Toksikologi Reproduksi

Sistem reproduksi pada manusia dibagi menjadi 2 yaitu organ reproduksi laki-laki dan organ reproduksi perempuan.

  1. Sistem reproduksi laki-laki

Organ pada sistem reproduksi laki-laki dapat dikelompokkan menjadi 4 organ pokok, yaitu:

  1. Testis

Testis adalah bangun yang berbentuk oval, masing-masing dari testis tertahan oleh korda spermatikus dalam  pertengahan skrotum. Testis bersifat lunak dengan panjang 4-5 cm dan diameter 2,5 cm. Testis berfungsi untuk menghasilkan hormon  testosteron dan sperma. Masing-masing testis dibagi oleh septum ke dalam 200-300 lobulus. Masing-masing lobus mengandung 1-3 tubulus seminiferus yang melilit-lilit dengan panjang mencapai 70 cm. Di bagian ini spermatozoa dihasilkan setelah pubertas. Pada bagian belakang dari testis, tubulus seminiferus ke luar ke dalam kira-kira 12 duktus eferen, yang menembus tunika albugenia dan membentuk kaput epididimis. Pada tubulus seminiferus juga dihasilkan hormon laki-laki tepatnya pada sel-sel interstisiel.

  1. Epididimis dan duktus yang lain

Epididimis merupakan tuba di mana spermatozoa lewat dan merupakan organ pengumpul yang melekat pada bagian belakang testis. Mempunyai kaput (terdiri dari tubulus eferen yang datang dari testis), korpus dan ekor (terdiri dari tuba tunggal tempat duktus menjalar). .

Vas deveren adalah tuba dengan dinding yang tebal. Tuba ini mulai pada ujung bawah epididimis sebagai kelanjutan dari tuba tersebut, menjalar ke arah atas di belakang epididimis, menjalar ke arah atas kanalis inguinalis, memasuki pelipis, dan menjalar pada bagian belakang kandung kemih, di mana tuba tersebut terletak secara medialis pada sisinya.

Vesika seminalis adalah suatu  pembuluh yang berbentuk tuba berlilitan, terletak satu pada masing-masing sisi, pada sebelah belakang kandung kemih.

Duktus ejakulatorius adalah suatu duktus besar dari vas deferen dan vesika seminalis. Duktus ini melewati kelenjar prostat untuk terbuka ke dalam uretra bagian prostatik.

  1. Kelenjar reproduksi pria

Kelenjar prostat, mengeluarkan cairan basa yang menyerupai susu yang menetralisir asiditas vagina selama senggama dan meningkatkan motilitas sperma yang optimum pada pH 6.0 sampai 6.5. Kelenjar ini membeasar pada remaja dan mencapai ukuran optimalnya pada usia 20 tahun.

Kelenjar bulbouretral (cowper), adalah sepasang kelenjar kecil yang ukurannya dan bentuknya menyerupai kacang polong. Kelenjar ini mensekresi cairan basa yang mengandung mucus ke dalam uretra penis dan melindungi serta ditambhkan pada semen (spermatozoa+secret).

  1. Penis

Penis adalah organn yang berfungsi untuk tempat keluar urine, semen, serta sebagai organ kopulasi. Penis terdiri dari 3 bagian, yaitu akar, badan, dan glans penis yang banyak mengadung ujung-ujung syaraf sensorik. Badan penis dibentuk dari 3 masa jaringan erektil silindris, yang terdiri dari 2 korpus kavernosum dan satu korpus spongiusum ventral di sekitar uretra.

Sistem Reproduksi Perempuan

Alat reproduksi wanita terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam dan luar. Bagian luar memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Bibir kemaluan (labia mayora), yaitu daerah yg berambut, berfungsi sebagai pelindung dan menjaga agar bagian dalam tetap lembab.
  • Bibir dalam kemaluan (labia minora), yaitu daerah yang tidak berambut dan memiliki jaringan serat sensorik yang luas yang sangat peka karena mengandung ujung syaraf.
  • Vagina, yaitu rongga penghubung antara alat reproduksi wanita bagian luar dan dalam.

