Sakit Gigi di Malaysia

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Seharusnya, pesawat yang membawaku ke Kuala Lumpur untuk presentasi dalam 2nd Aceh Development International Conference (ADIC) pada 26-28 Maret 2012 sudah lepas landas, tapi saat ini pesawat itu belum juga mendarat.

90 menit berlalu, ruang tunggu di Bandara Soekarno Hatta semakin penuh oleh ratusan penumpang lain yang menunggu pesawat yang sama. Beberapa calon penumpang terlihat protes kepada penjaga gerbang,ada yang menunjukkan kekesalannya dengan menggurutu sendiri, ada juga yang mondar-mandir sambil terus  melirik jam tangan. Meskipun begitu, aku tetap menunggunya dengan setia, maklum ini adalah impianku selama bertahun-tahun.

Ketika sedang asyik menunggu, gigiku terasa sakit. Struktur gigi bagian bawahku memang tidak sempurna karena masih ada sebuah gigi susu yang belum juga tanggal. Akibatnya, ada sebuah rongga antara gigi geraham bawah kiriku. Rongga inilah yang kadang menjadi sumber dari sakit. Sebuah sakit yang benar-benar membuat kepala menjadi pusing dan jantung berdegup dengan lebih keras. Benarlah apa kata seorang pendangdut, “lebih baik sakit hati daripada sakit gigi”.

Karena jadwal sakit gigi yang tak menentu, aku pun tidak membawa persediaan obat warung yang biasanya aku minum ketika sakit gigi. Aku hanya membawa odol,sikat gigi dan obat kumurku untuk menjaga agar gigiku tetap bersih. Sejenak, aku dapat meredam sakit gigiku di ruang tunggu kedatangan pesawat dengan gosok gigi. Setidaknya, aku tidak merasa sakit gigi lagi sampai menjelang pesawat lepas landas.

Pesawat yang aku tumpangi sudah mengangkasa. Di luar terlihat laut biru menghampar luas, kapal-kapal tanker besar terlihat hanya sebesar semut, sesekali pemandangan tertutup oleh awan-awan putih yang seperti kapuk kasur di kamar asramaku. Namun, aku tidak bisa menikmati itu semua. Aku terus memegang pipi kiri sambil menahan sakit gigi yang teramat sangat. Itulah sakit gigi terburuk yang pernah aku alami seumur hidupku. 2 jam di pesawat benar-benar seperti neraka bagiku.

Burung besi Boeing 737 itu mendarat di Kuala lumpur dengan sempurna. Segala puji bagi Allah, sakit gigiku pun berkurang. Timbul pertanyaan di benakku, apakah ada korelasi antara altitude (ketinggian) dengan sakit gigi? Sebuah pertanyaan yang mungkin layak untuk menjadi topik skripsi mahasiswa kedokteran gigi.

Dari bandara, aku pergi ke KL Sentral untuk menemui para mahasiswa Universiti Islam Antarbangsa Malaysia (UIAM) yang akan mengantarkanku ke tempat berlangsungnya konferensi. Lalu lintas keluar dari bandara ternyata sangat padat, tak begitu jauh beda dengan Jakarta. 1 Jam jarak normal dari bandara ke KL sentral harus ditempuh hingga 2 kali lipatnya. Ekspektasiku terhadap Kuala Lumpur yang tinggi spontan turun.

Begitu sampai di KL Sentral, hal pertama yang aku cari bukanlah para mahasiswa UIAM tapi apotik untuk membeli obat sakit gigi. Namun, tak seorang warga Malaysia pun yang tahu keberadaan apotik. Aku pun sempat merasa putus asa, mungkin selama 3 hari aku berada di Kuala Lumpur, aku tidak akan bertemu dengan obat sakit gigi.

Merasa tak ada harapan lagi, aku langsung menemui para mahasiswa UIAM yang telah lama menunggu ku. Ternyata, mereka adalah mahasiswa  berasal dari Indonesia yang sedang mengambil berbagai macam jurusan di UIAM. Salah seorang dari mereka melihat aku memegangi pipiku.

