Yang muda, yang ditipu, yang tidak sehat…

Ini tulisan saya yang ,alhamdulillah, berhasil menang lomba sayembara artikel di FKM UI

Yang muda, yang ditipu, yang tidak sehat…

Masa muda masa yang berapi-api

Yang maunya menang sendiri

Walau salah tak peduli…

(Rhoma Irama-Darah muda)

Bang Haji Rhoma Irama tampaknya telah sangat tepat menggambarkan tentang masa muda, masa di mana kita disebut dengan pemuda. Di masa inilah, kita mempunyai semangat yang membara, kita ingin mencoba semua yang ada, kita pun seakan mempunya tenaga yang tak ada habis-habisnya. Akan tetapi, di masa muda ini juga, seringkali egoisme muncul di kalangan pemuda dan membuat para pemuda merasa setiap langkah yang dilakukannya itu benar. Bahkan, banyak diantara mereka yang masih merasa benar, sekalipun mereka sedang ditipu. Mereka ditipu mentah-mentah dan yang mereka harus bayar untuk penipuan itu adalah kesehatan mereka.

Rokok adalah benda pertama yang harus disalahkan dalam penipuan besar-besaran ini. Kita semua sepakat bahwa rokok berbahaya untuk kesehatan. Rokok mengandung 4000 bahan kimia berbahaya dan 65 diantaranya adalah karsinogenik. Tiap tahun rokok menyebabkan kematian 5,4 juta orang (WHO,2004) atau rata-rata kematian setiap 5,8 detik. Di Indonesia, sekitar 60 juta penduduk merokok. Kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok tiap tahun mencapai 429.948 orang atau 1.172 orang per hari (Profil Tembakau Indonesia,2007). Konsumsi rokok tahun 2008 mencapai 240 miliar batang per hari (tempo interaktif,2009). Ini berarti 330 Miliar rupiah “dibakar” oleh perokok Indonesia dalam sehari!

Seharusnya dengan fakta-fakta tersebut, tidak ada satupun orang yang mau untuk merokok termasuk para pemuda. Akan tetapi, mereka ditipu oleh perusahaan-perusahaan rokok sehingga mereka mau untuk merokok. Perusahaan-perusahaan rokok telah menipu para pemuda dengan banyak mensponsori kegiatan kepemudaan seperti kompetisi olahraga dan seni. Perusahaan rokok juga telah banyak menciptakan kesan melalui iklan di media elektronik. Berdasarkan studi UHAMKA dan Komnas Anak pada tahun 2007 terdapat 99,7% anak melihat iklan rokok di televisi, 68% berkesan positif pada Iklan rokok, serta 50% lebih percaya diri seperti di iklan. Inilah yang menyebabkan peningkatan drastis dari jumlah perokok usia 15-19 tahun di Indonesia pada tahun 1995 yang “hanya” 7,1 % menjadi  17,3% di tahun 2004 ( Fact Sheet TCSC ISMKMI).

Kondom juga menipu para pemuda. Menurut kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Aceh Drs Nasrullah Jakfar MA, 55 % remaja di Indonesia pernah melakukan hubungan seks pra nikah (di luar nikah). Angka yang besar ini mendukung tingkat penyebaran HIV/AIDs pada kelompok penduduk yang masih muda antara 20-29 tahun dengan angka 49,7% (Komisi Penanggulangan AIDS nasional,2010). Angka ini juga mendukung tingkat aborsi yang menurut Jurnalis Uddin ,guru besar Universitas Yarsi, sebesar 2,5 juta per tahun dengan pelaku aborsi umumnya pada kisaran 20-29 tahun. Apa jawaban untuk masalah aids dan aborsi di kalangan pemuda ini? MDGs dengan jelas menjawab dalam target ke-7 di indikator ke-24, bahwasannya untuk mencegah AIDS adalah dengan kondom. Sementara iklan-iklan di televisi menjawab permasalahan untuk mencegah aborsi melalui pencegahan kehamilan adalah dengan kondom. Jawaban-jawaban yang menipu pemuda!

Faktanya, kondom tak bisa menjawab masalah mengenai AIDs dan aborsi di kalangan pemuda. Dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Disebutkan bahwa pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus pori-pori kondom. Serta hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Biran Affandi (2000) menyatakan bahwa tingkat kegagalan kondom dalam Keluarga Berencana mencapai 20 persen artinya 1 dari 5 kondom gagal mencegah sperma untuk sampai ke ovum. Angka itu cukup besar untuk menggambarkan efektifitas kondom yang rendah dalam pencegahan kehamilan. Jelaslah bahwa kondom telah menipu pemuda.

Rokok dan kondom adalah contoh kecil dari penipuan terhadap kaum muda. Masih banyak hal-hal lain yang sebenarnya berbahaya bagi kesehatan kaum muda, namun mereka tak menyadari. Kaum muda sebagai generasi penerus bangsa harus tetap sehat karena di tanganlah merekalah arah bangsa kelak. Oleh karena itu, kita sebagai kaum muda seharusnya bisa saling mengingatkan terhadap penipuan-penipuan yang dapat membahayakan kesehatan kaum muda. Maju terus kaum muda!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s