Sementara itu alat reproduksi wanita bagian dalam memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Vagina bagian luar, yang merupakan jalan keluar bagi darah haid dan jalan keluar ketika bayi lahir (sifatnya sangat lentur sehinggga bayi dapat keluar melalui vagina).
  • Leher rahim (cervix), yang merupakan penghubung antara vagina dan rahim.
  • Rahim (uterus), tempat dimana sel telur yang sudah dibuahi tumbuh dalam rahim selama kehamilan. Bila telur tidak dibuahi, maka sel telur menempel ke dinding rahim. Selanjutnya dinding rahim menebal lalu luruh dan mengalir keluar dalam bentuk darah. Inilah yang disebut haid (menstruasi).
  • Saluran telur (tuba falopii), yaitu dua saluran yang terletak sebelah kanana dan kiri rahim yang berfungsi sebagai penghubung rongga rahim dan indung telur.
  • Dua buah indung telur ( ovarium), berfungsi memproduksi sel telur dan hormon peremputan yaitu estrogen dan progesterone. Atas pengaruh hormon, sebanyak satu sampai dua sel telur masak setiap bulan , lalu dilepaskan ke dinding rahim. Dinding rahim ini akan menebal, yang sebetulnya berguna sebagai tempat sel telur bersarang setelah dibuahi.

Gambar 2 : Sistem Reproduksi Perempuan

Proses Reproduksi

Proses reproduksi dimulai dengan gametogenesis. Pada perempuan, oogenesis merupkan pembentukan oosit primer dari sel germinal primordial (oogonium) melalui mitosis. Pengembangan ini terjadi selama periode janin dan berhenti pada saat kelahiran. Oosit primer membelah dengan meiosis untuk membentuk oosit sekunder tepat sebelum mereka berovulasi.

Pada pria, spermatogenesis dimulai dengan gonosit selama periode janin;sel ini diubah menjadi spermatogonium setelah kelahiran. Spermatogonium tetap dorman hingga pubertas, saat aktivitas proliferatif dimulai lagi. Beberapa spermatogonium berkembang biak membentuk spermatogium lain sementara lainnya mengalami pematangan menjadi spermatozoa. Ada tiga tahap antara dalam proses reproduksi pria. Awalnya, spermatogonium membelah dengan mitosis untuk membentuk spermatosid primer, yang kemudian membelah dengan meiosis untuk membentuk spermatosid sekunder. Kemudian, spermatosid sekunder membelah diri membentuk spermatid. Akhirnya, spermatid menjadi spermatozoa lewat metamorfosis. Seluruh proses ini berkesinambungan dengan membutuhkan waktu untuk spermatogonium menjadi spermatozoa adalah 60 hari.

Pembuahan membutuhkan bukan saja ovum dan spermatozoa yang masih fungsional tetapi juga cara pengiriman sperma yang efektif dan lingkungan yang tepat. Konsepsi, telur yang telah dibuahi, kemudian ditanamkan pada rahim dan berkembang melalui berbagai tahap embrio dan janin. Pada akhir masa gestasi, proses kelahiran terjadi. Bayi-bayi itu disusui hingga masa disapih. Mereka kemudian tumbuh dan menjadi dewasa sehingga dapat memulai proses reproduksi lagi, dan demikian menyelesaikan suatu siklus reproduksi.

Toksikan

Berikut adalah berbagai macam toksikan yang menyerang sistem reproduksi manusia berdasarkan jenis kelamin dan jenis toksikan.

Toksikan Reproduksi Pada Pria

  1. Steroid

Naturan dan Androgen sintesis, estrogen, dan progestin

  1. Agen Antineoplastik

Alkaloid berupa vinca alkaloids, MMS,EMS, busulfan, etilenimis (TEM, TEPA), hydrazine, bleomycin.

  1. Obat yang menyerang sistem syaraf

Clonidine, metildopa, bretylium, reserpine.