Ngapain kamu megangin pipi?”, kata mahasiswa itu.

“Sakit gigi. Dari tadi nyari apotik buat beli obat gak ketemu ni”, kataku

“Lah, itu apa?” sambil menunjuk ke sebuah toko bertuliskan “Farmasi”.

Takjub aku melihat sebuah toko obat yang cukup lengkap. Toko obat itu seakan bercahaya dan tersenyum ke arahku. Aku pun bergegas pergi ke toko itu dan langsung menemukan obat sakit gigi. Kini, aku mengerti kenapa para warga Malaysia tadi tidak mengetahui adanya apotik. Nama “apotik” itu benar-benar tidak ada di Malaysia, yang ada adalah “farmasi”. Hari pertamaku di Kuala Lumpur pun terasa lebih baik dengan obat sakit gigi yang aku beli di “farmasi” KL Sentral.

Hari Kedua

Obat sakit gigi yang aku beli di KL Sentral ternyata tak seampuh obat sakit gigi yang dapat dibeli di warung samping rumahku. Jadilah aku masih merasa sakit gigi, meskipun tidak begitu parah, ketika aku dalam perjalanan berangkat ke UIAM, tempat konferensi tersebut.

Suasana macet yang aku temui ketika keluar dari bandara ternyata sangat berbeda dengan lalu lintas yang bersih dan rapih di sebagian besar dari Kota Kuala Lumpur. Di sini tidak ada angkot dan ojek. Penduduk di sini lebih sering menggunakan transportasi masal untuk berpergian.

Sambil menahan sakit gigi, aku menumpang RapidKL untuk pergi ke UIAM. RapidKL adalah salah satu transportasi masal berupa kereta rel ganda yang dibangun di atas fly over. Kereta ini hanya terdiri tidak lebih dari 5 gerbong saja tetapi memiliki frekuensi kedatangan kereta ini yang cukup tinggi. Tidak ada petugas karcis di sini, yang ada hanyalah mesin-mesin yang membuat pelayanan serba otomatis dan cepat. Setiap stasiun RapidKL pun cukup bersih begitupula dengan keretanya. Hal yang paling ajaib dari kereta ini adalah tidak adanya masinis dan kondektur di dalam kereta. Semua kereta berjalan secara otomatis, berhenti secara otomatis dan membuka pintu di setiap stasiun secara tepat dengan otomatis.

Image

Papan Info

Aku pun tiba di UIAM. Sebuah kampus yang benar-benar “internasional” seperti namanya, tidak seperti beberapa institusi pendidikan di Indonesia yang menyandang nama internasional  hanya untuk mencari penghasilan saja. Di sini berlalu-lalang beraneka macam etnis, ada etnis Melayu yang berkulit sawo matang, ada juga dari Asia Timur yang bermata sipit, ada dari Timur Tengah yang berhidung mancung, bangsa Arya dari Eropa yang bermata biru dan bahkan ada juga saudaraku sesama Muslim yang berkulit gelap dari Afrika. Warna-warni ras ini dipadu hanya untuk satu tujuan: belajar Islam. Sungguh indah suasana di sini namun tetap saja sakit gigiku belum juga sembuh.

Image

Atap Biru UIAM

Sebenarnya, aku sedih ketika konferensi tentang ide-ide untuk membangun Aceh yang lebih baik ini dilaksanakan di Malaysia padahal Aceh masih termasuk wilayah Indonesia. Para Mahasiswa Aceh yang menjadi penggagas acara ini mungkin saja merasa lebih diperhatikan oleh Malaysia daripada Indonesia.

Hari Ketiga

Hari ini adalah hari ini ketika aku akan mempresentasikan ideku tentang Sistem Informasi Geografis untuk membuat desain Aceh yang lebih aman dari bencana. Gigiku masih juga sakit hari ini. 4 butir obat sakit gigi, dosis maksimal, terpaksa aku minum. Aku enggan merasa sakit gigi ketika aku presentasi.

