Qur’an surat as-Syura ayat 38 dan surat Ali Imran ayat 159.

Karenanya, musyawarah itu hendaknya selalu dipraktekan, baik dalam kehidupan bermasyarakat, maupun dalam kehidupan bernegara termasuks pula dalam kehidupan keluarga, terutama apabila menyangkut kepentingan langsung istri atau kepentingan masa depan anaknya.

Keharusan bermusyawarah antara suami dan istri mengenai hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama /keluarga sangatlah penting, misalnyadalam mengatur perencanaan keluarga. Dalan surat al-Baqarah ayat 233, ditegaskan bahwa seorang ibu kalau mau, boleh menyusui bayinya sampai dua tahun lengkap , dengan maksud untuk mengatur atau menghindari kehamilan. Karena memperpanjang waktu menyusui bayi dapat menyebabkan ia tidak mengalami menstruasi, dan ini berarti selama ia menyusui ( 2 tahun umpamanya) ia tidak akan hamil (meskipun cara ini kurang efektif, dibandingkan dengan lat kontrasepsi lain). Ayat tersebut juga menegaskan bahwa kalau suami istri menghendaki penyapihan anaknya lebih cepat dari 2 tahun, maka Islam pun membolehkannya, asal berdasarkan persetujuan suami dan istri, hasil musyawarah antara keduanya.

 

2.5 Konflik Suami Istri

Apabila terjadi konflik /kemelut yang dapat mengganggu kebahagiaan keluarga, maka suami istri harus ssegera berusaha mengatasi dan menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.

Dalam hal ini, Islam telah memberikan tuntunan yang baik dan bijaksana kepada suami istri:

  1. apabila kemelut keluarga itu disebabkan oleh sikap atsu tingkah laku istri, misalnya ia sering keluar rumah tanpa izin dari suami, sehingga iurusan rumah tangga terbengkalai, maka suami perlu mengambil langkah berikut:
    1. memberi nasehat yang baik dan bijaksana kepada istri, agar ia sadar dan mau kembali kepada tugasnya yang mulia dan utama sebagai ibu rumah tangga yang baik dan bijaksana.
    2. Memisahkan diri dari tempat tidur istri, dengan maksud agar istri dapat  mawas diri dan mendambakan kerukunan lagi, serta kehidupan keluarga yang baik. Langkah ini hanya boleh ditempuh, apabila nasehat suami tidak dihiraukan lagi oleh istri.
    3. Memberikan pukulan yang cukup ringan (tidak boleh keras/berat, sampai melukai badan istri). Langkah ini hanya boleh ditempuh oleh suami dalam keadaan terpaksa, pemberian nasehat dann pemisahan tempat tidur tidak membawa hasil.

Langkah ketiga di atas sejalan dengan tuntutan al-Qur’an dalam surat an-Nisa ayat34. sudah tentu langkah baru boleh ditempuh suami, apabila ia telah mendasari pengamatannya dengan obyektif, bahwa kemelut rumah tangga disebabkan sepenuhnya oleh tingkah laku yang negatif dari pihak istri tetapi apabila tingkah laku yang negatif merupakan reaksi terhadap tingkah laku suami yang tidak disukai oleh istri, misalnya suami mempunyai kebiasaan merokok, maka sudah seharusnya suamilah yang mawas diri dan segera menghentikan kebiasaan buruk tersebut.

Apabila konflik rumah tangga itu disebabkan oleh tingkah laku yang negatif dari pihak suami, misalnya suami terpengaruh oleh lingkungan, suka berjudi, mabuk atau perbuatan maksiat lainnya yang menyebabkan ia melupakan tugasnya sebagai kepala keluarga, maka istri berkewajiban dengan segala kemampuannya untuk mengusahakan suaminya sadar dan kembali ke jalan yang benar.

Istri tidak boleh gegabah menganggap suaminya telah menyeleweng atau melalaikan kewajiban sebagai suami, hanya berdasarkan persangkaan atau isu saja tanpa mencegah kebenarannya. Jika ia melihat ada gejala-gejala suaminya kurang melaksanakan tugasnya sebagai suami atau kepala keluarga maka harus diteliti lebih dahulu. Mungkin sikap suami disebabkan oleh kesibukannya di luar rumah tangga misanya tugas negara atau tugas lainnya. Maka dalam hal ini istri hendaknya dapat memahami persoalan suami dan sabar menghadapinya tetapi apabila sikap suami yang kurang melaksanakan tugasnya sebagai suami itu disebabkan oleh karena suami tidak senang lagi kepadanya, maka dalam hal ini hendaknya suami dan istri dengan semangat kekeluargaan berusaha mencapai perdamaian dengan mempertahankan keutuhan keluarga. Sebab perdamaian itu jauh lebih baik daripada berakhir dengan perceraian.

