Belajar dari Istanbul

Ini tulisan saya yang dimuat di Media Indonesia bulan November

BELAJAR DARI ISTANBUL

Indonesia  kini tengah mengalami fenomena cuaca yang ekstrem. Menurut BMKG, keadaan ini akan berlangsung hingga bulan Mei 2011. Indonesia juga harus bersiap akan ancaman La Nina hingga Pebruari 2011. Cuaca yang ekstrem dan La Nina ini tentu sangat mengkhawatirkan kota-kota besar di Indonesia yang belum memiliki sistem pengairan yang bagus.

 

Banjir dan segala akibat buruknya harus dapat kita tanggulangi bersama-sama, salah satu caranya adalah dengan menerapkan langkah-langkah yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Istanbul di Turki. Lima tahun yang lalu Kota Istanbul tak ubahnya seperti Kota Jakarta. Istanbul adalah kota yang memiliki tingkat kemacetan tinggi, bahkan karena kemacetannya sangat parah, banyak orang yang keluar dari mobilnya ketika macet untuk sekadar beristirahat dari kemacetan. Akan tetapi, Istanbul sekarang telah berubah tak hanya menjadi sekadar ibu kota sebuah negara, melainkan juga sebuah ibu kota benua. Istanbul lah kini yang menyandang predikat sebagai ibu kota budaya Eropa karena keberhasilannya melakukan perbaikan.

 

Perbaikan Kota Istanbul dimulai dari keinginan kuat dari para pejabat kota. Adalah Erdogan, wali kota Istanbul saat itu, yang memulai perbaikan Istanbul. Dia langsung turun tangan membersihkan selokan kotanya yang mampat dan bau serta mengajak penduduk untuk membersihkan, merapihkan dan menghias kota secara bersama. Sebanyak sejuta pohon ditanam di Istanbul untuk mempercantik kota sekaligus berfungsi sebagai alat untuk mencegah banjir. Pemerintah Kota Istanbul juga telah berhasil mengadakan sarana dan jalur transportasi baru untuk mencegah kemacetan. Jadilah, kini Kota Istanbul yang artistik, bebas dari banjir, serta bebas dari kemacetan.

 

Kota Istanbul memang dapat dijadikan contoh dalam merubah sebuah kota yang memiliki masalah banjir dan kemacetan hingga menjadi sebuah kota metropolis nan berbudaya. Semoga kota-kota besar di Indonesia ini bisa belajar dari Istanbul.

 

One thought on “Belajar dari Istanbul

  1. Ping-balik: Menulis Tri Dharma Mahasiswa di Koran « Di sini tempat daur ulang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s