KETIKA ROKOK MENJADI MAKANAN POKOK

Apa yang Anda pikirkan ketika Anda sehari saja tidak memakan nasi? Anda pasti akan lemas dan tidak berenergi. Bagaimana jika suatu saat Anda mengganti nasi dengan rokok sebagai makanan pokok? Apakah Anda mau?

Pertanyaan menggelitik di atas bukanlah pertanyaan retoris belaka, tetapi pertanyaan terhadap kenyataan yang mungkin akan terjadi. Menurut data dari profil tembakau Indonesia tahun 2008, belanja rokok di Indonesia menduduki peringkat kedua (10,4%) dibawah makanan pokok (11,3%). Nilai belanja rokok  ini  jauh lebih besar dari pengeluaran untuk makanan sehat seperti daging, telur dan susu yang rata-rata besarnya hanya 2%. Nilai belanja rokok ini juga jauh meninggalkan kebutuhan akan fasilitas kesehatan yang layak dan pendidikan untuk anak-anak perokok.

Data di atas menggambarkan bahwa Penduduk Indonesia telah menjadikan rokok sebagai kebutuhan pokok mereka sehari-hari. Mereka lebih memilih membeli rokok daripada membeli makanan yang bergizi untuk dirinya dan anak-anaknya. Mereka memilih menukar pelayanan kesehatan yang lebih baik dengan rokok yang sudah jelas-jelas membahayakan bagi kesehatan mereka. Mereka juga mengesampingkan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anaknya demi sepuntung rokok.

Rokok vs Kesehatan Masyarakat

Rokok jelas telah menjadi musuh kesehatan masyarakat dengan menciptakan siklus kesakitan masyarakat pada rakyat Indonesia. Perokok akan membeli rokok jauh lebih banyak daripada makanan bergizi untuk dirinya dan untuk keluarganya. Hal ini akan mengakibatkan diri perokok akan kekurangan gizi dan mudah terserang penyakit sehingga sangat mungkin untuk membuat anaknya akan menjadi seorang yang kekurangan gizi dan mudah terserang penyakit juga. Keadaan seperti ini bisa berulang di generasi selanjutnya sehingg akan menimbulkan siklus kesakitan masyarakat yang akan terus menerus terjadi.

Masyarakat tidak boleh disalahkan dalam pergaulan mereka dengan “musuh” kesehatan masyarakat ini (baca: rokok).  Masyarakat hanyalah korban dari beberapa pihak yang tidak peduli kesehatan masyarakat. Produsen rokok tepat sebagai pihak yang paling layak disebut tidak peduli kesehatan masyarakat karena merekalah yang mempublikasikan rokok di media dan acara mereka. Pemerintah juga bisa disebut sebagai pihak yang tidak peduli kesehatan masyarakat karena pemerintah gagal untuk membuat counter dari iklan-iklan rokok serta pemerintah juga tidak mau menaikkan harga cukai agar masyarakat tidak mampu membeli rokok. Mahasiswa juga patut dimasukkan dalam pihak tersebut karena mahasiswa masih kurang optimal dalam menggarap isu rokok ini bahkan banyak dari mahasiswa yang justru hidup dalam siklus kesakitan masyarakat yang diciptakan oleh rokok.

Bergerak bersama

Kita memerlukan sebuah tindakan bersama untuk mencegah agar rokok tidak benar-benar menjadi makanan pokok bagi masyarakat. Pemerintah bisa mengambil langkah signifikan pencegahan rokok menjadi makanan pokok melalui menaikkan cukai rokok. Tarif cukai rokok saat ini adalah 37% dari harga jual, bandingkan saja dengan standar global yang mematok angka 70% dari harga jual. Menurut Lembaga Demografi FE UI, kenaikan tarif cukai sampai dengan standar baku global dapat mencegah antara 2,5 juta sampai 5,9 juta kematian yang berhubungan dengan rokok. Para pengusaha di bidang media yang banyak mempromosikan rokok semestinya harus sadar karena usaha mereka bisa menyengsarakan masyarakat dengan pandangan yang salah dari rokok melalui iklan-iklan yang dibuat di media. Mahasiswa juga harus sadar bahwa merekalah yang punya potensi paling besar untuk “meyadarkan dan menggerakkan” pemerintah, pengusaha dan masyarakat untuk bergerak mencegah rokok menjadi makanan pokok.

Kita semua pasti setuju bahwa kita tidak ingin rokok menjadi makanan rakyat Indonesia kelak. Maka, kita harus bergerak secara bersama untuk menciptakan kesehatan masyarakat bagi rakyat miskin dan juga seluruh rakyat Indonesia.

Agung Supriyadi

Ketua BSO Nurani FKM UI 2011

 *alhamdulillah, artikel ini menang sayembara artikel di fakultas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s