Cahaya-Nya

Cahaya-Nya

Dimana dicari pemuda kahfi..terasing demi kebenaran hakiki

Dimana jiwa pasukan badar berani..menoreh nama mulia perkasa abadi

Entah mengapa aku suka sekali nasyid yang berjudul generasi harapan dari Izzatul Islam. Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku selalu memencet tombol rewind di MP3 ku untuk kembali mendengarkan nasyid itu. Inilah lagu yang selalu menemaniku ketika aku sedang lelah, dan memang sekarang aku sangat lelah. Ingin segera kuraih bantal dalam kamar kosku dan sedikit rebahan untuk menghilangkan lelahku. Tapi, jalan yang harus ku lalui untuk meraih bantal itu masih cukup jauh.

Aku berjalan sendiri di kampus ini, sekitar 1 KM lagi aku akan mencapai kamar kos ku, cukup jauh memang. Aku angkat tanganku untuk bercermin di sebuah jam yang sengaja  diatur lebih cepat 15 menit, jarum pendek jam itu menunjukkan angka 10 dan jarum panjangnya menunjukkan angka 15, itu berarti sekarang adalah jam 22.00. Cukup malam bagi seorang mahasiswa untuk pulang, tapi tak cukup malam bagi seorang aktifis berada di kampus ini.

Jalan ini sudah sepi, tidak ada lagi mahasiswa yang lalu lalang kecuali beberapa mahasiswa tekhnik yang memang tugasnya banyak atau juga ada truk-truk beberapa kali berseliweran karena di kampusku sedang dibuat beberapa gedung baru. Ada juga tukang ojek yang  mangkal di sekitar halte berharap ada mahasiswa yang menggunakan jasanya. Di halte tersebut, biasanya ramai akan poster dan publikasi baik itu dari acara mahasiswa, lowongan mengajar hingga iklan pembalut, tetapi kini halte itu penuh akan nama-nama calon ketua BEM di kampus ini. Ah, di situ aku juga melihat banyak fotoku bersama temanku dengan tulisan calon ketua dan wakil ketua BEM kampus tahun 2010.

Sampai saat ini aku tak mengerti mengapa mereka memilihku untuk maju menjadi wakil ketua BEM di kampus. Mereka yang aku kenal adalah orang-orang yang paling sholeh dan orang-orang yang paling aktif memperjuangkan kebenaran dengan ikhlas dalam musyawarahnya memutuskan namaku untuk maju menjadi wakil ketua BEM se-kampus. Aku benar-benar tak mengerti. Aku memang sempat menjadi ketua BEM fakultas, mungkin kinerjaku yang baik membuat mereka memilihku. Tapi, aku sedikit ragu ketika aku ditunjuk oleh mereka maju dalam pemilihan raya kampus ini. Aku takut bila aku bukanlah orang yang shaleh, aku takut  bila aku bukanlah orang yang amanah, aku takut akan masa laluku mempengaruhi amanah ku kelak.

Aku dilahirkan dari keluarga pelaut, aku juga dilahirkan dalam keluarga Makassar. Kombinasi dari pelaut dan Makassar ini membuat aku dididik sebagai orang yang suka berdebat serta orang yang berjiwa petualang. Aku dibawa mereka selalui berpindah SD, SMP dan SMA dari Makassar, Jawa Timur hingga ke Tanjung Priok. Sejujurnya, aku tak pernah suka untuk berpindah-pindah sekolah seperti ini namun, aku sepenuhnya memahami bahwa ini adalah jalan satu-satunya agar keluarga kami tetap bersama dan mampu bertahan dalam hidup.

Mari kita mulai masa lalu hidupku dari sekolah dasar. Aku pertama kali sekolah pada sebuah sekolah dasar negeri di Sulawesi Tenggara. Aku tak pernah menyesali hidupku pada masa ini. Aku hidup dengan bahagia. Aku juga hidup dengan prestasi yang membanggakan, juara 1 Matematika se-Sulawesi Tenggara serta peringkat 10 besar dalam kelas selalu aku raih.

Aku melanjutkan sekolahku pada sebuah SMP di Sulawesi Tenggara. Prestasi yang membanggakan kembali aku ukir dalam masa ini. Aku pernah menjabat sebagai ketua OSIS, Juara 1 lomba bahasa Inggris, 3 besar juara cerdas cermat serta 3 besar tenis meja pada tingkat provinsi. Aku yakin, tiada satupun orang yang meragukan kemampuanku pada saat ini termasuk orang tuaku. Mereka bahkan memberikan izin kepadaku untuk membawa mobil ke SMP karena mereka menaruh kepercayaan yang teramat sangat kepadaku. Mereka seakan tidak menyadari bahwa di masa inilah sisi gelap hidupku muncul.

Sebagai ketua OSIS yang dihormati, aku malah merokok. Sebagai anak yang dipercaya orang tua, aku malah menjalin hubungan asmara dengan seorang gadis. Sungguh, aku merasa hidupku pada saat itu tidak berarti. Prestasi aku ukir dengan luar biasa, namun hal yang buruk pun juga aku lakukan. Aku seakan bebas melakukan hal yang aku suka karena prestasi-prestasi yang telah aku ukir membuat setiap orang menaruh hormat dan kepercayaan kepadaku. Aku masuk dalam masa kegelapanku sekarang.