  1. Logam

Alumunium, Arsenic, Boron, Cadmium, dan Cobalt.

Toksikan pada sistem reproduksi wanita

  1. Steroid

Natural dan sintesis androgen, estrogen dan progestin

  1. Agen Antineoplastik

Halothane, enflurane, methoxyflurane

  1. Logam

Arsenic, Timbal, Litium, metil merkuri.

Berikut adalah tabel kategori bahaya untuk toksisitas reproduksi.

Kategori bahaya untuk toksisitas reproduksi

Kategori Kriteria
Kategori 1 Diketahui atau dianggap sebagai toksik terhadap reproduktif

Kategori ini termasuk bahan yang diketahui memiliki efek yang tidak diinginkan terhadap kemampuan atau kapasitas reproduksi atau efek terhadap perkembangan manusia atau apabila terdapat bukti dari studi terhadap hewan yang memungkinkan diperkuat dengan informasi lain, untuk memberi dugaan kuat bahwa bahan tersebut memiliki kapasitas untuk mempengaruhi reproduksi manusia. Untuk tujuan regulasi suatu bahan dapat dibedakan lebih jauh berdasarkan apakah kejadian untuk klasifikasi terutama dari data manusia (kategori 1A) atau dari data hewan (kategori 1B).

Kategori 1A Diketahui sebagai bahan yang toksis terhadap reproduksi manusia.

Penempatan bahan kimia dalam kategori ini umumnya berdasarkan adanya bukti pada manusia

Kategori 1B Dianggap toksik pada reproduksi manusia

Penempatan bahan pada kategori ini sebagian besar didasarkan pada kejadian dari percobaan terhadap hewan. Data dari studi pada hewan sebaiknya memberikan bukti yang jelas mengenai toksisitas reproduksi secara spesifik dengan tidak adanya efek toksik lain, efek yang tidak diinginkan terhadap reproduksi dipertimbangkan sebagai konsekuensi sekunder dari efek toksik lain. Bagaimanapun bila ada informasi mekanisme yang meningkatkan keraguan mengenai keterkaitan efek pada manusia, klasifikasi pada kategori 2 bisa jadi lebih tepat.

Kategori 2 Diduga toksik terhadap reproduksi manusia.

Kategori ini termasuk bahan yang pada beberapa kejadian pada manusia atau hewan percobaan, mungkin diperkuat dengan informasi lain mengenai efek yang tidak diinginkan terhadap kemampuan atau kapasitas reproduksi atau pada perkembangan, dengan tidak adanya efek toksik lain, atau bila terjadi bersamaan dengan efek toksik lain efek yang tidak diinginkan terhadap reproduksi ini dipertimbangkan sebagai konsekuensi sekunder non spesifik dari efek toksik lain dan dimana kejadian cukup memungkinkan untuk menempatkan bahan di kategori 1. untuk singkatnya, kekurangan pada studi dapat membuat kualitas bukti kurang meyakinkan dan dalam kategori 2 ini klasifikasinya lebih tepat.

Kategori 1A Kategori 1B Kategori 2 Kategori tambahan

untuk Efek pada/

melalui menyusui

Tidak ada simbol
Bahaya Bahaya Awas Tidak ada kata sinyal
Dapat merusak fertilitas atau janin Dapat merusak fertilitas atau janin Diduga merusak fertilitas atau janin Dapat membahayakan bayi yang menyusu

Efek toksik pada sistem reproduksi

Sistem reproduksi pria dapat dipengaruhi lewat mekanisme yang berbeda. Karenanya, banyak zat kimia mengganggu spermatogenesis dan menyebabkan atrofi testis. Zat kimia ini antara lain adalah zat pewarna makanan (misalnya Oil Yellow AB dan Oil Yellow OB) (Allmark., 1955)., pestida (mislanya DBCP), logam (misalnya tombal dan kadmium), dan pelarut organik. Berbagai jenis zat kimia lain dapat mempengaruhi testis, misalnya hormon steroid, zat alkilator, dan heksaklorofen (Dixon, 1986).

