Antara Perang Badar dan Sri Sultan Hamengkubuwono

Inilah dua golongan (golongan mu’min dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.” (al hajj: 19)

Apa kaitan antara Perang Badar dan Sri Sultan Hamengkubuwono? Apakah ada hubungan signifikan antara keduanya?

Perang Badar adalah perang pertama umat Islam. Perang yang terjadi pada 2Hijriyah ini adalah perang yang terjadi ketika umat muslim sedang menjalankan Puasa Ramadhan untuk pertama kalinya. Perang ini terjadi dengan hanya melibatkan 313 pasukan muslim yang sebenarnya tak disiapkan untuk berperang untuk melawan 1000 pasukan kafir dengan kondisi yang lebih siap daripada pasukan muslim.

Sungguh amat berat kondisi umat Islam saat itu. Berperang dengan kondisi fisik yang tidak prima, jumlah yang kalah banyak dengan pasukan musuh ditambah lagi dengan persiapan yang kurang. Sungguh, tidak ada alasan yang bisa membuat pasukan muslim menang selain dari pertolongan Allah. Bahkan, karena gentingnya situasi di Badar akhirnya Rasulullah pun berdoa, sebuah doa yang “memaksa”.

 “Ya Allah, hamba memohon kepada Engkau akan janji dan perjanjian Engkau. Ya Allah, Jika Engkau berkehendak (membuat hamba kalah), Engkau tidak akan disembah setelah hari (peperangan) ini.’ (HR. Bukhari)

Allah pun menjawab doa itu.
(Ingatlah wahai Muhammad), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu Dia mengabulkan permohonanmu.” (QS Al-Anfal:9)

313 muslim dengan segala kekurangannya akhirnya mampu mengalahkan 1000 orang kafirn dan semua pejuang Badar akhirnya diberikan janji surge oleh Allah. Ini adalah sebuah ganjaran yang sangat setimpal atas keberanian,semangat dan kecintaan pada Allah dan Rasulullah Perang Badar.

Lalu,apa bagaimana dengan Sri Sultan Hamengkubuwono?

Jika Anda pernah ke Jogjakarta, pasti Anda akan menemukan fakta bahwa Sri Sultan sangatlah dicintai oleh warga Jogja bahkan lebih dicintai dari Presiden Republik Indonesia sekalipun. Bahkan, seorang dari Jogja pernah bercerita bahwa ada seorang Abdi Dalem Keraton yang mengabdikan hidupnya di Keraton meski dengan gaji sebesar Rp. 10.000 per bulan dan THR sebesar Rp. 7000. Angka gaji dan THR tersebut jelas tidak cukup untuk menafkahi diri masing-masing apalagi menafkahi keluarga. Para Abdi dalam lebih memilih “memakan cinta” daripada “memakan dari uang” mereka. Jangan heran juga ketika Mbah Marijan tetap keras kepala untuk menjaga Merapi. Hal itu ia lakukan karena ia sangat memegang amanah yang diberikan oleh Sri Sultan bahkan ia rela menukar nyawanya dengan amanah dari Sultan. Saya percaya, seandainya Sultan meminta Rakyat Jogja untuk memisahkan diri dari Indonesia maka semua Rakyat Jogja pasti akan mendukungnya.

Entah apa yang membuat para rakyat Jogjakarta sangat cinta pada Sultan. Bisa saja karena faktor sejarah di mana ketika masa penjajahan, Sultan dengan Keratonnya rela memberikan emasnya untuk jaminan Oeang Republik Indonesia.

Lantas, apa persamaannya?

Cinta lah persamaannya. Dengan cinta, para Mujahid Badar mampu mengalahkan pasukan kafir. Dengan cinta, para rakyat Jogjakarta patuh kepada Sri Sultan. Dengan cinta, Nabi Muhammad berhasil membuat pasukan Badar bertambah semangatnya. Dengan cinta juga, Sri Sultan Hamengkubowono mampu untuk mengorbankan egoism dirinya dan kedaerahannya untuk rakyatn Jogjakarta ataupun Indonesia.

Jika Umar bin Khatab pernah berkata

“Tidak ada Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa pemimpin dan tidak ada pemimpin tanpa ketaatan.”

Maka saya ingin menambahkan “tiada ketaatan tanpa rasa cinta”.

 

 

 

Iklan

One thought on “Antara Perang Badar dan Sri Sultan Hamengkubuwono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s