  1. Apabila suami dan istri tidak mampu  mengatasi konflik keluarga, maka menjadilah kewajiban bagi seluruh umat Islam (fardu kifayah) untuk membantu kedua suami istri untuk mengatasi kemelut keluarga. Sebab umat Isalm itu sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran dan hadist, adalah bersaudara dan merupakan satu tubuh, yang apabila satu organ tubuh sakit maka seluruh organ tubuh itu merasakan sakit pula. Tetapi orang yang pertama-tama mempunyai tanggung jawab membantu kedua suami istri dalma mengatasi konflik keluarga adalah keluarga dari pihak suami dan istri. Sebab kasuh yang mau dipecahkan adalah mengenai intern dan rahasia keluarga, sehingga sebaiknya suami istri itu sendirilah yang menyelesaikan kasus itu. Kemudian orang-orang masih ada hubungan keluarga, apabila suamiistri yang bersangkutan sudah tidak mampu mengatasi kemelut keluarga apabila keluarga suami istri tidak mampu pula memberikan pertolongan untuk mendamaikan keduanya maka menjadi kewajiban orang-orang Islam lainnya, terutama bagi aparat negara yang punya hak dan kewajiban menangani kasus-kasus keluarga seperti pengadilan agama di Indonesia. Mereka yang bertindak sebagai penengah (Hakam), baik dari pihak keluarga suami dan istri, maupun bukan dari pihak keluarga termasuk pula penengah yang ditunjuk oleh pengadilan, maka kedua hakam itu hendaknya dengan itikat baik dan serius berusaha mendamaikan suami istri. Hal ni sesuai dengan tuntunan al-Quran surat an-Nissa ayat 35.

 

2.6 Talak dan Khuluk

Dalam sebuah keluarga, banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan perceraian. Apabila konflik dalam keluarga itu sudah tidak dapat diatasi baik oleh suami istri, maupun hakam (penengah) dari pihak keluarga ataupun bukan keluarga, maka Islam membri jalan keluar yang terhormat kepada mereka untuk menyelesaikan konflik keluarga itu.

Jalan keluar terhormat itu ada dua, yaitu khuluk dan talak.

Tetapi kedua jalan keluar ini hanya merupakan pintu dadurat bagi suami istri yang telah mengalami keretakan keluarga yang parah sehingga segala usaha yang pernah dicoba untuk mendamaikan mereka tetap mengalami kegagalan. Khuluk serta talak merupakan perbuatan halal (diizinkan oleh agama), tapi tidak begitu disukai Alloh.

”Sesunggguhnya perbuatan halal yang paling dibenci oleh Alloh adalah perceraian”

Talak dan khuluk mengakibatkan terputusnya perkawinan, yang membawa akibat negatif bagi bekas suami, istri, maupun anak-anaknya. Oleh karena itu, hanya boleh ditempuh bila benar-benar dalam keadaan terpaksa, jika bertambah penderitaannya. Dengan jalan talak dan khuluk, diharapkan resiko suami istri lebih ringan daripada bila keduanya tetap melanjutkan kehidupan keluarga yang sudah sangat guncang.

Perbedaan Talak dan Khuluk

Khuluk ialah perceraian atas inisiatif istri dengan jalan menyerahkan kembali mas kawin yang pernah ia terima dan si suami bisa menerimanya. Akibat khuluk ialah suami tidak berhak merujuk, artinya tidak dapat hidup kembali sebagai suami istri, kecuali dengan memperbaharui mas kawinnya (akad nikah baru), suami tidak wajib memberi nafkah kepada bekas istrinya dalam waktu idahnya.

Talak adalah perceraian yang dijatuhkan oleh suami kepada istri tanpa penebusan dari sang istri.

Talak tidak boleh dijatuhkan oleh suami bila:

  1. Istri dalam keadaan menstruasi, atau suci tetapi telah dipergauli sebab dapat menyebabkan bertambah lama masa idahnya, yang merugikan istri.
  2. Dikaitkan dengan sesuatu perbuatan yang akan dikerjakan oleh suami/istri.
  3. Apabila dijatuhkan sumpah yang dikaitkan dengan ada atau tidaknya suatu peristiwa.
  4. Tiga talak sekaligus diberikan kepada istri. Talak tiga sekaligus yang diucapkan oleh suami hanya diakui jatuh talak sekali saja.