Selain berkurangnya hitung sperma akibat efek buruk pada spermatogenesis, suatu toksikan dapat membuat spermatozoa cacat, tidak aktif, atau bahkan mati. Contohnya, Metil metan Sulfonat (MMS) dan busulfan menyebabkan mutasi letal, tetapi MMS mempengaruhi spermatid dan spermatozoa sementara busulfan mempengaruhi sel prepermiogenik. Zat alkilator ini tampaknya menyerang DNA sel-sel ini yang memiliki mekanisme perbaikan berbeda (Lee, 1983).

Sewaktu disimpan dalam epididimis, spermatozoa dapat juga dipengaruhi toksikan. Contohnya, zat antifertilisitas pria α-klorohidrin menghambat kapasitas fertilisasi spermatozoa. Gosipol, zat lain yang sacara ekstensif dicoba di Cina, mungkin bekerja melalui mekanisme yang serupa (Dixon, 1986).

Testis diatur secara hormonal oleh sumbu hipotalamus-pituitari : FSH dibutuhkan dalam inisiasi spermatogenesis melalui produksi ABP dalam sel sertoli, sementara LH bekerja pada sel Leydig untuk mensintesis testoteron. Suatu toksikan dapat mempengaruhi proses reproduksi lewat kelenjar-kelenjar endokrin ini. Contohnya adalah DBCP (dibromokloropropoan), suatu fumigan yang digunakan dalam pertanian. Para pekerja yang terkena fumigan ini dapat mengalami azoopernia dan oligospermia, serta kadar LH dan FSH serum yang tinggi ( Miller dkk., 1987). Selain itu, ada laporan yang menyatakan bahwa penghambat kanal kalsium SDZ 200-110 dapat menginduksi tumor sel-Leydig pada tikus melalui peningkatan kadar gonadotropin dalam serum (Roberts dkk., 1989)

Selain itu, fungsi reproduksi berada di bawah pengaruh susunan saraf autonom. Karena itu, obat hipotensif Iosulazin, yang berkerja mengosongkan nor-epinefrin dan menyebabakan kemandulan reversibel pada tikus jantan, mungkin melalui berubahnya perilaku seksual dan gangguan ejakulasi ( Mesfin dkk., 1989). Guanetidin, obat hipotensif lain, dapat menyebabakan kemandulan dengan menyebabkan gangguan pemancaran mani (Palmer, 1976).

Berbagai jenis toksikan dapat mempengaruhi sistem reproduksi wanita (Dixon ,1986). Oosit dapat dirusak oleh obat-obatan misalnya Nitrogen Mustard dan Viblastin serta Hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) misalnya 3-metilkolantren dan benzo[a]piren. Sebelum pubertas oosit lebih resisten terhadap efek toksik bahan kimia, mungkin karena oosit ini dalam keadaan dorman.

Fungsi reproduksi lain juga dapat dipengaruhi. Holoperidol mencegah implantasi. DDT dan nikotin dapat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan konsepsi sehingga menurunkan berat janin (Fabro, 1978). Spironolakton dapat mengganggu ovulasi dan implantasi telur yang telah dibuahi; obat ini juga dapat menghambat perkembangan organ seks pada keturunannya ( Nagi dan Virgo, 1982).

PAH banyak ditemukan di lingkungan, termasuk asap rokok. Terdapat suatu korelasi antara banyaknya rokok yang diisap dan permulaan menopause; menopause merupakan indikasi habisnya oosit (Miller dkk., 1987)

Berikut adalah pengelompokkan efek dan toksikan reproduksi berdasarkan jenis kelaminnya.

