Masjid Ukhuwah

Masjid Al Ukhuwah

Malam ini rintik hujan kembali datang. Terdengar suara gemericik hujan dari sekitar gang ini. Suasana hening dan dingin semakin menambah sejuk malam ini. Ah, seharusnya aku sudah terbaring di ranjang empukku dan menikmati indahnya malam ini. Namun, aku di sini hanya bisa melihat gedung-gedung perkotaan yang menjulang tinggi yang seakan tak peduli terhadapa nasib aku dan mereka di sini, di masjid ini.

Sudah 3 hari yang lalu kami berada di masjid ini. Sudah 3 hari yang lalu air Sungai Ciliwung meluap, menggenangi gang kami, menggenangi rumahku, dan menggenangi rumah mereka. Hari ini air belum kunjung juga surut. Hujan yang mengguyur malam ini dan berita di televisi yang menyebutkan ketinggian bendungan Katulampa yang bertambah akibat hujan kemarin di Bogor seakan makin menjauhkan aku dengan keinginanku untuk tidur di rumah, terpaksa aku tidur bersama mereka lagi di masjid ini.

Masjid ini bernama Al-Ukhuwah yang berarti persatuan. Nama yang sangat bagus menurutku. Namun, nama ini seakan bertentangan dengan kondisi masjid ini, nanti akan aku ceritakan mengapa nama ini tidak sesuai dengan kondisinya. Al-Ukhuwah memiliki dua lantai, lantai bawah untuk jamaah muslim, sedangkan lantai atas untuk jamaah muslimah. Karena luasnya yang mencukupi dan letaknya yang cukup tinggi, lantai atas mempunyai fungsi ganda selain sebagai tempat shalat jemaah muslimah, juga berfungsi sebagai tempat pengungsian seluruh warga Gang Asem jika terjadi banjir.

Keadaan Gang Asem dan Al-Ukhuwah persis seperti keadaan tempat di Jakarta lain. Kualitas udara yang buruk, padatnya jumlah penduduk, rumah yang berdempetan, air yang sulit, dan lalu lintas yang macet, ditambah dengan bau busuk yang berasal dari Ciliwung menjadi pemandangan sehari-hari bagi kami. Aku terkadang heran kenapa Jakarta dipilih sebagai ibukota Indonesia, bukankah kondisi Jakarta tidak lebih baik dari kota-kota besar lain di Indonesia?  Yang lebih aku herankan adalah kenapa aku masih berada di Jakarta dengan berbagai kelemahannya?

Memang kami banyak mirip dengan keadaan tempat lain di Jakarta, namun ada satu segi kehidupan kami yang tak mirip dengan tempat lain. Di tempat kami masih banyak kaum wanita yang memakai kerudung, di sini masih banyak warga yang mengucapkan salam satu sama lain ketika bertemu, di Gang Asem ini nuansa Islam sangat terasa. Sekilas memang tempat ini sangat membahagiakan, sekilas.

Entah dimulai sejak kapan, nuansa gang ini mulai berubah. Para Muslimah memang masih memakai kerudung, para warga masih saling memberikan salam, namun benar-benar telah terjadi perubahan di sini. Mereka  yang dulunya satu sekarang telah menjadi dua kelompok. Lihat saja kepada perilaku mereka! Mereka tidak pernah memberikan salam kepada muslim di luar kelompoknya,  mereka tidak pernah memberikan senyum kepada orang di luar kelompoknya, bahkan di saat banjir ini pun mereka tidak mau menyatu. Lihat saja mereka! Mereka membuat satu batas dari tali yang diikat di tiang Masjid Al Ukhuwah untuk memisahkan wilayah mereka. Di selasar utara masjid ada kelompok Habib Udin, sementara di selasar selatan ada kelompok Ustad Tono. Mereka seakan air dan minyak, tak mau menyatu, padahal mereka berada di Masjid Al-Ukhuwah, Masjid persatuan yang seharusnya dicerminkan oleh perilaku jamaahnya. Tapi lihatlah mereka, adakah persatuan di hati mereka?

