Bencana atau takdir?

Bencana atau takdir?

Bencana alam besar kembali menghantam manusia di Bumi ini.  Kini bencana itu berbentuk gempa,tsunami dan bocornya reaktor nuklir di Jepang. Sampai saat ini lebih dari 5000 orang telah meninggal dan lebih dari 9300 orang telah hilang. Untungnya, Jepang dan penduduknya sudah terlatih untuk melakukan mitigasi bencana yang selalu akrab dengan mereka. Mereka telah membuat berbagai macam teknologi untuk membuat peringatan dini bencana dan mereka juga telah melakukan pelatihan untuk merespon bencana alam yang mereka hadapi dengan tepat sehingga korban-korban bencana bisa diminimalisasi. Lalu, bagaimana dengan mitigasi bencana di Indonesia? Apa yang akan terjadi jika bencana di Jepang pindah ke Indonesia?

Penduduk Indonesia banyak yang percaya bahwa setiap bencana merupakan takdir yang tidak dapat diubah meskipun sebenarnya bencana itu dapat dicegah. Hal ini terbukti dengan penduduk Indonesia langsung menyalahkan manusia (human error) seperti pada kasus disalahkannya operator mesin atas bencana meledaknya tanki minyak, masinis atas tabrakan kereta, dan pegawai atas terbakarnya pabrik. Mereka tidak tahu bahwa di setiap human error yang terjadi, bisa jadi dipengaruhi atas sistem pekerjaan yang dibuat oleh manajemen, kondisi lapangan yang sulit ataupun karena kesalahan komunikasi antar pekerja. Karena menganggap bencana sebagai takdir, Penduduk Indonesia juga tidak melakukan apa-apa untuk mencegah bahaya. Buktinya, Pada saat tsunami Aceh yang menelan lebih dari 100.000 orang tewas banyak orang tidak memahami adanya bahaya tsunami dari air yang surut akibat gempa besar.

Kerugian yang timbul akibat perspektif bencana sebagai takdir yang tidak bisa dicegah sangatlah besar. Kerugian bencana yang berupa kerugian materil dan nyawa tentu akan semakin besar jika tidak ada tindakan pencegahan terhadap bencana. Kerugian yang paling terasa khususnya untuk perusahaan adalah tercemarnya nama baik perusahaan yang bisa jadi akan berakibat kepada penurunan nilai saham. Sedangkan, dampak bencana terhadap suatu daerah akan berakibat jangka panjang terhadap suatu daerah karena bencana akan mengganggu mental penduduk, merusak kegiatan ekonomi dan juga penurunan tingkat kepercayaan orang lain terhadap daerah tersebut.

Bencana bukanlah takdir yang tidak bisa dicegah. Kita bisa mencegahnya dengan tindakan-tindakan pencegahan dengan hierarki pengendalian bahaya yang meliputi eliminasi bahaya, penggantian bahan berbahaya, Standard Operating Procedure atau undang-undag penanggulangan bencana yang baik dan alat pelindung diri yang bekerja secara tepat. Kita juga bisa memperkecil akibat dari sebuah bencana dengan pelatihan yang diberikan sejak dini dan membuat Emergency Response System yang berjalan dengan baik dan komprehensif.

Bencana akan menimbulkan dampak yang tidak sedikit. Oleh karena itu, kita sebagai Penduduk Indonesia harus mempunyai persepsi bahwa bencana merupakan takdir yang bisa dicegah baik kejadiannya ataupun dampaknya dengan mitigasi bencana agar akibat dari bencana bisa dikurangi atau dihilangkan.

Iklan

2 thoughts on “Bencana atau takdir?

    • ada..dalam agama saya..ada 2 takdir..takdir mualak dan takdir mubram..
      takdir mualak adalah takdir yang bisa diubah dengan usaha manusia seperti kepintaran, tingkat ekonomi dll
      sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib satu kaum, sehingga mereka itu merubah nasibnya sendiri.” (QS. at Ra’d ayat 11)
      sedangkan takdir mubram adalah takdir yang memang sudah ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa..contohnya kematian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s