  1. Efek pada pekerja perempuan

Efek yang mungkin timbul pada pekerja perempuan cukup bervariasi, seperti:

  1. Gangguan Menstruasi: benzena, kloropen,merkurianorganik, PCB, stirena, Toluena
  2. Aborsi atau infertil: gas anestesi, timbal, benzena, TCP, sitotoksik,etilnoksida, formaldehid.
  3. BBLR: karbonmonoksida, formaldehid, PCB,toluena, dan vinil klorida.
  4. Bayi lahir prematur: timbal,stres dan panas.
  5. Kematian ibu: Berilium dan Benzena
  6. Keganasan: DES atau virus Hepatitis B
  7. Efek pada pekerja laki-laki
    1. Libido dan impoten : kloropen, mangan (Mn), timbal anorganik dan organik, metil anorganik, toluena disodianat dan vinil klorida
    2. Tertis/Infertil: Kloropen, kepone, timbal organik atau organik dan dibromo kloropropan,
    3. Spermatotoksitas: karbaril, Cs2, sitotoksik, panas, radiasi, timbal.

Farmakokinetik

Sepanjang siklus reproduksi, toksikan dapat mengganggu berbagai kejadian dan proses dalam sistem reprodukresi. Toksikan bekerja langsung pada sistem reproduksi, konsepsi, atau secara tidak langsung lewat organ endokrin tertentu. Sebelum zat dapat bekerja secara langsung, zat itu harus mencapai organ sasaran dalam konsentrasi yang cukup tinggi. Konsentrasi ini dapat lebih tinggi atau lebih rendah konsentrasinya dalam darah. Contohnya DDT, konsentrasinya lebih tinggi 80 kali dalam ovarium daripada dalam plasma. Beberapa zat lain juga terbukti dalam menembus Oosit, saluran telur, cairan uterus, dan blastosis. (Fabro, 1987)

Berbeda dengan ovaium, testis dilindungi oleh sawar darah testis (blood testis barrier) (Lee dan Dixon, 1978). Sawar darah testis merupakan suatu kompleks sistem multisel yang terdiri atas sel mioid dan membran yang mengelililngi tubulus seminiferus dan sel Sertoli yang terjalin rapat dalam tubulus. Tetapi, sawar ini tidak seefektif sistem sawar darah otak. Laju penetrasi zat kimia ke dalam testis ditentukan oleh bobot molekulnya, koefisien partisinya, dan ciri-ciri ion.

Testis mengandung sistem enzim yang dapat mengaktifkan dan mendetoksikasi. Dua sistem ini masing-masing mampu meningkatkan dan menurunkan toksisitas bahan kimia. Selain itu, ada suatu sistem perbaikan DNA yang efisien dalam sel spermatogenik pra-meiosis, tetapi tidak ada dalam spermatid maupun sprematozoa. Karena itu, mutasi dapat diinduksi oleh zat-zat elektrofilik.

Studi Kasus Dampak Pestisida pada Sistem Reproduksi Perempuan

Peran Perempuan di Pertanian yang begitu besar membuat perempuan juga dominan dan paling beresiko terhadap dampak pestisida. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pangan Dunia di perserikatan bangsa-Bangsa (FAO), jumlah perempuan yang terlibat di sektor pertanian meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah tenaga kerja perempuan dalam sektor pertanian mengalami peningkatan hampir empat kali lipat dari tahun 1960 sebanyak 7,43 juta menjadi 20,82 juta orang pada tahun 2000 (Data FAO,2000). Meskipun FAO belum pernah mengeluarkan data jumlah petani terutama petani perempuan yang terkena dampak pestisida, namun ada beberapa studi terhadap kasus – kasus yang berkaitan dnegan dampak pestisida tersebut.

Dari beberapa studi yang dilakukan di beberapa Negara Asia juga ditegaskan bahwa perempuan adalah pekerja utama di pertanian dan perkebunan, yang berhubungan langsung dengan penggunaan pestisida dalam pekerjaannya sehari-hari. Seperti di Malaysia, perempuan terlibat di hampir 80 persen dari 50,000 dari pekerjaan umum dan terpaksa menjadi pekerja di perkebunan, dengan sebanyak 30,000 orang yang aktif sebagai penyemprot pestisida di sektor perkebunan sendiri. Para pekerja di Malaysia sangat beresiko terpapar pestisida karena hampir sehari-hari menggunakan pestisida seperti Paraquat, Methamidophos dan Monocrotophos. Akibatnya, petani perempuan dan perempuan buruh perkebunan banyak yang menderita penyakit dan mengalami gangguan kesehatan yang kronis dan akut. Seperti kuku jari tangan yang membusuk, gatal-gatal, perut mual dan nyeri, sakit punggung, pusing, nafas sesak, mata kabur/rabun, mudah marah, sakit kepala, sesak di dada, bengkak, nyeri otot, rasa gatal kulit dan infeksi kulit , bahkan timbulnya kanker.