Sebenarnya aku sedikit gugup dalam melakukan presentasi ini karena ini merupakan pengalaman pertamaku menjadi pembicara di level internasional. Aku bertambah gugup ketika bahan presentasiku tertinggal di Jakarta. Untungnya, teman-teman Asrama PPSDMS ku bermurah hati untuk mengirimkannya ke Kuala Lumpur dengan email.

Presentasi pun berjalan tampa hambatan. Aku tampaknya menyampaikan materi yang cukup menarik. Buktinya, presentasi dariku ini yang paling banyak mendapatkan tanggapan dari peserta baik berupa pertanyaan, opini ataupun sharing tentang kondisi terkini Sistem Informasi Geografis.

Hari Keempat

Sakit gigiku hari ini menjadi lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Mungkin karena jadwalku kali ini adalah pelesir di sekitar Kuala Lumpur sehingga aku bisa sedikit melupakan sakit gigiku. Pertama, aku pergi mengunjungi Kuala Lumpur City Center (KLCC). Di sinilah tempat menara kembar Petronas yang menjulang sangat tinggi. Karena sangat tinggi, kedua menara ini hampir selalu bisa terlihat dari semua jalur yang dilalui oleh RapidKL. Menara inilah yang menjadi icon Malaysia sekaligus menjadi simbol kedigdayaan Petronas, perusahaan energi Malaysia, yang telah mendunia.

Kunjunganku berlanjut ke Masjid Persemakmuran. Masjid ini terletak di pusat pemerintahan Kerajaan Malaysia. Sebuah masjid yang secara ukuran tidaklah lebih besar dari Masjid Ukhuwah Islamiyah yang ada di UI tapi memiliki halaman yang sangat luas. Kedatangan aku di sana bertepatan juga dengan kedatangan para turis berkulit kuning. Banyak perempuan di antara mereka yang ingin masuk masjid ini meskipun mereka berpakaian sangat minim. Ternyata, masjid ini melarang para kaum hawa yang memamerkan aurat mereka di area masjid. Meskipun begitu, masjid ini menyediakan jubah khusus untuk para pengunjung yang memakai pakaian tidak menutupi aurat. Mereka pun dengan leluasa pergi ke sudut-sudut masjid didampingi oleh seorang guide. Tampak eskpresi keceriaan muncul dari wajah mereka. Mereka pun tampak sangat mengagumi masjid ini. Ukurannya yang kecil ternyata tidak menghalanginya untuk menjadi bangunan sakral tak hanya bagi muslim tapi juga non-muslim.

Pelesiranku tak hanya berhenti sampai Masjid Persemakmuran saja. Aku sempat pergi ke restauran makanan India di sini. Aku memesan “murtabak”, sejenis martabak telur dengan rasa rempah yang sangat terasa, dan juga bakpao ayam yang berisi potongan daging ayam lezat. Tak ketinggalan pula Teh Tarik segar dari perpaduan antara teh dan susu.

Hari kelima

Ini hari terakhir ku di Malaysia. Barang-barang sudah kurapihkan dari hotel dan aku pun siap berangkat. Aku juga tak lupa untuk meminum dosis maksimal obat sakit gigi, aku khawatir sakit gigiku kambuh kembali seperti pada keberangkatanku ke Kuala Lumpur.

Ternyata kekhawatiranku benar-benar terjadi. Sakit gigiku kambuh kembali lagi. Gusiku seperti ditusuk-tusuk paku, kepalaku seperti dipukul-pukul oleh palu, benar-benar sakit. Sakit gigi ini mereda setelah 2 jam kemudian aku mendarat di Soekarno-Hatta

Meskipun jarak dari bandara ke rumahku lebih pendek dari jarak Jakarta-Kuala Lumpur, waktu yang dihabiskan untuk pulang ke rumahku jauh lebih banyak. 5 Jam kuhabiskan hanya untuk kembali ke rumahku di Bekasi. Sesampainya di rumah, aku langsung meminum obat sakit gigi dari warung. Ajaib, 5 menit kemudian, sakit gigiku sudah tidak terasa lagi. Obat gigi Indonesia lebih ampuh daripada obat gigi dari Malaysia ternyata, sungguh membanggakan!

Image

Narsis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s