Sisi gelapku bertambah gelap ketika aku masuk SMA. Di masa ini aku masih tetap melakukan kebiasaan ku ketika SMP, bahkan kini aku sudah masuk dalam dunia fashion dengan berbagai gemerlapnya. Semua hal gelap ini aku lakukan ketika aku masih mengukir prestasi. Ketika itu, aku berhasil meraih Juara 1 Matematika se- Kota Pare-pare, juara tenis meja, bahkan aku pun mengemban amanah sebagai Ketua Rohis. Prestasi-prestasi ini justru membuat aku semakin bebas bukan malah semakin alim karena orang tuaku mempercayakan kepadaku sepenuhnya apapun yang akan aku lakukan.

Aku bingung saat itu, aku depresi. Aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan. Tak ada yang bisa memberikanku pengingatan saat ini karena prestasi yang melangitkanku. Aku benci! Aku kesal! Aku ingin lari saja dari semua ini! Aku sadar aku bukanlah seorang siswa yang mereka kira. Sungguh aku ingin lari saja dari dunia ini.

Di tengah masalah seperti ini, orang tuaku malah meminta aku untuk pindah sekolah dari Pare-pare menuju Tanjung Priok. Entah apa yang ada dalam pikiran orang tuaku saat itu, yang pasti, aku merasa sangat depresi. Bayangkan saja, aku harus pindah ke Tanjung Priok di saat aku berada di bangku kelas 3 SMA. Tak ada pilihan lain bagiku selain mengikuti mereka pindah ke Tanjung Priok. Jadilah, aku seorang siswa pada sebuah SMA negeri  di Tanjung Priok.

Tak banyak perubahan yang aku alami saat di Tanjung Priok. Mungkin, aku hanya sedikit mengurangi jam bermainku karena aku harus banyak menyesuaikan diri di sini dan juga harus mempersiapkan Ujian Akhir Nasional. Meskipun begitu, aku masih cukup sering mengunjungi mall-mall untuk sekedar nongkrong dan melepas kepenatan. Masa SMA di Tanjung Priok yang hanya setahun ini aku manfaatkan secara maksimal, sehingga aku bisa lulus SPMB dan diterima Universitas terbaik di Indonesia.

Tahun pertama di kampus, penampilanku masih gaul, modis, dengan baju ketat dan sporty abis. Aku dengan jiwa dan pengalaman kepemimpinanku di masa SMP dan SMA langsung dinobatkan sebagai ketua angkatan di masa ospek. Seorang ketua angkatan yang mengurus sekitar 400 mahasiswa baru dan seorang ketua angkatan yang bertanggung jawab kepada seluruh mahasiswa baru tersebut.

Aku suka masuk kampus ini. Aku suka iklim kampus ini. Aku suka mahasiswa-mahasiswa kampus ini. Di kampus ini lah, aku mulai berubah. Aku dikelilingi oleh orang-orang shaleh. Mereka mencoba “mengeroyok” aku di tahun pertama ini. Mereka lah yang pertama kali mengenalkanku pada mentoring. Yah, meskipun pada awalnya aku menolak, tetapi mereka tetap mengajakku untuk ikut mentoring. Mentorku yang merupakan ketua rohis fakultas adalah orang yang paling memperhatikanku, aku merasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang tidak aku dapatkan di SMA. Aku sayang mereka.

Mentoring memberikanku banyak hal. Aku merasa nyaman karena di sini permasalahan yang aku punya dapat dibagi dan mendapatkan solusi secara islami, ibadahku pun meningkat karena selalu mendapat pengingatan dan yang paling penting adalah aku mendapatkan keluarga baru tempat di mana aku bisa saling menguatkan satu sama lain, tertawa bersama, menangis bersama, dan insya allah juga masuk surga bersama.

Alhamdulillah, dengan mentoring ini aku merasa banyak hal baik yang aku dapat secara cepat. Mereka bilang akselerasiku sungguh sangat luar biasa. Baru 3 bulan mentoring, aku langsung dijadikan aktivis da’wah yang menjadi ketua departemen. Tak bisa aku pungkiri, para saudara-saudara aku yang barulah yang selalu mendukungku ketika menjadi ketua departemen. Bahkan, mereka pun dengan sepenuh hati dan raga mendukungku ketika aku maju sebagai Ketua BEM di fakultas. Aku sadar bahwa cahaya-Nya mulai menerangiku ketika aku mengikuti mentoring.

Jalan ini masih sepi, mungkin akan sesepi jalanku jika aku tidak mengenal mentoring. Jam tanganku menunjukkan angka 22.30 yang berarti sekarang adalah pukul 22.15. Alhamdulillah, aku sudah sampai pintu kamar kos dengan selamat. Aku membuka pintu kamar kos, lalu segera mengambil wudhu, kemudian membaca Al Qur’an beberapa ayat. Aku kini siap istirahat, menyongsong masa depanku yang lebih baik bersama dengan teman-teman mentoring dan aktivis da’wah lainnya, aku sadar masa depan da’wah di kampus ini sebagian besar berada di tanganku sebagai calon wakil ketua BEM di kampus. Maka doakanlah saudaraku, agar aku bisa melalui amanah ini, agar Allah selalu memberikan cahaya-Nya untukku dan agar kelak da’wah di kampus bisa berjaya. Allahu akbar!

Selamat malam.

Depok, 29 desember 2012. Terinspirasi dari kisah hidup seorang senior. Ana uhububika fillah…

Agung Supriyadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s