Di India, pestisida menjadi penyebab utama yang telah membinasakan Hidup penduduk desa Kasargod, Kerala. Di temukan bahwa selama dua setengah dekade, pestisida jenis endosulfan telah disemprotkan dilahan perkebunan kacang-kacangan, pohon dan buah jambu monyet di beberapa desa daerah Kasargod yang dilakukan oleh perusahan perkebunan di Kerala. Akibatnya penduduk desa di sekitar perkebunan menderita berbagai macam penyakit dan menderita gangguan kesehatan akibat terpapar pestisida endosulfan. Pada umumnya adalah gangguan terhadap sistem reproduksi perempuan, seperti kanker rahim dan kanker payudara. Ditemukan fakta anak-anak yang dilahirkan mengalami cacat fisik, keterlambatan mental, serta kekebalan tubuh rendah. Selain gangguan terhadap kesehatan, tidak kurang kerusakan yang terjadi pada lingkungan yang berhasil dicatat adalah ditemukan ikan, lebah madu, kodok, dan ternak unggas ayam yang mati.

Sebuah penelitian lain di India memperkirakan bahwa lebih dari 1000 orang pekerja di perkebunan ini telah terpapar pestisida dalam kurun waktu antara agustus hingga desember 2001 dan lebih dari 500 orang berakibat kematian, ternyata lebih dari setengah dari pekerja tersebut adalah perempuan. Penggunaan pestisida besar-besaran di perkebunan produksi kapas di Warangal wilayah Andhra Pradesh, mengakibatkan masyarakat di daerah tersebut pelan-pelan telah terpapar oleh pestisida. Mereka mengeluh mengalami gangguan mual, gangguan usus, sakit dada, sulit bernafas, infeksi kulit, ganguan penglihatan dan ganguan hormonal. Menurut suatu survei yang terbaru, bekas pekerja IRRI mengalami gangguan serius seperti timbul bisul yang abdominal, broncitis, rapu tulang, radang paru-paru, kencing manis, kelumpuhan, gangguan jantung, radang hati, hipertensi, kegagalan ginjal, Parkinsons, asma dan kanker.

Studi lain yang dilakukan di Amerika,menunjukkan bahwa perempuan yang tinggal di daerah yang penggunaan pestisidanya tinggi, mempunyai resiko 1,9 sampai 2 kali lebih tinggi beresiko melahirkan bayi dalam keadaan cacat, dibandingkan perempuan yang bertempat tinggal di daerah yang tidak menggunakan pestisida (Emmy lucy,s. Terompet, 1993)

Racun kimia yang terbuat dari klorine dapat menyebabkan Kanker payudara, dan sebuah penelitian Greenpeace menemukan setiap tahun 50.000 perempuan Amerika meninggal dunia karena racun ini. Zat klorine yang umumnya ada pada pestisida seperti Dioksin, PCB dan DDT, senyawa ini mampu lama berakumulasi dalam tubuh manusia dan lingkungan. Pencemaran lingkungan oleh kimia ini berkaitan dengan kemandulan dan pertumbuhan yang tidak seimbang tidak saja pada manusia juga terhadap hewan dan tumbuhan.

Di Indonesia sendiri, menurut data pertanian tahun 2000 menyatakan 50,28% dari total jumlah tenaga kerja di sector pertanian atau sebesar 49,60 juta adalah perempuan, kenyataannya masih sedikit penelitian terhadap tingkat pencemaran yang ditimbulkan oleh pestisida baik itu pada proses pertanian maupun pada produk makanan. Sehingga hanya beberapa kasus keracunan pestisida maupun gangguan yang dialami yang disebabkan dampak pestisida yang terungkap.

