Impian di Kabupaten Bekasi (1-Transportasi)

Sebagai sebuah kabupaten yang sedang berkembang pesat, transportasi menjadi hal yang sangat penting untuk semakin menggerakkan roda perekonomian Kabupaten Bekasi. Industri-industri di Kabupaten Bekasi sangat bergantung  akan sarana transportasi Kabupaten Bekasi untuk menunjang kecepatan distribusi barang-barangnya ke daerah lain. Para pekerja pun sangat bergantung pada fasilitas transportasi Kabupaten Bekasi untuk sampai ke tempat kerjanya masing-masing sesuai dengan jadwal.

Namun, kini Kabupaten Bekasi banyak mengalami permasalahan terkait dengan transportasi. Kemacetan Parah sudah lama terjadi dari Asrama Brigif sampai Warung Bongkok karena proses pengecoran jalan yang tak kunjung selesai. Motor-motor harus berjuang “menghadapi” truk-truk besar di jalan. Bis-bis dari Jakarta yang sering terjebak kemacetan di pagi hari ketika keluar tol Cikarang atau juga Truk-truk pengangkut barang yang harus rela membuang-buang solar mereka karena terjebak selama 3 jam di Kabupaten Bekasi.

Sebagai seorang penduduk Kabupaten Bekasi yang sangat cinta akan Kabupatennya, Saya akan memaparkan beberapa rencana Kabupaten Bekasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan transportasi.

  1. Perbaikan Jalan CBL

Jalan CBL (Cikarang Bekasi Laut), seperti namanya, merupakan jalan yang menghubungkan Cikarang sebagai Ibu Kota Kabupaten Bekasi ke Wilayah Bekasi Kota melewati Kecamatan Tambun Utara.

 

Jalan ini sebenarnya sangat strategis karena dapat menghubungkan wilayah utara Jakarta seperti Cilincing, melewati Pulogadung, Kota Bekasi, Tambun Utara, Tambelang dan berujung tepat di jantung Cikarang. Jalur ini bisa dijadikan jalur alternatif untuk mengalihkan kepadatan  Jalur Pantura di Kabupaten Bekasi yang menjadi hulu dan penghubung jalan-jalan akses tol serta jalan akses industri. Jalur ini juga bisa mengembangkan pertanian di daerah Kabupaten Bekasi sebelah Utara yang sering terkendala masalah transportasi.

 

Namun, peluang ini belum dimanfaatkan karena sebagian besar badan Jalan CBL rusak bahkan ada yang aspalnya terkelupas semua sehingga hanya menyisakan tanah becek.

jjalan

Keterangan: warana MERAH adalah jalan CBL, warna HIJAU adalah jalan utama Kabupaten Bekasi (Jalan Cikaran Bekasi)

 

  1. Pengaturan Jam Lalu Lintas Truk

Sebagai sebuah Kabupaten dengan banyak daerah industri, Jalan-jalan Kabupaten Bekasi sangat wajar apabila banyak dilintasi oleh truk-truk besar untuk distribusi bahan baku ataupun produk jadi dari perusahaan-perusahaan yang ada di daerah industri tersebut.

 

Namun, truk-truk tersebut tak jarang menjadi sumber kemacetan di Jalan Kabupaten Bekasi. Karena berukuran besar, truk-truk tersebut akan menutup sebagian besar  badan jalan yang tak cukup besar di Kabupaten Bekasi, truk-truk tersebut juga sulit untuk melakukan putar balik arah sehingga memacetkan arus lalu lintas di belakangnya. Ada juga truk-truk yang bermuatan berat sehingga terpaksa harus menggunakan kecepatan yang rendah. Beberapa kali juga ada truk yang mogok atau terjerembab di pinggir jalan sehingga menimbulkan macet parah.

 

Keberadaan truk-truk ini sangat berkontribusi terhadap kemacetan yang terjadi pada jam-jam sibuk. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Bekasi seharusnya membatasi jam operasional truk di wilayah Kabupaten Bekasi.

 

macettttttttt

Kebijakan pembatasan operasional truk mestinya diberlakukan untuk melarang truk melintas di jalan-jalan arteri Kabupaten Bekasi pada jam sibuk mulai dari jam  6.30-8.30 dan jam 16.30-18.30.  Kebijakan pembatasan jam operasional truk merupakan kebijakan yang adil untuk menjadikan arus lalu lintas manusia dengan menggunakan motor,mobil atau bus menjadi lancar tanpa melarang secara total arus lalu lintas barang. Kebijakan ini juga sudah cukup efektif diterapkan di kota besar lain seperti Jakarta.

 

  1. Pembangunan Jalur  KRL hingga Cikarang

Cikarang merupakan ibu kota Kabupaten Bekasi dan sekaligus sebagai pusat perekonomian Kabupaten Bekasi. Maka, tak heran jika banyak pekerja dari dalam atau luar Kabupaten Bekasi berlomba-lomba untuk mencapai ataupun keluar dari Cikarang pada jam-jam sibuk. Namun, para pekerja ini tak jarang justru terjebak oleh kemacetan pada jalan-jalan Kabupaten Bekasi di jam-jam sibuk.

 

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pembangunan Jalur KRL hingga ke Stasiun Cikarang merupakan salah satu alternatif yang sangat menjanjikan.  Dengan adanya Jalur KRL hingga ke Stasiun Cikarang, para pekerja dari Jakarta ke Cikarang ataupun sebaliknya dapat dengan mudah dan cepat ke tempat tujuan dengan menggunakan KRL yang selama ini hanya sampai Stasiun Bekasi saja. Kebijakan ini tentunya dapat mengurangi kepadatan di Jalan-jalan Kabupaten Bekasi.

krl

Selain aspek kemudahan mobilitas, Pembangunan Jalur KRL hingga Cikarang juga merevitalisasi peran Stasiun Tambun yang mempunyai aspek historis tinggi karena usianya, luasnya, desainnya dan letaknya persis di belakang Gedung Juang Tambun yang merupakan kesatuan komplek peninggalan Belanda.