Sebenarnya, retaknya persatuan ini tidak akan terjadi seandainya yang berselisih pendapat bukan orang yang sekelas Habib Udin dan Ustad Tono. Keduanya orang yang terpandang dan terkenal di gang ini. Mereka adalah orang yang sangat paham akan agama, Habib Udin berasal dari salah satu pesantren terkenal, sementara Ustad Tono berasal dari Universitas Islam terkemuka. Perbedaan mereka adalah perbedaan yang kompleks, mulai dari pakaian mereka, cara berbicara mereka, hingga tipe ajaran Islam yang mereka bawa pun berbeda. Mereka mempunyai karakteristik masing-masing, hebatnya, mereka mampu untuk menjelaskan karakteristik mereka itu dengan dalil-dalil Al Quran ataupun sunnah sehingga masyarakat umum pasti kagum kepada mereka.

Sudah sangat sering mereka berselisih, saling mengumpat, dan saling mencemooh. Bahkan mereka juga sering shalat berjamaah di Masjid Al-Ukhuwah dengan 2 imam dan 2 jamaah pada saat shalat berjamaah. Mereka saling berlomba-lomba untuk mengeraskan suara mereka ketika sholat Subuh,Maghrib dan Isya. Aku benar-benar malu menyaksikan keadaan mereka yang sama sekali tak mencerminkan ukhuwah dalam Islam.

Hujan bertambah deras, malam semakin menghitam, dan air semakin naik. Suara rintik hujan sangat keras di luar, gelegar petir sangat kuat, dan hentakan angin semakin ribut saja, sepertinya di luar terjadi badai.Alhamdulillah, masjid ini masih kuat menahan semua itu dan melindungi kami di dalamnya.

Tiba-tiba suara teriakan perempuan memecah keheningan malam ini.

“Tolong,tolong, toloooong!”

Rupanya perempuan itu adalah salah seorang dari kelompok Ustad Tono. Segeralah orang-orang dari kelompok Ustad Tono menghampiri perempuan itu. Dari kejauhan tampak para kelompok Habib Udin hanya melihat, terbengong-bengong , tanpa melakukan apapun.

“Tolong, tolong anak saya!”

Aku melihat dari tempatku berada seorang anak kecil berumur 5 tahun terbawa hanyut oleh air. Dia tak sadarkan diri. Air membawanya naik turun, tenggelam terapung, sekilas terlihat dan sekilas menghilang.

“Allahu akbar, Ya Allah!” teriak beberapa orang, sementara beberapa perempuan terlihat mulai histeris. Mereka, termasuk aku, seakan bingung mau melakukan apa. Hujan masih deras, ketinggian air masih di atas kepala orang dewasa, dan arus air sangat kencang.

Anak itu sudah tidak terlihat lagi, menghilang ditelan air. Sang ibu mulai menangis. Air banjir semakin deras. Kami tak melakukan apa-apa, kami takut, kami takut! Kami takut tenggelam jika kami menyelamatkan anak itu.

“Byurrr!” tiba-tiba, dari seberang kelompok Ustad Tono terdengar suara seseorang terjun ke arus banjir.

“Itu Habib Udin!”, teriak beberapa orang. Habib Udin menyelam, mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan anak itu. Berbagai rasa saat ini menyelimuti para warga termasuk aku. Banyak orang yang menangis, berteriak, dan ada yang bertanya-tanya kenapa seorang Habib Udin mau menolong seorang anak dari kelompok Ustad Tono? Sebagian orang lagi menunggu penasaran apa yang bisa dilakukan seorang Habib Udin.

5 menit kami menunggu, tanpa ada hasil apa-apa. Air banjir masih deras, hujan juga masih kencang. Secara logika, Habib Udin dan anak itu seharusnya sudah kehabisan napas. Harapan untuk melihat Habib Udin kembali bersama anak itu telah berganti dengan keputusasaan.

Saat keputusasaan itu memuncak, tiba-tiba sepotong kain putih keluar dari dalam air. Tak lama kemudian, keluarlah anak itu, dengan tak sadarkan diri. Kami tak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. “Allahu Akbar!”, semua warga bertakbir dan gembira melihat hal itu. Entah bagaimana caranya, Habib Udin mengikatkan gamis putihnya kepada anak itu sehingga anak itu bisa mengapung. Habib Udin? Di mana Habib Udin sekarang?

Kegembiraan sesaat kembali menjadi kecemasan. Kecemasan akan seorang Habib Udin yang belum menampakkan drinya dari air banjir. Semua menjadi cemas. Semua orang di kelompok Habib Udin kalap.

“Byur”, kembali kami dikejutkan oleh suara orang terjun ke air. Rasa terkejut kami bertambah ketika orang yang terjun ke air adalah Ustad Tono. Kedua pemimpin kelompok sekarang berada dalam air. Kedua kelompok kini memiliki rasa cemas yang sama karena pemimpin mereka menenggelamkan diri. Kini kedua kelompok itu kalap.