Beberapa dari kasus gangguan terpapar pestisida yang ditemukan ternyata sebagian besar penderitanya adalah petani perempuan. Kasus keguguran kehamilan yang dialami oleh salah seorang petani dari Sumatera Barat akibat penggunaan pestisida Dursban yang dicampur dengan Atracol (Terompet No.5,1993), menunjukkan fakta bahwa pestisida sangat berbahaya bagi perempuan terutama bagi kesehatan reproduksinya. Pestisida dapat meracuni embrio bayi dalam kandungan yang sama berbahaya seperti meracuni ibunya, bahkan yang belih buruk lagi kerusakan dapat terjadi sebelum masa kehamilan. Berdasarkan hasil sebuah studi di universitas Sidney pada tahun 1996 menyatakan bahwa perempuan yang terkena pestisida masa awal kehamilan dapat mengakibatkan cacat pada bayi.

Kasus lain, hasil penelitian yang dilakukan oleh PAN Indonesia terhadap petani perempuan di desa Bukit dan desa Sampun, Berastagi Sumatera Utara, mengenai tingkat keracunan pestisida berdasarkan Indikator kelaziman aktivitas enzim Acetylcholinesterase (Ache) dalam plasma darah, ditemukan bahwa tingkat pencemaran yang terjadi pada petani perempuan tersebut sudah melampau batas yang ditetapkan oleh WHO (tidak kurang dari 70 % dari aktivitas normal).

Pengendalian

Berdasarkan Hierarki Pengendalian Bahaya di atas, maka dapat disusun contoh langkah pengendalian bahaya sebagai berikut:

  1. Eliminasi : Hindari pemakaian pestida untuk bahan-bahan makanan
  2. Substitusi: Mengganti pestisida/bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan reproduksi dengan bahan yang lebih aman
  3. Minimasi: Mengurangi pemakaian pestisida untuk bahan-bahan makanan.
  4. Pengendalian engineering: Menciptakan mesin yang aman untuk kesehatan reproduksi pada proses di pabrik
  5. Pengendalian administratif: Menciptakan undang-undang mengenai batas aman pemakaian bahan yang berbahaya bagi kesehatan reproduksi
  6. Alat Pelindung diri: Memakai masker agar toksikan tidak terhirup dan memakai sarung tangan ketika bekerja terhadap bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan reproduksi.

DAFTAR PUSTAKA

http://2.bp.blogspot.com/_MpuirfadFfA/SZbFbx3q2CI/AAAAAAAAAC8/JwAXAWswzxA/S600/anatomi_repro_wanita%5B1%5D.jpg (accessed mei 28, 2010).

http://okleqs.wordpress.com/2010/05/04/klasifikasi-dan-pelabelan-bahan-kimia-versi-ghs-bahaya-kesehatan/ (accessed Mei 28, 2010).

http://intanriani.files.wordpress.com/2009/03/anatomi-reproduksi-mnusia.jpg (accessed Mei 28, 2010).

Kariyan. “MULAILAH KATIGA DARI DIRI ANDA & KELUARGA.” wordpress. http://okleqs.wordpress.com/2010/05/04/klasifikasi-dan-pelabelan-bahan-kimia-versi-ghs-bahaya-kesehatan/ (accessed Mei 2010, 28).

Klaasen, Curtis D., Mary O. Amdur, and John Doull. Toxicology: The Basics science of poisons: Third Edition. New York: Macmillan Publishing Company, 1986.

Kurniawidjaja, L. Meily. Toksikologi Industri. Depok, 2009.

Lu, Frank C. Toksikologi dasar : asas, organ sasaean, dan penilaian resiko. Jakarta: Ui press, 1995.

“Majalah Konseling.” http://www.konseling.net/artikel_seks/dokter_boyke_dian_nugraha.htm (accessed Mei 2010, 28).

Iklan

3 thoughts on “Toksikologi Reproduksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s