 

Saat ini, pembangunan jalur KRL ke Cikarang sudah terintegerasi dalam rencana pembangunan double-double track yang menjadi proyek PT KAI. Elektrifikasi perkeretaapian antara Bekasi-Cikarang sepanjang 17 Km bahkan telah selesai 10 Oktober 2012 lalu.

 

  1. Pembangunan jalan TOL dan Pelabuhan

Sebagai kota industri yang terus berkembang, Kabupaten Bekasi membutuhkan akses yang cepat untuk arus bahan-bahan baku industri dan pengiriman barang-barang hasil industri ke seluruh daerah di Indonesia atau bahkan di luar negeri.

 

Akses tersebut bisa terbuka jika ada jaringan pelabuhan yang memadai. Namun, selama ini industri-industri yang ada di Bekasi hanya mempunyai akses ke Pelabuhan Tanjung Priuk ataupun Merak yang sudah terlalu padat barang dan jaraknya terlalu jauh serta banyak titik-titik kemacetan yang akan dilalui.

 

Selayaknya, memang pemerintah harus membuat pelabuhan baru untuk daerah timur Jakarta seperti Bekasi dan Karawang yang menjadi daerah industri yang tumbuh pesat. Proyek pembuatan pelabuhan baru di timur Jakarta pun sudah dirancang dengan pilihan 2 tempat: bekasi atau Karawang, dan kabarnya pilihan jatuh ke Karawang.

 

Meskipun pada akhirnya tidak dibangun di Kabupaten Bekasi, namun Pemda Kabupaten Bekasi seharusnya menjamin akses  dan membantu pemerintah pusat dalam berbagai hal dalam pembuatan pelabuhan tersebut agar kelak industri Kabupaten Bekasi bisa lebih berkembang dan perekonomian Kabupaten Bekasi bisa meningkat.

 

  1. Pembuatan Fly Over baru

Saat ini, Kabupaten Bekasi memiliki 3 pintu tol yang berada di daerah industri: Cikarang, Cibitung dan 1 pintu tol baru yaitu Pintul tol Cibuntu. Berada di jalan-jalan akses tol tersebut pada saat jam sibuk adalah mimpi buruk, karena panjangnya kemacetan dan semrawut lalu lintas.

 

Di jalan akses tol Cikarang, selalu mengalami kemacetan panjang dari kawasan Jababeka ke pintu tol Cikarang. Sama halnya dengan Jalan Akses tol Cibitung yang tersendat di pertemuan jalan tersebut dengan jalan kalimalang. Pintu tol Cibitung dari arah MM 2100 pun sering mengalami kemacetan panjang akibat besarnya volume kendaraan. Jika hal ini dibiarkan terus maka akan mengakibatkan kemacetan menjalar ke jalan-jalan arteri Kabupaten Bekasi.

 

Tak hanya di jalan akses tol yang mengalami kemacetan, tapi juga di jalan-jalan arteri yang padat. Contohnya :  sepanjang Jalan Kalimalang antara Cibitung dan Cikarang, pertemuan antara Jalan Kalimalang dan Jalan Setu, depan pabrik di Jalan Kalimalang area Grand Wisata, pertigaan Warung Bongkok, depan Pasar Cibitung dan Pasar Tambun. Bahkan, di kawasan Industri MM2100 terdapat Fly Over sempit yang hanya bisa dipakai 1 jalur bis atau truk saja sehingga kemacetan pun mengular panjang ketika pagi hari.

 

Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi sebaiknya melakukan inisiatif untuk membenahi hal tersebut dengan menambah jalan fly over di titik-titik rawan kemacetan.

  1. Pembenahan Angkot

Angkot Kabupaten Bekasi biasanya disebut dengan Koasi (Koperasi Angkutan Bekasi). Ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar, Koasi selalu penuh setiap pagi saya berangkat sekolah sehingga butuh perjuangan yang berat untuk mendapatkan tumpangan di Koasi. Tak jarang, saya gantung (berdiri di injakan luar Koasi) dan juga telat sampai kelas.

 

Tapi sekarang, Koasi-koasi itu sudah sepi penumpang bahkan ketika jam-jam sibuk meskipun kini penduduk Kabupaten Bekasi kian bertambah. Penyebabnya mungkin saja para penumpang sudah beralih ke sepeda motor yang lebih praktis, cepat dan murah atau mungkin saja karena mobil Koasi terlalu banyak sekarang akibat dari keinginan Juragan Koasi yang ingin menarik lebih banyak setoran dari para Supir Koasi. Memang, beberapa Rute  menjadi terlalu banyak diisi oleh Koasi, misalnya saja Rute Koasi 36 yang setiap 1 menit akan ada 5 Koasi yang berjalan sangat dekat.

29Angkot7

Hal ini juga diperparah dengan semakin sempitnya rute Koasi. Koasi 36 misalnya, mereka dalam trayek sebenarnya harus mengantarkan penumpang dengan Rute CBL – terminal Bekasi, namun kini mereka banyak yang menurunkan penumpang di Pasar Cibitung saja. Atau misalnya Koasi 39 yang melayani rute Kalimalang sampai tridaya, yang kini hanya melayani rute di Kalimalang saja.

 

Pemerintah Kabupaten Bekasi sudah sepatutnya menyusun ulang rute-rute serta komposisi Koasi di Kabupaten Bekasi agar masyarakat lebih banyak menggunakan  Koasi serta Supir Koasi yang lebih sejahtera.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s