1 menit, 2 menit, hingga 5 menit telah berlalu. Semua dalam ketakutan dan kecemasan yang sama. Kembali keputusasaan menyelimuti pikiran dan hati kami. Aku sendiri masih dalam tanda tanya besar, aku hampir tidak percaya bahwa 2 orang pemimpin kelompok itu kini masih dalam terjangan banjir. Bukankah mereka dalam permusuhan yang nyata? Bukankah mereka tak menghendaki satu sama lain?

20 menit telah berlalu. Tanda-tanda kehidupan mereka belum tampak juga. Semua wanita dalam kedua kelompok itu menangis. Sementara beberapa pria dari kedua kelompok itu tampak kebingungan, sebagia dari pria itu bahkan ada yang menangis. Semua orang kini percaya bahwa Habib Udin dan Ustad Tono sudah meninggal.

Tiba-tiba, semburat cahaya putih terlihat dalam kedalaman air. Cahaya yang sangat amat terang hingga kami menutup mata kami karena sialunya. Cahaya itu terus naik hingga keluar air kemudian menghilang. Ajaib!

Belum selesai rasa terkejut kami oleh cahaya itu, tiba-tiba dari dalam air terlihat bayangan. Bayangan itu terus naik hingga mencapai permukaan air.

“Itu Habib Udin dan Ustad Tono!” teriak seseorang.

Aku baru sadar bahwa bayangan itu adalah Habib Udin dan Ustad Tono. Kedua orang itu tampak tak berdaya dari kejauhan. Habib Udin terlihat tak sadarkan diri lagi, sementara Ustad Tono setengah sadar. Kami harus segera menolong mereka, kami harus segera menyelamatkan mereka. Antara mereka dan kami kini terbentang jarak yang cukup jauh. Tak ada satupun di antara kami yang berani untuk berenang di arus yang deras ini. Terlihat dari kejauhan tubuh kedua orang tua semakin tenggelam dan semakin jauh terseret arus.

Tak ada waktu lagi untuk bingung. Aku harus segera menyelamatkan mereka. Entah mengapa aku langsung teringat pada tali pembatas kedua kelompok di masjid yang cukup panjang. Segera ku lepas tali itu dan ku lempar kan kepada Ustad Tono yang masih setengah sadar. Kini kedua kelompok itu tak dibatasi oleh suatu apapun. Segera saja mereka berbaur ketengah untuk membantuku. Benar-benar kini mereka bersatu untuk menyelamatkan kedua pemimpin mereka.

Tali itu panjang, cukup untuk menjangkau Ustad Tono. Sambil memegang tangan Habib Udin, Ustad Tono meraih tali itu dan memegang tali itu dengan erat. Para pria dari kedua kelompok itu membantuku untuk menarik pemimpin mereka itu. Senti demi senti, meter demi meter kami berhasil menariknya, sekitar 2 meter lagi kami akan berhasil meraih mereka. Tinggal 2 meter lagi, ketika lagi-lagi hal yang mengejutkan kembali datang.

“Allahu Akbar!”, teriak orang-orang melihat Ustad Tono dan Habib Udin yang semakin menjauh bukan semakin mendekat.

“Talinya Putus! Talinya Putus! Tolong!”,  talinya memang benar-benar putus. Suasana yang sempat tenang tadi kini kembali menjadi suasana yang histeris. Ustad Tono dan Habib Udin kini semakin menjauh dari kami, semakin menjauh dari Masjid Al-Ukhuwah ini. Mereka hilang ditelan air,tak ada cahaya lagi yang menyelamatkan mereka. Kini mereka benar-benar telah tak tampak lagi.

-II-

Hari demi hari tetap berlanjut setelah kejadian itu. Ustad Tono dan Habib Udin ditemukan sekitar 3 KM dari Masjid Al-Ukhuwah. Ketika ditemukan, muka mereka tersenyum dengan teduhnya, tangan mereka saling berpegangan satu sama lain, seolah memberitahukan kepada para warga Gang Asem bahwa mereka kini telah berteman dan menjadi saudara di Surga-Nya sana. Masjid Al-Ukhuwah pun saat ini tak ada lagi persatuan di antara 2 kelompok. Mereka saling bersatu. Masjid Al-Ukhuwah kini benar-benar menjadi Masjid Persaudaraan.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran:103)

Agung Supriyadi

One thought on “Masjid Ukhuwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s