Hal ini sesuai dengan:

    1. Tata cara talak yang terdapat dalam Al-Qur’an bahwa talak itu bersifat raj’i (suami masih berhak kembali pada istri selama masih ada masa idah) sampai dua kali kesempatan kembali hidup sebagai suami istri, tanpa perlu adanya akad nikah baru. Hikmah talak raj’i, baik pada waktu talak pertama maupun kedua ialah untuk memberi kesempatan kepada bekas suami untuk merenungi nasibnya selama masa idah (lebih kurang tiga bulan). Mungkin keduanya menjadi sadar atas segala kesalahan dan kekurangan di masa lalu, menyadari masih ada perasaan cinta satu sama lain, atau mungkin keduanya terkenang segala kebaikan dari pasangan hidupnya masa lalu. Mungkin juga demi kepentingan anak-anaknya.
    2. Sunnah nabi dan kebijaksanaan kalifah Abu Bakar dan Umar pada dua tahun pertama pemerintahannya, yang memutuskan kasus kasus suami yang menjatuhkan talak tiga kali sekaligus hanya dihitung sekali talak saja, agar kedua bekas suami istri itu masih mempunyai kesempatan yang cukup untuk kembali sebagai suami istri dengan cara yang mudah, cepat, dan lebih bersih/sehat. Ada hadits yang sangat mengecam seorang suami yang menalak istrinya tiga kali sekaligus, sebagaiman yang diriwayatkan al- Nasali dari Mahmud bin Lubaid, bahwa ada seseorang yang menalak istrinya tiga kali sekaligus, maka nabi berdiri dan marah, kemudian bersabda:

(”Apakah orang itu hendak mempermaikan kitab Alloh, padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian semua?) ; sehingga ada seorang sahabat lain minta izin Nabi untuk membunuh orang itu.

Jelaslah bahwa Islam tidak membenarkan seorang suami dengan semau-maunya atau dengan mudah dan cepat menjatuhkan talak kepada istri, apalagi tiga kali sekaligus. Sebab segala usaha untuk mendamaikan kembali suami istri itu harus ditempuh dahulu dengan serius dan iktikad baik. Kemudian, barulah Islam memberi izin talak untuk suami istri itu. Tetapi talak ini tidak berarti vonis terakhir yang memutuskan ikatan perkawinan, sebab hanya dimaksudkan untuk mengakhiri konflik keluarga untuk sementara waktu.

Masa idah yang lamanya hanya kurang lebih tiga bulan diharapkan menjadi masa tenang bagi suami istri agar masing-masing dapat mawas diri dan timbul kesadarannya kembali hidup sebagai pasangan suami istri yang lebih baik. Sebab selama masa idah, suami sewaktu- waktu dapat rujuk kepada istrinya, tanpa ada akad nikah yang baru (karena ikatan pernikahannya belum putus). Bahkan setelah habis masa idahnya bekas suami istri itu tiada halangan bagi keduanya untuk kembali bersama asal benar-benar dengan niat baik akan membina rumah tangga yang baik, yang diridai Alloh.

Talak baru merupakan vonis terakhir yang memutuskan perkawinan secara mutlak, apabila sudah jatuh ketiga kalinya. Hubungan suami istri yang telah mengalami talak sampai ketiga kalinya menurut Islam telah parah dan berat keadaannya, sehingga sulit diharapkan bisa kembali keduanya sebagai suami istri yang bahagia. Oleh sebab itu, mereka terpaksa harus menempuh suatu prosedur yang cukup berat, sulit, dan lama, sebagaimana disebutkan dalam surat Al- Baqoroh ayat 230.

 

2.7 Kaitan Masalah

Lembaga perkawinan pun mengandung banyak hikmah. Terutama dalam membimbing anak-anak agar menjadi generasi yang baik. Sejatinya, generasi yang baik hanya bisa dimunculkan dari lingkungan yang baik, sementara lingkungan yang baik hanya bisa dibangun dari keluarga yang baik pula. Keluarga yang baik, berawal dari sebuah perkawinan yang baik. Terkait hal tersebut, perkawinan baru dapat dikatakan baik bila dilakukan dengan cara yang sesuai hukum Allah SWT. Dengan begitu, wajarlah jika kemudian umat Islam di Tanah Air, apabila menginginkan membangun sebuah negara yang baik melalui keluarga yang baik, maka tentu berkeinginan agar setiap perkawinan yang dilaksanakan dapat berlangsung dengan sah, tak hanya menurut hukum Islam tetapi juga menurut hukum positif.

