Kepemimpinan Profetik Untuk Para Pemimpin

Kepemimpinan Profetik adalah kepemimpinan yang membebaskan penghambaan kepada manusia menjadi hanya kepada Allah saja. Kepemimpinan profetik ini ada berdasarkan Surat Ali Imran ayat 110,

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali Imran : 110)

Dari  surat Ali Imran ayat 110 tersebut, kita dapat mengambil 3 syarat kepemimpinan profetik. Syarat kepemimpinan profetik yang pertama adalah menyuruh kepada yang ma’ruf (kebaikan). Syarat ini mengacu pada konsep humanisasi atau memanusiakan manusia. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang suka akan kebaikan, mereka akan selalu mencari bentuk kebahagiaan dari kebaikan yang dia berikan dan dia dapatkan. Dengan konsep humanisasi, maka seorang pemimpin akan memberikan kebaikan kepada orang yang dipimpinnya, kemudian orang yang dipimpinnya akan merasa senang, dengan sendirinya orang itu akan merasa dimanusiakan oleh pemimpinnya.

Syarat yang kedua adalah mencegah dari yang munkar (keburukan). Syarat ini mengacu pada konsep liberalisasi atau pembebasan. Konsep mencegah dari keburukan ini adalah konsep yang lebih sulit daripada mengajak pada kebenaran karena untuk melakukan hal ini diperlukan suatu keberanian yang lebih daripada mengajak kepada kebaikan dan suatu uswah (contoh) dari para pencegah keburukannya, jangan sampai ketika kita melarang suatu keburukan, kita malah menjadi orang yang melalukan keburukan itu. Berdasarkan syarat ini, pemimpin haruslah mampu untuk membedakan mana yang baik dan buruk serta berani untuk mencegah keburukan dengan kekuasaannya. Bukankah sebaik-baik pencegah keburukan adalah kekuasaan?

Syarat yang ketiga adalah beriman kepada Allah. Syarat ini mengacu konsep transendensi. Konsep ini adalah manifestasi dari misi humanisasi dan liberalisasi yang diartikan sebagai kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas. Berdasarkan konsep ini, setiap pemimpin dalam menjalankan tugas menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar haruslah dibarengi dengan rasa ikhlas dan hanya mengharap akan ridho Allah SWT saja. Pemimpin tidak boleh seseorang yang riya’ dalam menjalankan tugasnya, tidak boleh mengharapkan uang dari perbuatan baiknya, apalagi mengharapkan jabatan lagi di tahun berikutnya. Rasa ikhlas ini penting karena rasa ikhlas ini dapat menjaga seorang pemimpin dari hal-hal yang bersifat duniawi.

Kepemimpinan profetik ini bisa didapat dari kisah-kisah yang ada di dalam Al Qur’an. Sepertiga isi dalam Al Qur’an adalah kisah-kisah, tentu Allah tidak menciptakan hal itu dengan sia-sia, pasti ada maksud di dalamnya. Kisah-kisah yang mendominasi dalam Al Qur’an itu hendaknya dapat kita ambil pelajaran, seperti kata Soekarno “Yang penting dapat api sejarahnya, bukan debu sejarahnya”. Kita harus dapat mengambil pelajaran pada kisah Nabi Yusuf yang mampu menjadi bendahara negara dan memubuat mesir makmur, kita harus dapat mengambil pelajaran bagaimana Nabi Ibrahim menjadi penentang masyarakat pada saat itu, kita juga harus dapat mengambil pelajaran bagaimana Nabi Sulaiman memerintah kerajaan hingga terciptanya kemakmuran yang luar biasa.

Kepemimpinan profetik itu seperti tugu-tugu yang tersebar di banyak daerah. Ada Tugu Monas di Jakarta, Tugu khatulistiwa di Pontianak ataupun tugu Ambarawa di Jawa Tengah. Masing-masing tugu sama menjulangnya, sama indahnya dan sama membanggakannya tetapi, tugu-tugu itu berbeda satu sama lain. Begitulah pemimpin, dia boleh menjulang, dia boleh indah dan dia boleh membanggakan, tetapi setiap pemimpin pasti punya ciri khas masing-masing. Tampaknya, H.O.S Tjokroaminoto paham benar akan masalah perbedaan ini, dia membuat satu asrama yang di dalamnya terdapat calon-calon pemimpin besar pada zamannya kelak. Di asramanya itu terdapat Soekarno, Alimin, Muso, Kartosoewiryo serta Agus Salim di mana mereka adalah tokoh-tokoh yang mempunya ideologi berbeda tetapi tetap mereka adalah pemimpin yang menjulang, yang indah dan yang membanggakan bagi “kaum”nya.

Sebagian besar kaum barat percaya bahwa peradaban itu bersifat linear, konstan, tetap, negara yang sudah maju akan tetap maju. Secara tidak langsung, mereka percaya bahwa kemajuan yang mereka raih akan tetap konstan dan tak tergantikan. Akan tetapi, kaum muslim harus percaya bahwa akan adanya perubahan pada peradaban akan adanya pergiliran kekuasaan yang nantinya akan kembali kepada kaum muslimin. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 140 :

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim (Ali Imran : 140)

 

Para pemimpin yang profetik juga harus percaya akan perubahan yang akan terjadi pada keadaan tempat dia berada dan orang-orang yang dipimpinnya. Semua ini karena perubahan adalah tanda kehidupan, tiada benda hidup yang tak berubah, demikian pula jika pemimpin profetik mau hidup maka pemimpin itu harus berubah. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah pada surat Al Anfaal ayat 53,

Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ( Al Anfaal : 53)

Mengenai perubahan ini, para pemimpin dapat mengambil contoh pada Rasulullah ketika membangun kembali kota Makkah. Saat itu, kaum muslimin telah melakukan fathul makkah dan telah kembali untuk menguasai kota Makkah, oleh karena itu Rasulullah perlu melakukan suatu perubahan terhadap kota Makkah agar sesuai dengan kondisi umat muslim. Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah adalah membangun masjid sebagai pusat dari kegiatan masyarakat dan dakwah untuk menciptakan kesatuan visi dan orientasi hidup. Ia lalu mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar( taakhi) agar terciptanya semangat persaudaraan dan solidaritas. Kemudian ia membangun kekuatan ekonomi kaum muslimin dengan membangun pasar kaum muslim yang terpisah dengan pasar Yahudi. Dan yang terakhir, ia membangun kedaulatan politik umat dengan perjanjian madinah.

Sungguh sangat mengherankan bagi kita kaum muslim, terutama yang ada di Indonesia, mengalami ketidakberdayaan dalam kondisi sekarang. Sumber daya alam kita banyak, sumber daya manusia kita bagus, tetapi mengapa masih tidak berdaya? Jawabannya adalah karena pemimpin-pemimpin yang mengolah sumber daya alam kita, pemimpin-pemimpin yang mengelola sumber daya manusia kita kebanyakan bukanlah pemimpin yang profetik. Oleh karena itu, mari bersama kita menjadi pemimpin yang profetik untuk indonesia yang lebih dan bermartabat serta islam yang lebih baik dan bermartabat. Wallahu’alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s