10 NURANI FKM

MENGHARAPKAN (CALON) TENAGA KESEHATAN INDONESIA

Sekelompok pekerja, alat-alat berat dan pagar-pagar kini telah terlihat mengelilingi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Mau tak mau masyarakat FKM UI harus bersiap menyambut kedatangan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. Sebuah area rumpun kesehatan yang terdiri dari Fakultas Ilmu Keperawatan, Fakultas Farmasi dan 3 fakultas yang disebutkan tadi telah siap untuk diwujudkan. Harapan baru untuk mengatasi beragam permasalahan kesehatan Indonesia bisa saja terwujud dari kebijakan ini.

Begitu banyak masalah kesehatan yang masih dimiliki oleh Indonesia. Insidens penyakit infeksi yang tinggi bersamaan dengan insidens penyakit non infeksi yang juga tinggi telah membuat sulitnya merumuskan kebijakan kesehatan yang tepat guna mengatasi 2 jenis penyakit ini. Ada lagi masalah sistem kesehatan Indonesia yang belum juga menguntungkan masyarakat kecil karena masih banyak masyarakat kecil yang tak mampu untuk mengakses ke pelayanan kesehatan, beruntung kini UU BPJS telah disahkan tetapi pengesahan ini belum berdampak luas di masyarakat. Selain itu, para tenaga kesehatan Indonesia kini seperti sedang menghadapi ancaman ASEAN Community 2015 yang memudahkan institusi kesehatan untuk memperkerjakan tenaga kesehatan asing sehingga lapangan kerja tenaga kesehatan di Indonesia bisa saja akan semakin sedikit.

Indonesia masih memiliki banyak masalah terkait dengan tenaga kesehatan. Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa, jumlah tenaga kesehatan Indonesia tak mampu untuk menjangkau populasi sebanyak itu. Menurut data dari Lancet (2011), Indonesia hanya memiliki 20 orang dokter, bidan atau perawat dalam 100.000 populasi. Hal ini sangat jauh bila dibandingkan dengan Fiipina yang mencapai 85 lebih dokter, bidan atau perawat dalam 100.000 populasi padahal Indonesia memiliki 1199 total institusi pendidikan kedokteran, keperawatan dan kebidanan pada tahun 2008 sementara Filipina hanya memiliki 824 pada tahun 2007. Persebaran tenaga kesehatan Indonesia pun tidak merata karena sebagian besar tenaga kesehatan Indonesia berada di Pulau Jawa. Egoisme profesi juga sering muncul dalam praktek kesehatan sehari-hari. Ada profesi kesehatan yang merasa lebih baik dari profesi kesehatan lainnya sehingga profesi itu seakan-akan menjadi “atasan” dari profesi kesehatan lain walaupun sebenarnya semua profesi kesehatan adalah setara. Kurangnya pendidikan interprofesi kesehatan juga menjadi masalah bagi tenaga kesehatan karena mereka akan mendapatkan ilmu yang sedikit untuk bekerja antar profesi kesehatan kelak di dalam masyarakat. Tanpa tenaga kesehatan dengan kualitas dan kuantitas yang cukup tidak mungkin Indonesia bisa menjadi lebih sehat.

Menjadi Tenaga Kesehatan Indonesia Masa Depan

 

Sebagai calon tenaga kesehatan Indonesia semestinya kita sadar bahwa tugas yang kita tangggung kelak tidaklah mudah. Wilayah Indonesia yang luas dari Sabang sampai Merauke, jumlah penduduk yang sangat besar, fasilitas yang kurang memadai dan persebaran tenaga kesehatan Indonesia yang tidak merata adalah tantangan kita di masa depan. Selayaknya, orientasi kita adalah orientasi pengabdian masyarakat bukan orientasi uang,harta, ataupun jabatan karena ilmu kesehatan yang kita pelajari terlalu hina kalau hanya digunakan untuk mendapatkan uang,harta ataupun jabatan. Kita juga harus menyadari bahwa kita tidak bertugas sendirian dalam menciptakan Indonesia yang lebih sehat, masih banyak tenaga kesehatan dari profesi lain yang juga berkeinginan untuk membuat Indonesia yang lebih sehat. Kita dan profesi kesehatan lain hanya melihat “kesehatan” dalam sisi yang berbeda namun tetap memiliki tujuan yang sama (Dwiprahasto,2011).

Pemerintah dan stakeholder lain juga harus mempersiapkan proses terbaik untuk menciptakan tenaga kesehatan yang berkualitas. Institusi pendidikan kesehatan harus diakreditasi secara kontinu untuk menjamin kualitasnya. Pemerintah juga dapat membuat sistem standarisasi,sertifikasi, ujian kompetensi untuk menjawab permasalahan tentang kualitas tenaga kesehatan Indonesia. Selain itu, pemerintah dan stakeholeder bisa memfasilitasi kerjasama antar profesi kesehatan di masa depan dengan kurikulum antar profesi, Kuliah Kerja Nyata (KKN) antar profesi kesehatan di masyarakat, dan berbagai macam cara lain.

Jalan menuju Gang Senggol masih ditutup sampai saat ini, pembangunan gedung baru untuk FK dan FKG UI pun masih dilanjutkan dengan segala kegaduhannya. Namun, hal itu bukanlah masalah jika nanti para calon tenaga kesehatan asal Universitas Indonesia bisa saling sinergis dan berkerja sama untuk menciptakan kualitas tenaga kesehatan yang lebih baik sehingga Indonesia yang lebih sehat bisa terwujud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s