Hukum Islam dapat diterapkan dari waktu ke waktu, mengutip dari pendapat Prof KH Ibrahim Hosen, dari kacamata ushul fikih, sifat hukum Islam terbagi dua, yakni qath’iy dan zhanny. Yang bersifat qath’iy adalah yang ditegaskan langsung oleh nash Alquran dan sunah, ini harus diterima apa adanya, tidak boleh ditambah atau dikurangi dengan alasan apa pun. Ijtihad tak berlaku pada qath’iy.

Sementara hukum Islam yang zhanny merupakan kebalikannya, yakni tidak ditegaskan secara langsung oleh nash Alquran dan hadis. Ia baru diketahui setelah digali melalui ijtihad para imam mujtahid. Bagian ini lantas dikenal sebagai fikih dan ijtihad boleh dipergunakan. Karena fikih adalah hasil ijtihad, maka dapat difilsafahkan. Kendati demikian, keduanya telah disyariatkan oleh Allah SWT bagi kemaslahatan umat. Jika kita menelaah misalnya, mengenai pembagian waris yang sama rata antara lelaki dan perempuan, penetapan iddah bagi laki-laki, pemberian mahar dari istri, tidak boleh berpoligami, pembolehan kawin kontrak dan sebagainya, itu semua bertentangan dengan kaidah Islam.

Ada pula contoh nyatanya yakni dengan disahkannya UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Sejak itu, undang-undang tersebut langsung populer di masyarakat yang kehidupan rumah tangganya gonjang-ganjing. Makanya, ada kalangan yang menganggp, undang-undang tadi menjadi bukti kemenangan kaum perempuan di Indonesia. Di dalamnya terdapat sebuah pasal yang menyatakan semua pihak dapat mengadukan sebuah kasus kekerasan dalam rumah tangga. Namun perlu dicermati apa yang akan terjadi: siapa pun dapat mengintervensi hubungan suami istri tanpa mengedepankan prinsip muasyarah bin ma’ruf dalam Islam. Setiap permasalahan di rumah tangga bisa langsung dilaporkan ke yang berwajib. Akibatnya, bukannya akan membawa kebaikan, justru hal seperti ini dapat meningkatkan angka perceraian.

Dalam permasalahan tingkat perceraian yang tinggi di Indonesia dengan kaitannya masalah pembagian peran sangat memiliki peran penting. Secara umumnya saja, pembagian tugas dalam rumah tangga yang tidak merata akan menyebabkan timbulnya perdebatan antar suami dan istri karena salah satu di antara ereka merasa diperlakukan tidak adil dan peraturan yang mewajibkan setiap orang berhak melapor apabila terjadi pertengkaran akan membuat perceraian semakin tinggi, bukan membuat mereka rukun karena biasanya pelaporan tersebut justru disalahgunakan oleh pihak yang bersengketa. Maka peran suami dan istri hendaknya dibagi secara adil atas kesepakatan kedua belah pihak dan berdasarkan kemampuan serta kodratnya.

Sungguh ironis bila masing-masing individu tidak tahu ke mana rumah tangga akan dibawa. Bila itu terjadi, tidak akan ada saling berbagi peran, tidak juga akan saling menguatkan, sehingga akhirnya akan tumbuh rasa bosan karena karena tidak dapat menemukan esensi rumah tangga yang dijalaninya. Memprihatinkan memang, banyak kelurga muslim kehilangan fokus hidup, sibuk dengan gemerlap dunia, menonjolkan sikap egois, hidup permissif (serba boleh), menghalalkan segala cara., dll, sehingga keutuhan keluarga terombang-ambing untuk akhirnya karam. Padahal, waktu adalah saat keemasan untuk mengukir proses, prestasi, dan perbaikan diri.

 

DAFTAR PUSTAKA

Suryana, Toto dkk. Pendidikan Agama Islam. Bandung : Tiga Mutiara. 1996

 

Zuhdi, Masjfuk. Studi Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 1988

 

Zuhdi, Masjfuk. Studi Islam Jilid II: Ibadah. Jakarta: CV Rajawali, 1988

 

http://hbis.wordpress.com/2007/11/23/perintah-al-qur%E2%80%99an-tentang
menjaga/

 

http://suryadhie.wordpress.com/2007/09/14/agama-ibadah-islam-ramadhan-4/

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s